BPBD Kota Batu Siaga Penuh Hadapi Karhutla, Posko 24 Jam dan Pendakian Diperketat

1889396_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau 2026.

 

Langkah mitigasi diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor hingga pengawasan aktivitas masyarakat di kawasan hutan dan jalur pendakian.

Kepala BPBD Kota Batu, Suwoko, mengatakan pihaknya tidak hanya mengandalkan penanganan ketika kebakaran terjadi, tetapi memperkuat pencegahan sejak munculnya potensi titik api.

“Mitigasi kita lakukan bersama-sama, mulai dari BPBD, TNI, Polri, relawan, sampai pengelola Tahura. Yang paling penting adalah bagaimana mencegah api muncul dan berkembang menjadi kebakaran besar,” ujar Suwoko.

Menurutnya, BPBD telah mendatangi dan memberikan edukasi kepada pengelola hutan produksi maupun hutan sosial di lebih dari 15 titik.

 

Aktivitas pengolahan lahan untuk kepentingan ekonomi tetap diperbolehkan, namun masyarakat diminta tidak sembarangan membakar sisa pertanian.

Pembakaran harus dilakukan jauh dari permukiman maupun lokasi yang berpotensi menjadi jalur rambatan api serta berada dalam pengawasan ketat.

Suwoko menegaskan, faktor manusia masih menjadi salah satu ancaman terbesar dalam kejadian Karhutla.

 

Kelalaian seperti membuang puntung rokok maupun meninggalkan sisa pembakaran tanpa pengawasan dapat memicu kebakaran di tengah kondisi vegetasi yang kering.

Titik Api Dipantau Ketat

Kesiapsiagaan tersebut juga diperkuat setelah sejumlah indikasi titik api sempat muncul di kawasan pegunungan Kota Batu dan sekitarnya.

Di lereng Gunung Welirang, titik api yang sempat terindikasi berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari melalui kerja tim gabungan.

Sementara titik api di kawasan Gunung Anjasmoro dan Gunung Biru juga berhasil diredam dengan cepat sehingga tidak berkembang dan merambat ke kawasan yang lebih luas.

Untuk kawasan Gunung Arjuno, BPBD memastikan saat ini tidak terdapat titik api.

“Untuk kondisi Gunung Arjuno saat ini nihil titik api. Tetapi kewaspadaan tetap kita tingkatkan karena kondisi musim kemarau sangat memungkinkan api cepat membesar apabila terjadi kelalaian,” katanya.

Posko BPBD Siaga 24 Jam

Sebagai bagian dari pengendalian Karhutla, BPBD Kota Batu menyiagakan posko utama selama 24 jam. Pemantauan dilakukan untuk mempercepat respons apabila terdapat laporan maupun indikasi kebakaran.

Pengawasan juga diterapkan di sejumlah jalur pendakian, termasuk kawasan Panderman dan Arjuno.

Para pendaki didata melalui sistem check-in dan check-out, termasuk barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah. Jumlah sampah atau kemasan makanan yang dibawa naik diharapkan sama dengan jumlah yang dibawa turun.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah penumpukan sampah dan serasah yang dapat menjadi bahan mudah terbakar.

Libatkan Ribuan Pendaki

Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kawasan Kethapan 1 juga menjadi lokasi kegiatan ekspedisi Arjuno yang melibatkan sekitar 1.000 pendaki selama dua hari.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur terkait, mulai dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi, Pangdam, Polhut hingga sejumlah instansi lainnya.

Momentum tersebut sekaligus menjadi sarana memperkuat kesadaran masyarakat bahwa kawasan pegunungan bukan sekadar lokasi wisata dan pendakian, tetapi juga kawasan ekologis yang harus dijaga.

BPBD Kota Batu mengajak masyarakat memiliki kepedulian bersama terhadap kelestarian lingkungan. Warga maupun pendaki diminta tidak membuang puntung rokok, sampah, ataupun material mudah terbakar secara sembarangan.

“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Jangan sampai hal kecil seperti puntung rokok atau sampah yang dibuang sembarangan justru menjadi pemicu kebakaran besar,” tegas Suwoko.

Dengan kesiapsiagaan personel, posko 24 jam, patroli, edukasi dan kolaborasi lintas sektor, BPBD Kota Batu berupaya memastikan ancaman Karhutla selama musim kemarau 2026 dapat ditekan sejak dini.( Eno).