H. Irman: Kepemimpinan Kepala Madrasah Jadi Kunci Membangun Budaya Religius di Era Modern

1619358_11zon

Makassar | Serulingmedia.com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang mengubah pola kehidupan masyarakat, pendidikan agama dinilai menghadapi tantangan besar dalam membentuk karakter peserta didik.

 

Kondisi tersebut menuntut hadirnya kepemimpinan yang kuat di lingkungan madrasah untuk memastikan nilai-nilai religius tetap tumbuh dan relevan dengan perkembangan zaman.

 

Pandangan tersebut disampaikan H. Irman saat mempertahankan disertasinya dalam Ujian Promosi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu (24/6/2026).

 

Disertasi yang diangkat berjudul “Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Mengembangkan Budaya Religius di MAN 3 Makassar dan MAN Insan Cendekia Gowa.”

 

Dalam kajiannya, H. Irman menyoroti munculnya berbagai kritik terhadap efektivitas pendidikan agama yang dinilai belum sepenuhnya berhasil membangun afeksi peserta didik terhadap nilai-nilai luhur yang bersifat universal dan berkelanjutan.

 

Menurutnya, lembaga pendidikan yang sejatinya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, sumber daya manusia, penelitian, dan kebudayaan menghadapi tantangan serius akibat perubahan sosial yang begitu cepat.

 

“Modernisasi dan kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga memunculkan dampak negatif yang berujung pada krisis multidimensi di tengah masyarakat,” ujarnya dalam pemaparan disertasi.

 

Analisis H. Irman menunjukkan bahwa keberhasilan madrasah dalam membangun budaya religius sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan kepala madrasah.

 

Meski pengembangan karakter religius merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah, kepala madrasah tetap menjadi aktor utama yang menentukan arah kebijakan, budaya organisasi, dan iklim pendidikan di lingkungan madrasah.

 

Karena itu, menurutnya, proses penyiapan calon kepala madrasah tidak cukup hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga harus memperkuat kompetensi kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini.

 

“Seorang kepala madrasah harus membekali dirinya dengan berbagai kemampuan kepemimpinan agar mampu menjadi pemimpin pendidikan yang kuat dalam mengembangkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.

 

Dalam perspektif manajemen pendidikan Islam, temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa budaya religius tidak lahir secara spontan, melainkan dibangun melalui keteladanan, pembiasaan, kebijakan yang konsisten, serta komitmen pimpinan lembaga.

 

Kepala madrasah dituntut mampu menciptakan lingkungan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan moral peserta didik.

 

Ujian promosi doktor tersebut dipimpin Direktur Program Pascasarjana UMI Makassar, La Ode Husen.

 

Melalui penelitian ini, H. Irman menawarkan perspektif bahwa penguatan budaya religius di madrasah menjadi salah satu strategi penting untuk menjawab tantangan krisis moral dan sosial yang muncul di era modern.

 

Bagi dunia pendidikan Islam, temuan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan kepala madrasah bukan sekadar fungsi administratif, melainkan instrumen strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter religius generasi muda.( Yah/Eno).