RA Al-Jauhar Gandeng Mahasiswa UIN Malang Bekali Orang Tua Hadapi Tantangan Pengasuhan

1858271_11zon

Malang | Serulingmedia.com – RA Al-Jauhar memperkuat peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak melalui kegiatan “Psikoedukasi dan Sharing Session Bersama Orang Tua Hebat”.

 

Kegiatan ini menggandeng mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang).

 

Kegiatan berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (11-12/8/2026), di Gedung 1 RA Al-Jauhar Permata Regency, Blok 21 No. 3. Pesertanya merupakan orang tua atau wali murid siswa kelas inklusi TK A dan TK B.

 

Kegiatan dirancang bukan sekadar memberikan materi psikologi kepada orang tua. Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas keunikan anak, mengenali potensi, sekaligus mencari strategi menghadapi tantangan pengasuhan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pada hari pertama, mahasiswa PKL mengangkat tema “Memahami Keunikan Anak: Mengenal Potensi Anak Melalui 9 Kecerdasan Majemuk”. Materi disampaikan Aulia Zahwa Mufida.

 

Dalam sesi tersebut, orang tua diajak memahami bahwa kemampuan anak tidak hanya dapat dilihat melalui pencapaian akademik. Minat, kebiasaan bermain, aktivitas, cara berinteraksi, hingga respons anak terhadap lingkungan juga dapat menjadi indikator untuk mengenali potensi mereka.

 

Diskusi kemudian berkembang melalui sharing pengalaman orang tua. Salah satunya menceritakan aktivitas yang disukai anak, seperti bermain mobil-mobilan, bersepeda, berkeliling, serta mengamati tumbuhan dan lingkungan sekitar.

 

Pengalaman tersebut menjadi bahan pembahasan mengenai pentingnya mengamati aktivitas keseharian anak. Dari kebiasaan sederhana, orang tua dan guru dapat memperoleh gambaran mengenai kecenderungan minat dan kemampuan anak.

 

Pada hari kedua, fokus kegiatan bergeser pada persoalan pengasuhan. Tema “Mengasuh Keunikan Anak: Tantangan dan Strategi bagi Orang Tua” disampaikan Isnaini Rahmanatussa’adah Nastiti Ahma.

 

Orang tua diajak membahas berbagai tantangan yang muncul ketika mendampingi anak dengan karakteristik dan kebutuhan yang beragam. Mereka juga diberikan ruang untuk berbagi pengalaman dan strategi yang selama ini digunakan di rumah.

 

Salah satu orang tua, Mama M, menceritakan pengalaman menghadapi karakter dan perilaku anak yang terkadang menjadi tantangan dalam pengasuhan.

 

Menurutnya, orang tua perlu tetap bersyukur, bersikap tegas tanpa memarahi atau mengasari anak, serta mencari cara komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan anak.

 

Diskusi tersebut menegaskan pentingnya penerimaan orang tua terhadap kondisi dan keunikan masing-masing anak. Perbedaan karakter dan kebutuhan tidak seharusnya menjadi hambatan, melainkan dasar untuk menentukan pola pendampingan yang tepat.

 

Dosen pamong RA Al-Jauhar, Nur Jihan, mengatakan setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda sehingga orang tua perlu mengenali anak melalui kesehariannya.

 

“Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Orang tua perlu mengenali anak melalui keseharian mereka, memahami minat dan tantangan yang muncul, serta menemukan cara komunikasi yang sesuai. Sharing seperti ini membantu orang tua saling belajar dari pengalaman,” ujar Nur Jihan.

 

Menurut dia, forum tersebut memberikan kesempatan bagi orang tua untuk memperluas pemahaman sekaligus saling bertukar pengalaman dalam menghadapi dinamika pengasuhan.

 

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PKL Fakultas Psikologi UIN Malang, Dr. Muh Anwar Fu’ady, MA, mengatakan kegiatan psikoedukasi memiliki relevansi kuat dengan pelaksanaan PKL mahasiswa psikologi.

 

“PKL tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan psikologi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat,” jelasnya.

 

Ia menegaskan bahwa dalam pendidikan inklusif, pendampingan anak tidak berhenti di sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam memastikan anak mendapatkan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.

 

“Pendampingan juga berlangsung di keluarga,” katanya.

 

Menurut Fu’ady, kegiatan tersebut sekaligus melatih mahasiswa agar mampu berkomunikasi secara psikologis dengan masyarakat.

 

“Memberikan edukasi psikologi bukan sekadar menyampaikan materi. Mereka perlu memahami konteks, mendengarkan pengalaman orang tua, dan menghubungkan pengetahuan psikologi dengan kebutuhan nyata di lapangan,” tambahnya.

 

Kegiatan selama dua hari itu melibatkan empat mahasiswa PKL Fakultas Psikologi UIN Malang, yakni Aulia Zahwa Mufida, Isnaini Rahmanatussa’adah Nastiti Ahma, Nuri Fadlilah A’malina, dan Juliana Nur Afifah.

 

Aulia Zahwa Mufida menjadi pemateri pada hari pertama, sedangkan Isnaini Rahmanatussa’adah Nastiti Ahma menjadi pemateri pada hari kedua.

 

Hari pertama kegiatan diikuti empat orang tua siswa, sementara satu orang tua lainnya berhalangan hadir.

 

Melalui kegiatan tersebut, RA Al-Jauhar bersama mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang berupaya memperkuat kolaborasi antara sekolah, keluarga dan mahasiswa dalam menciptakan lingkungan pendidikan inklusif yang aman, suportif, serta menghargai keberagaman karakter dan potensi setiap anak.

 

Bagi RA Al-Jauhar, pengasuhan bukan hanya persoalan menghadapi perilaku anak, tetapi juga proses memahami siapa mereka, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana orang dewasa dapat mendampingi mereka tumbuh sesuai potensinya.( Eno).