Di Balik Senyapnya Sebuah Gudang: Kisah Lansia Oro-Oro Ombo yang Ditanggung Desa, Ditunggu Negara

1210301_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Di sebuah gudang milik BUMDes Oro-Oro Ombo, yang biasanya hanya dipenuhi tumpukan peralatan desa dan barang-barang penyimpanan, kini hidup seorang lelaki tua yang telah kehilangan pegangan hidup.

 

Di ruang sunyi itu, seorang lansia menjalani hari tanpa pelukan keluarga, tanpa kepedulian anak-anaknya, dan tanpa kehadiran negara yang seharusnya menjadi pelindung terakhir.

 

Ia tidak tinggal di rumah nyaman, tidak pula di pusat rehabilitasi.

 

Ia tinggal di gudang, yang disulap seadanya agar dirinya bisa berteduh dan mendapat sedikit kehangatan.
Namun bagi lelaki tua tersebut, gudang itulah kini dunia yang tersisa.

 

Wiweko: “Sampai hari ini tidak ada yang menangani, dan keluarga tidak pernah datang.”

Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, menjadi orang yang paling sibuk dalam perkara ini.

 

Ia mengaku masih menanggung kebutuhan lansia tersebut bersama perangkat desa menggunakan dana pribadi.

 

“Sampai hari ini tidak ada pihak yang menangani, baik dari Dinsos maupun Dinas Kesehatan. Yang menangani tetap kami di desa,” ujarnya.

 

Perangkat desa juga sudah beberapa kali memanggil keluarga—termasuk anak-anak kandung sang lansia—namun panggilan itu tidak pernah mendapat jawaban.

 

“Keluarga sudah kami panggil berkali-kali, tapi tidak ada respon. Semestinya Pemkot Batu mengambil alih, memanggil keluarga dan meminta penjelasan bagaimana seharusnya menangani ayahnya yang sedang sakit,” tegas Wiweko.

 

Dengan tidak adanya respons keluarga dan tidak adanya tempat yang disediakan Pemkot Batu, gudang BUMDes Oro-Oro Ombo akhirnya menjadi tempat tinggal darurat bagi sang lansia.

Di sanalah ia tidur, makan, dan menjalani hari-harinya.

Gaib Sampurno: “Sungguh menyayat hati seorang lansia hidup di gudang.”

 

Ketua LSM Alab-Alab Kota Batu, Gaib Sampurno, adalah salah satu yang paling vokal mengenai persoalan ini.

 

Ia tidak dapat menyembunyikan keprihatinannya ketika melihat langsung kondisi sang lansia.

 

“Sungguh menyayat hati melihat seorang lansia menghabiskan masa tua di dalam gudang. Ia seharusnya tinggal di rumah, dirawat oleh keluarga, atau minimal ditangani pemerintah. Bukan begini,” ujarnya.

 

Gaib menegaskan bahwa perangkat desa sudah bekerja melampaui batas kewenangan dan kapasitas mereka.

 

“Desa sudah berbuat lebih dari yang seharusnya. Kini saatnya Pemkot Batu hadir, bukan hanya melihat dari jauh,” tambahnya.

 

Dinsos Batu: Sudah Asesmen, Tapi Langkah Lanjutan Belum Turun

Mustakim, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Batu, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan asesmen sebagai dasar pengambilan keputusan.

 

“Kita sudah melakukan asesmen untuk menentukan tindak lanjut sesuai tupoksi Dinas Sosial. Pekerja sosial kami sudah turun langsung,” ujarnya.

 

Namun hasil asesmen itu belum menghasilkan penanganan konkret.

 

Pekerja sosial Dinsos Batu, Hartono, mengatakan bahwa secara kategori sang lansia tidak masuk golongan “orang terlantar.”

 

“Beliau bukan orang terlantar karena keluarga masih lengkap. Ada anak, ada adik. Beliau juga punya hak waris,” terang Hartono.

 

Masalah muncul ketika keluarga menolak merawat sang lansia karena takut terhadap dugaan penyakit tertentu, meski Dinas Kesehatan telah menjelaskan bahwa penyakit tersebut tidak mudah menular.

 

“Itu tugas kami: bagaimana keluarga mau menerima kembali. Tapi sekarang keluarga tetap tidak mau,” ujarnya.

 

Sementara Waktu, Gudang BUMDes Menjadi Rumah

 

Gudang BUMDes Oro-Oro Ombo kini berfungsi sebagai tempat tinggal darurat sang lansia.

 

Di antara tumpukan kardus, alat desa, dan ruang sempit yang biasanya tidak ditempati manusia, lelaki tua itu berusaha bertahan hidup.

 

Setiap hari perangkat desa datang bergantian membawa makanan, obat, dan perhatian. Pertolongan itu lahir dari nurani, bukan mandat. Dari kepedulian, bukan kewenangan.

 

Pertanyaan Besar yang Menggantung: Di Mana Negara?

 

Pada kasus ini, desa berjalan. LSM berteriak. Pekerja sosial turun, tapi sistem belum bergerak. Sementara keluarga memilih diam.

 

Yang paling diam justru tempat sang lansia tinggal: sebuah gudang.
Sebuah simbol pahit tentang di mana ia ditempatkan oleh keadaan.

 

Akhirnya, Kita Melihat Cermin
Kasus lansia Oro-Oro Ombo bukan sekadar soal kemiskinan atau penyakit.

 

Ini tentang keluarga yang melepas, negara yang terlambat hadir, dan desa yang terseret menolong karena nurani tak bisa menunggu prosedur.

 

Dan di tengah semua itu, seorang lelaki tua masih menunggu:
Menunggu keputusan, menunggu keberpihakan, menunggu tangan negara.

 

Sementara itu, gudang BUMDes tetap menjadi rumahnya.
Sementara ini. Entah sampai kapan.(Eno).