Warga Istana Dieng Gelar Teatrikal Perjuangan Arek Malang untuk Pertama Kalinya

Screenshot_20240812-171516_WhatsApp

 

Malang | Serulingmedia.com – Untuk pertama kalinya, warga Istana Dieng yang sebagian besar adalah non-pribumi, menyelenggarakan sebuah pertunjukan teatrikal yang apik tentang perjuangan pemuda Arek Malang dalam merebut kembali Bumi Arema dari penjajah Belanda dengan taktik “Malang Bumi Hangus.”

Pertunjukan ini diadakan di atas area fasilitas umum perumahan Istana Dieng seluas kurang lebih 2.500 meter persegi dan berlangsung meriah, dibawakan oleh warga setempat bersama klub SSK-JJSF (Suka-Suka Kami Jalan Jalan Sore Foto), sebuah klub penyuka nyanyi dan berdansa, Senin ( 12/8/2024 ).

Ide kreatif ini datang dari Iwan Kurniawan, seorang warga setempat. “Saya ingin menghadirkan sesuatu yang baru dan memberikan kesan mendalam bagi warga, bahwa perjuangan para pahlawan kita, khususnya Arek-arek Malang, penuh darah dan taruhan nyawa. Saya ingin warga di sini memahami, mengerti, dan menghargai itu, karena sekarang kita hanya tinggal menikmati hasil dari perjuangan mereka,” ujar Iwan.

Selain itu, Iwan juga ingin menggugah rasa nasionalisme serta membangun rasa kebersamaan dan gotong royong dalam rangka mengisi pembangunan melalui berbagai peran mereka.

Ketua pelaksana acara, Andreas Suliyan, yang juga merupakan Ketua SSK-JJSF, menjelaskan bahwa ide teatrikal ini memang datang dari Iwan.

“Awalnya, kami hanya berniat mengadakan beberapa acara dalam rangka menjelang peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan RI bersama klub kami. Kebetulan kami adakan di lokasi ini, dan Pak Iwan kemudian menambahkan ide untuk membuat acara ini lebih besar, termasuk dengan adanya teatrikal ini. Dalam waktu dua hari saja, kami berhasil mengemas ide tersebut dengan berkolaborasi bersama banyak pihak,” kata Andreas.

Dalam waktu singkat, Andreas berhasil merekrut sekitar 50 orang untuk terlibat dalam acara tersebut. Skenario teatrikal ini diambil dari peristiwa.

“Malang Bumi Hangus”, yang menggambarkan bagaimana perjuangan Arek-arek Malang merebut kembali Bumi Pertiwi dari penjajah Belanda. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok pejuang dan kelompok penjajah, dan bahkan melibatkan penggunaan kendaraan jip untuk menambah kesan realistis.

Pertunjukan ini berlangsung seru dan memukau selama lebih dari satu jam. Dengan latar belakang suara dentuman meriam, simulasi pesawat yang menjatuhkan bom, dan narasi perjuangan yang kuat, suasana menjadi tegang dan mencekam. Warga Istana Dieng yang hadir, tak kurang dari 350 orang, serta anggota SSK-JJSF sebanyak 250 orang, menyaksikan dengan penuh antusiasme.

Mantan Walikota Malang, Abah Anton, juga turut hadir menyaksikan pertunjukan tersebut.

Pertunjukan dibagi menjadi dua skenario utama. Skenario pertama menggambarkan kemenangan Belanda, sedangkan skenario kedua memperlihatkan perjuangan Arek-arek Malang dalam merebut kembali kemerdekaan. Meski dibagi menjadi dua skenario, keseluruhan pertunjukan berlangsung selama satu jam lebih karena intensitas dan keseruan adegan-adegan pertempurannya.

Ketika para pejuang berhasil merebut kembali kemerdekaan, seluruh penonton bersorak dan serentak mengibarkan bendera merah putih kecil yang telah dibagikan sebelumnya.

“Saya senang melihat kebersamaan ini dan warga yang melaksanakan acara ini juga terlihat sangat senang,” tambah Iwan Kurniawan.

Ketua RW 07 Kelurahan Bandulan, Anang Herdianto, mengungkapkan bahwa teatrikal yang diselenggarakan oleh warganya ini merupakan sebuah pertunjukan yang sangat luar biasa.

“Ini adalah cara kita untuk menghormati bagaimana perjalanan bangsa kita yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Malang menjadi indah seperti sekarang ini berkat perjuangan para pahlawan,” tutupnya.( Har/Eno).