Muh. Anwar Fu’ady: Pesantren Tak Cukup Cetak Santri Berilmu, Kematangan Jiwa Jadi Ujian

2218697_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tak semestinya berhenti pada seremoni, slogan, dan pujian terhadap peran santri dalam sejarah bangsa.

Momentum ini perlu menjadi ruang untuk menguji sejauh mana pendidikan pesantren benar-benar membentuk manusia yang berilmu, matang secara psikologis, berintegritas, dan peduli terhadap sesama.

Muh. Anwar Fu’ady, dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup ditopang oleh kecerdasan intelektual, pertumbuhan ekonomi, atau penguasaan teknologi.

Bangsa ini juga membutuhkan manusia yang mampu mengelola emosi, menerima perbedaan, menghadapi tekanan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Dalam refleksinya bertajuk Pesantren sebagai Ruang Pembentukan Jiwa, Anwar menempatkan pesantren bukan semata-mata sebagai lembaga pengajaran ilmu agama, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter dan kematangan jiwa.

Tantangannya, nilai-nilai seperti tawadhu’, kesabaran, amanah, dan ukhuwah tidak boleh berhenti sebagai nasihat atau hafalan. Nilai-nilai itu harus teruji dalam perilaku sehari-hari.

Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, menegaskan harapan agar santri mengambil peran lebih luas dalam pembangunan bangsa.

Namun, harapan tersebut menuntut lebih dari penguasaan ilmu. Kualitas manusia yang lahir dari pendidikan pesantren juga perlu tercermin dalam sikap, keputusan, dan cara memperlakukan sesama.

Karakter Bukan Sekadar Hafalan

Kehidupan pesantren menyediakan ruang pembelajaran yang melampaui kegiatan belajar-mengajar. Kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kesabaran, serta kehidupan bersama menjadi pengalaman sehari-hari yang dapat membentuk kepribadian santri.

Namun, nilai-nilai itu baru bermakna apabila tercermin dalam tindakan. Kejujuran, misalnya, tidak cukup dipahami sebagai ajaran moral. Nilai tersebut harus tetap dijalankan ketika seseorang memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan dengan berbuat sebaliknya.

Begitu pula kasih sayang. Ukurannya bukan sekadar kemampuan menjelaskan pentingnya berbuat baik, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, terutama ketika menghadapi perbedaan pendapat atau konflik.

Pandangan ini menempatkan pesantren pada tanggung jawab yang lebih luas. Keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari penguasaan materi keagamaan, tetapi juga dari kemampuan santri menerapkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan nyata.

Tawadhu’, kesabaran, amanah, dan ukhuwah memiliki dimensi spiritual sekaligus psikologis. Tawadhu’ mendorong keterbukaan terhadap kritik, kesabaran membantu seseorang mengendalikan respons, amanah memperkuat tanggung jawab, sedangkan ukhuwah membangun kepedulian dan dukungan sosial.

Akan tetapi, nilai-nilai tersebut tidak tumbuh secara otomatis. Lingkungan pendidikan, keteladanan para pendidik, serta kualitas hubungan antarmanusia ikut menentukan apakah ajaran benar-benar menjadi karakter atau hanya berhenti sebagai pengetahuan.

Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup mengandalkan ceramah dan aturan. Santri perlu memperoleh pengalaman yang memungkinkan mereka mempraktikkan nilai, belajar menghadapi konflik, mengakui kesalahan, serta memahami konsekuensi tindakannya.

Indonesia Emas Membutuhkan Kematangan Psikologis

Wacana Indonesia Emas 2045 selama ini lekat dengan bonus demografi, kualitas pendidikan, pertumbuhan ekonomi, dan penguasaan teknologi. Anwar mengajak masyarakat melihat dimensi lain yang sama pentingnya: kematangan psikologis.

Apa artinya kecerdasan tinggi jika seseorang tidak mampu mengelola emosi? Apa gunanya pengetahuan jika digunakan untuk merendahkan orang lain? Dan apa makna keberhasilan pribadi jika tidak disertai kepedulian terhadap masyarakat?

Pertanyaan tersebut menyentuh persoalan mendasar pembangunan manusia. Kemampuan akademik dan keterampilan profesional memang penting, tetapi keduanya tidak dengan sendirinya menjamin seseorang memiliki empati, integritas, atau kemampuan membangun hubungan yang sehat.

Konflik dapat membesar ketika seseorang sulit menerima perbedaan. Hubungan keluarga dapat terganggu ketika komunikasi tidak berjalan baik. Persoalan sosial pun berpotensi berkembang ketika orang mengabaikan perasaan dan martabat sesamanya.

Dalam konteks ini, pendidikan pesantren memiliki modal melalui tradisi yang mengintegrasikan ilmu, spiritualitas, pembentukan karakter, dan kehidupan bersama.

Nilai kesabaran dapat membantu seseorang mempertimbangkan tindakan sebelum bereaksi. Tawadhu’ mendorong kesediaan menerima koreksi, sedangkan ukhuwah memperkuat solidaritas.

Namun, Anwar mengingatkan pentingnya memahami nilai agama secara utuh. Kesabaran bukan berarti membiarkan ketidakadilan.

Tawadhu’ bukan berarti kehilangan daya kritis. Ukhuwah bukan berarti meniadakan perbedaan. Sementara amanah tidak sebatas menjalankan perintah, tetapi juga menjaga kepercayaan dan mempertanggungjawabkan tindakan.

Pemahaman tersebut penting agar pendidikan karakter tidak disempitkan menjadi kepatuhan tanpa pertimbangan moral. Santri perlu dibekali kemampuan membedakan sikap hormat dari sikap pasif, serta kesabaran dari pembiaran terhadap keadaan yang tidak adil.

Kesalehan Harus Teruji dalam Kehidupan Sosial

Anwar menempatkan kepedulian sebagai bagian penting dari upaya menguatkan negeri. Pembangunan manusia dapat dimulai dari tindakan sederhana: bersedia mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan, tidak terburu-buru menghakimi orang yang berbeda pandangan, menjaga komunikasi dalam keluarga, dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam perspektif psikologi, empati membantu seseorang memahami pengalaman orang lain. Keterampilan mendengarkan memperkuat komunikasi, sedangkan dukungan sosial dapat membantu individu menghadapi tekanan.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam tentang persaudaraan dan tanggung jawab terhadap sesama. Konsekuensinya, kesalehan personal perlu memiliki dimensi sosial.

Keberagamaan tidak cukup tercermin dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Ia juga perlu terlihat dalam kejujuran, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Bagi santri, ruang pengabdian terbuka di berbagai bidang. Mereka dapat menjadi pendidik yang mengembangkan generasi muda, peneliti yang menghasilkan pengetahuan bermanfaat, tenaga profesional yang bekerja dengan integritas, atau penggerak masyarakat yang memperkuat solidaritas.

Menguatkan negeri tidak selalu harus dimulai melalui tindakan besar. Keputusan untuk tidak menyakiti orang lain, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengarkan, dan ketulusan membantu sesama juga merupakan bagian dari pembangunan bangsa.

Dalam pengertian ini, keberhasilan pendidikan pesantren semestinya tidak hanya dilihat dari capaian individu, tetapi juga dari kontribusi lulusannya terhadap kehidupan sosial. Ilmu yang dikuasai perlu menemukan manfaatnya di tengah masyarakat.

Hari Santri Bukan Sekadar Perayaan

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 semestinya menjadi kesempatan untuk menguji kembali hasil pendidikan pesantren. Apakah ilmu membuat seseorang semakin rendah hati? Apakah keberagamaan memperkuat kepedulian? Apakah kedisiplinan melahirkan tanggung jawab tanpa menghilangkan empati?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa refleksi Anwar pada persoalan mendasar: masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui generasinya, tetapi juga oleh cara mereka menggunakan pengetahuan dan kemampuan tersebut.

Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” mengajak masyarakat memahami pembangunan bangsa sebagai proses membangun manusia.

Pesantren memiliki modal melalui pendidikan yang mengintegrasikan ilmu, spiritualitas, pembentukan karakter, dan kehidupan sosial.

Namun, modal tersebut tidak menjamin hasil secara otomatis. Diperlukan keteladanan, lingkungan pendidikan yang sehat, hubungan sosial yang menghargai martabat manusia, serta kemauan untuk terus mengevaluasi proses pembelajaran.

Pesantren juga perlu memastikan bahwa nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi menjadi bekal menghadapi persoalan nyata. Kematangan jiwa, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian sosial perlu berjalan beriringan dengan kedalaman ilmu agama.

Anwar Fu’ady sendiri memiliki kedekatan dengan kehidupan pesantren. Selain mengajar di Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ia merupakan santri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, dan Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Refleksinya mempertemukan pengalaman pendidikan pesantren dengan perspektif psikologi mengenai pembentukan manusia.

Pada akhirnya, negeri yang kuat bukan hanya membutuhkan manusia cerdas dan terampil, tetapi juga manusia yang mampu mengelola dirinya, memahami sesamanya, menjaga integritas, dan mengabdikan kemampuan bagi kemaslahatan bersama.

Menguatkan negeri, dalam refleksi Anwar, pada dasarnya merupakan proses menguatkan manusia. Proses itu dimulai dari kepedulian, kesediaan mendengarkan, dan ketulusan memahami sesama.

Selamat Hari Santri Nasional 2026. ( Eno).