Wamen ATR/BPN Ultimatum Pejabat Administrator: Jangan Jadi Manajer Rutinitas, Jadilah Penggerak Perubahan

IMG-20260728-WA0003

Jakarta | Serulingmedia.com – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Ossy Dermawan, melontarkan pesan tegas kepada para Pejabat Administrator di lingkungan Kementerian ATR/BPN.

 

Ia menegaskan bahwa jabatan administrator tidak boleh sekadar menjalankan rutinitas birokrasi, tetapi harus menjadi motor utama transformasi pelayanan publik hingga ke garis terdepan.

 

Pernyataan itu disampaikan Ossy saat memberikan pengarahan secara daring kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Tahun 2026, Senin (27/7/2026).

“Administrator bukanlah manajer rutinitas. Administrator harus menjadi arsitek perubahan di unit-unit kerja yang ada. Kalau administrator tidak bergerak, perubahan hanya akan berhenti di atas kertas. Namun, ketika administrator bergerak, perubahan akan terasa hingga loket pelayanan BPN yang paling depan,” tegas Ossy.

Dalam pemaparannya bertajuk “Memimpin Perubahan, Membangun Institusi yang Dipercaya, Melayani dengan Hati, dan Mempersiapkan Masa Depan Indonesia”, Wamen ATR/BPN menekankan bahwa seluruh agenda reformasi birokrasi di kementerian yang dipimpinnya bermuara pada satu tujuan besar, yakni menghadirkan pelayanan pertanahan dan tata ruang yang semakin mudah, cepat, transparan, dan dipercaya masyarakat.

Menurutnya, kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan atau kebijakan di atas kertas, melainkan melalui kualitas pelayanan yang diberikan setiap hari oleh aparatur di lapangan.

“Kita sedang membangun sebuah institusi yang semakin dipercaya masyarakat melalui pelayanan yang semakin mudah, organisasi yang semakin adaptif, dan integritas yang semakin kuat,” ujarnya.

Ossy mengingatkan, transformasi Kementerian ATR/BPN tidak cukup hanya mengandalkan digitalisasi layanan atau pembenahan sistem administrasi.

 

Faktor terpenting adalah kualitas sumber daya manusia yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, memiliki integritas, serta berorientasi pada pelayanan publik.

 

Karena itu, ia meminta seluruh peserta PKA 2026 menjadikan pelatihan tersebut sebagai momentum membangun kepemimpinan yang inovatif dan mampu menciptakan budaya kerja profesional di unit masing-masing.

 

“Kepercayaan masyarakat dibangun melalui jutaan pelayanan yang kita berikan setiap hari. Satu pelayanan yang buruk dapat menghapus kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun,” tandasnya.

 

Di akhir arahannya, Ossy menyatakan optimistis para administrator akan menjadi agen perubahan yang mampu membawa dampak nyata bagi organisasi maupun masyarakat.

 

Menurutnya, keberhasilan transformasi ATR/BPN sangat bergantung pada kepemimpinan para administrator dalam mengimplementasikan perubahan di tingkat operasional.

“Saya yakin apabila seluruh administrator pulang dengan tekad menjadi agen perubahan di unit kerjanya masing-masing, maka transformasi Kementerian ATR/BPN bukan lagi sekadar program, melainkan menjadi sebuah gerakan untuk membangun pelayanan publik yang semakin baik, birokrasi yang profesional, memperkuat kepastian hukum pertanahan dan tata ruang, serta ikut membangun Indonesia yang lebih maju dan sejahtera,” pungkasnya.( Sar)