UIN Malang Nyalakan Lentera Kemanusiaan: Dari Reruntuhan Al-Khoziny, Bangkitkan Harapan Santri dan Wali

Screenshot_2025-10-12-05-42-18-918_com.android.chrome-edit

Malang | Serulingmedia.com —Mentari pagi di Musholla Baiturrahman, Kedungkandang, terasa berbeda, Senin( 6/10/ 2025) lalu.

Udara sejuk Kota Malang hari itu seolah membawa pesan kehangatan: bahwa luka bisa disembuhkan, dan duka bisa menjadi pintu menuju kekuatan baru.

Di antara lantunan doa dan senyum yang mulai merekah, tampak sebelas santri muda dari Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo duduk berdekatan.

Mereka bukan sekadar peserta kegiatan, melainkan penyintas dari tragedi runtuhnya mushola pesantren beberapa waktu lalu. Namun hari itu, wajah mereka bukan lagi wajah kesedihan. Ada cahaya semangat yang perlahan kembali menyala.

Itulah misi yang dibawa oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, melalui LP2M, Laboratorium Konseling Fakultas Psikologi, dan LPBI PCNU Kota Malang: menghadirkan Layanan Dukungan Psikososial Peduli Santri dan Wali Santri, sebuah program kemanusiaan yang menghidupkan kembali semangat dan harapan.

Empati yang Menyembuhkan

“Ini bukan sekadar kegiatan formal. Ini adalah panggilan hati,” ujar Dr. Maghfur, Kepala Pusat Pengabdian UIN Malang, saat membuka acara dengan suara lembut.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata Islam rahmatan lil ‘ālamīn — Islam yang menebar kasih dan memberi makna pada setiap ujian kehidupan.

“Kami hadir bukan hanya untuk memberi nasihat, tapi untuk menemani mereka menemukan kembali ketenangan dan makna hidup,” tambahnya.

Bagi UIN Malang, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata tridarma perguruan tinggi.

“Dukungan psikososial bukan hanya membantu pemulihan emosional,” jelas Dr. Lutfi Mustofa, Sekretaris LP2M, “tetapi juga menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dan kemanusiaan di lingkungan pesantren.”

Air Mata yang Berubah Jadi Doa

Momen paling mengharukan terjadi saat Ust. Said Muhammad, perwakilan wali santri, berdiri menyampaikan rasa terima kasihnya.
Matanya berkaca-kaca.

“Anak-anak kami kehilangan tempat bernaung, tapi hari ini mereka menemukan pelukan baru dari keluarga besar UIN Malang,” ucapnya lirih.

Suasana ruangan seketika hening. Air mata yang menetes bukan lagi tanda kesedihan, melainkan rasa syukur dan haru karena masih ada yang peduli, yang hadir bukan untuk mengasihani, tapi untuk menguatkan.

Santri Kuat, Bangkit, dan Berdaya

Dalam pengarahan utamanya, Ketua PCNU Kota Malang, Dr. K.H. Isroqunnajah, menyampaikan pesan yang menggugah:

“Kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita melupakan duka, tetapi dari seberapa tulus kita bangkit darinya.”

Para santri diajak untuk tidak larut dalam kesedihan, melainkan menjadikannya bahan bakar untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama.

Kepala PSGA UIN Malang, Aprilia Mega, menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan resiliensi — daya lenting mental agar para santri tetap tangguh di tengah cobaan.

“Kami ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya pintar, tapi juga berjiwa kuat, humanis, dan moderat,” ujarnya.

Pelukan Kemanusiaan yang Nyata

Sesi layanan psikososial dibagi menjadi dua bagian: pendampingan bagi wali santri dan sesi konseling bagi para santri.
Tim konselor dari Fakultas Psikologi UIN Malang hadir dengan pendekatan hangat dan penuh keakraban. Ada tawa, cerita, dan pelukan yang mengalir alami — simbol bahwa pemulihan sejati berawal dari rasa diterima.

Rika Fuaturosida, M.A., Kepala Laboratorium Konseling, menjelaskan bahwa timnya juga melakukan psychological first aid dan observasi lanjutan.

“Sebagian besar santri menunjukkan adaptasi positif, namun kami tetap mendampingi mereka yang masih butuh konseling lanjutan. Pemulihan butuh waktu, tapi mereka tidak sendiri.”

Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan Kelora Kapsul Kelor, UMKM binaan kampus, yang membagikan suplemen herbal untuk menjaga daya tahan tubuh para peserta. Sebuah simbol sederhana, tapi penuh makna — bahwa pemulihan membutuhkan perhatian dari berbagai sisi.

Dari Duka Menjadi Cahaya

Acara ditutup dengan doa bersama. Suara haru bergema di ruangan sederhana itu. Ketika doa terakhir dilantunkan, beberapa santri saling menatap dan tersenyum — bukan karena lupa pada duka, tetapi karena mulai berani berharap lagi.

UIN Malang membuktikan, kampus bukan hanya tempat menanam ilmu, melainkan ladang untuk menumbuhkan kepedulian, empati, dan cinta kemanusiaan.
Dari Musholla Baiturrahman, pesan itu tersampaikan dengan jelas:

Bahwa dari duka, tumbuh bahagia; dari luka, tumbuh kekuatan; dan dari kasih, tumbuh peradaban. ( Eno).