Tsaqifa Aisyah Amin, Mahasiswa Kimia FST UIN Malang Ubah Kulit Singkong Jadi Inovasi Juara 1 Nasional
Malang | Serulingmedia.com – Bagi Tsaqifa Aisyah Amin, ilmu kimia bukan sekadar teori yang dipelajari di ruang kuliah.
Di tangannya, ilmu tersebut justru menjadi pintu untuk melahirkan gagasan inovatif yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah meraih Juara 1 Nasional Business Plan Competition 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, pada 6 Agustus 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui gagasan “Smart Edible Coating Berbasis Pati Kulit Singkong untuk Memperpanjang Masa Simpan Buah Guna Mengurangi Food Loss.”
Gagasan Tsaqifa berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni tingginya potensi kehilangan pangan (food loss) akibat produk hortikultura, khususnya buah-buahan, yang memiliki masa simpan relatif terbatas.
Ia kemudian melihat peluang dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah, yakni kulit singkong. Pati yang terkandung dalam kulit singkong dikembangkan menjadi bahan dasar edible coating, sebuah lapisan yang dapat diaplikasikan pada permukaan buah untuk membantu memperpanjang masa simpannya.
Mengubah Limbah Menjadi Nilai
Bagi Tsaqifa, inovasi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang mahal dan rumit. Justru, persoalan sederhana di sekitar dapat menjadi sumber lahirnya gagasan yang memiliki manfaat lebih luas.
Pemanfaatan pati kulit singkong menjadi edible coating menjadi salah satu kekuatan gagasannya. Limbah yang selama ini kurang mendapat perhatian diarahkan menjadi bahan bernilai tambah.
Konsep tersebut sekaligus mempertemukan tiga kepentingan sekaligus, yakni sains, kewirausahaan, dan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai mahasiswa Kimia, Tsaqifa membawa pendekatan keilmuan ke dalam kompetisi bisnis. Ia tidak hanya menawarkan sebuah produk, tetapi juga menghadirkan gagasan yang memiliki dasar ilmiah, peluang pengembangan, serta potensi untuk memberikan solusi terhadap persoalan food loss.
Inilah yang membuat gagasannya mampu bersaing dalam kompetisi bisnis tingkat nasional yang mempertemukan ide-ide kreatif mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Prestasi yang Membawa Nama FST UIN Malang
Raihan Juara 1 Nasional tersebut menjadi capaian penting bagi Tsaqifa sekaligus kebanggaan bagi Program Studi Kimia dan FST UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Prestasi itu menunjukkan bahwa mahasiswa bidang sains memiliki ruang yang luas untuk berkiprah di luar laboratorium dan ruang akademik.
Ilmu yang dipelajari dapat dikembangkan menjadi gagasan kewirausahaan yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial.
Bagi lingkungan akademik FST UIN Malang, keberhasilan Tsaqifa juga menjadi gambaran bahwa penguatan kompetensi mahasiswa melalui kreativitas, inovasi, kompetisi, dan kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan karya yang kompetitif.
Lebih dari sekadar sebuah piala, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa ide berbasis sains dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata.
Dari Ruang Kuliah Menuju Kompetisi Nasional
Perjalanan Tsaqifa dalam kompetisi tersebut memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi sebuah gagasan yang memiliki perspektif bisnis.
Ia memadukan pemahaman kimia dengan persoalan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Kulit singkong yang sebelumnya dipandang sebagai limbah, kemudian diposisikan sebagai sumber bahan baku inovasi.
Pendekatan semacam ini menjadi penting di tengah tuntutan pengembangan ekonomi berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu memahami teori, tetapi juga ditantang untuk menemukan solusi kreatif atas berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Keberhasilan Tsaqifa menjadi salah satu contoh bahwa inovasi mahasiswa dapat lahir dari keberanian melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.
Menginspirasi Mahasiswa Lain
Capaian Tsaqifa diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain di FST UIN Malang untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.
Sains dan teknologi memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk inovatif, solusi sosial, maupun peluang usaha yang memiliki daya saing.
Melalui prestasi tersebut, semangat kewirausahaan berbasis sains dan teknologi diharapkan semakin tumbuh di kalangan mahasiswa.
FST UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sendiri terus mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kompetisi, melakukan riset, mengembangkan inovasi, serta mengasah kemampuan akademik dan nonakademik.
Kisah Tsaqifa menjadi pengingat bahwa sebuah inovasi besar bisa berawal dari sesuatu yang sederhana—bahkan dari limbah kulit singkong yang selama ini dianggap tidak bernilai.






