Damir Ingin Kota Batu Tetap Punya Pohon Apel, DLH: Kami Siap Kolaborasi

2096215_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Bagi Damir, apel bukan sekadar buah yang setiap hari ia jual. Apel adalah bagian dari cerita panjang Kota Batu yang menurutnya perlu tetap terlihat di tengah perubahan kota yang semakin berkembang.

 

Karena itu, ketika melihat semakin sedikit pohon apel di tengah Kota Batu, Damir memiliki gagasan sederhana: menanam kembali pohon apel di ruang terbuka hijau, termasuk di sepanjang taman Jalan Kembar Sultan Agung.

Baginya, Kota Batu yang dikenal sebagai Kota Apel seharusnya tidak hanya memiliki patung atau gambar apel. Pohonnya pun perlu hadir dan tumbuh di ruang publik.

Gagasan warga yang juga pedagang apel itu mendapat sambutan positif dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni.

Dian mengatakan, meskipun luasan tanaman apel di Kota Batu mengalami penurunan, identitas Batu sebagai Kota Apel tetap melekat.

“Terlepas memang ada penurunan dari luasan area pohon apel yang tertanam, tetap Kota Batu itu identik dengan Kota Apel,” ujar Dian.

Menurutnya, tanaman apel dapat menjadi bagian dari ruang terbuka hijau sekaligus penanda bahwa identitas Kota Batu sebagai Kota Apel masih tetap ada.

“Sebagai penanda bahwa Kota Batu masih eksis dengan pohon apel. Tidak hanya dalam bentuk patung, tapi juga tanaman apel yang memang endemiknya ada di Batu,” katanya.

Dian menilai tanaman apel dapat ditanam di sejumlah kawasan ruang terbuka hijau di Kota Batu.

Namun, ia mengakui DLH belum memiliki keahlian khusus dalam merawat tanaman apel. Karena itu, diperlukan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan agar tanaman apel yang ditanam di ruang publik dapat tumbuh dan terawat.

“DLH belum memiliki keahlian dalam merawat tanaman apel. Jadi mungkin kami harus belajar juga dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk bagaimana cara merawat apel untuk ruang terbuka hijau yang ada di Kota Batu,” ujarnya.

Bagi Dian, gagasan tersebut menarik sekaligus realistis untuk dilakukan.

Damir: Jangan Khawatir, Kami Siap Merawat

Menariknya, persoalan perawatan yang disampaikan DLH justru mendapat jawaban langsung dari Damir.

Sebagai pedagang apel yang menggagas penanaman apel di ruang publik, Damir menyatakan siap membantu apabila pemerintah mengalami kesulitan dalam merawat tanaman tersebut.

“Jangan kuatir, jika Dinas mengalami kesulitan merawat, saya siap merawatnya. Kapan ngundang kami untuk koordinasi,” ungkap Damir.

Ucapan Damir terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada semangat bahwa menjaga identitas Kota Batu tidak harus sepenuhnya dilakukan pemerintah.

Warga pun dapat mengambil bagian.
Damir tidak hanya mengusulkan agar pohon apel ditanam.

 

Ia juga menawarkan pengalaman dan tenaganya untuk membantu memastikan tanaman tersebut tetap hidup.

Di titik inilah gagasan sederhana itu berubah menjadi bentuk kolaborasi.

Pemerintah menyediakan ruang dan kebijakan. Dinas teknis memberikan pendampingan. Sementara masyarakat yang memiliki pengalaman dengan tanaman apel ikut merawatnya.

Momentum HUT ke-25 Kota Batu

Gagasan tersebut semakin relevan ketika Kota Batu memasuki usia ke-25 tahun.
Momentum seperempat abad Kota Batu tahun ini mengusung tema “Kreatif SAE: Bangkit Bersama, Jaga Alam Raya untuk mBatu SAE Berkelanjutan.”

Tema tersebut dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa pembangunan Kota Batu perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga alam.

Ruang terbuka hijau pun tidak harus hanya berisi tanaman penghijauan. Ia dapat sekaligus menjadi ruang untuk mempertahankan identitas lokal.

Pohon apel dapat menjadi salah satu pilihan.
Bayangkan jika warga atau wisatawan berjalan di taman Jalan Kembar Sultan Agung dan menemukan pohon apel tumbuh di sepanjang ruang hijau tersebut.

Bukan sekadar ornamen
Bukan pula sekadar patung.
Tetapi pohon yang hidup, tumbuh, berbunga dan suatu hari menghasilkan buah.

Di sanalah cerita Kota Apel dapat kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga Ingatan Kota

Bagi Damir, mungkin persoalannya sesederhana itu: jangan sampai Kota Batu disebut Kota Apel, tetapi pohon apelnya justru semakin sulit ditemukan.

Sementara bagi pemerintah, gagasan tersebut membutuhkan perencanaan agar tanaman yang ditanam benar-benar dapat bertahan.

Keduanya sebenarnya memiliki titik temu yang sama: menjaga identitas Kota Batu.
Menanam pohon apel di taman kota mungkin bukan solusi untuk mengembalikan seluruh lahan apel yang telah berkurang.

Namun, setidaknya, langkah itu dapat menjaga ingatan generasi muda bahwa apel pernah dan masih menjadi bagian penting dari kehidupan Kota Batu.

Karena sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan.
Kota juga dibangun oleh cerita.
Dan bagi Kota Batu, salah satu cerita itu bernama apel.

Mungkin, cerita tersebut bisa kembali dimulai dari satu pohon.
Lalu tumbuh menjadi dua.
Kemudian menjadi deretan pohon yang menghiasi ruang hijau Kota Batu.

Sebuah kota yang ingin menjaga identitasnya, barangkali memang harus mulai dengan menjaga pohonnya. ( Eno).