Salam Satu Jiwa Menggema di PWI Pusat, Sujiwo Tejo Kupas Arema Saat Wahyu Hidayat Bicara Budaya Kota Malang

860317_11zon

Jakarta | Serulingmedia.com – Presentasi Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam tahapan penilaian Anugerah Kebudayaan PWI Pusat berlangsung hangat dan penuh refleksi kebudayaan.

Salah satu momen paling menarik terjadi ketika budayawan nasional Sujiwo Tejo mengangkat fenomena kuatnya persaudaraan Arema yang dinilainya melampaui sekadar identitas suporter sepak bola.

Dengan gaya khasnya yang reflektif dan filosofis, Sujiwo Tejo bertanya langsung kepada Wahyu Hidayat, mengapa Arema di mana pun berada selalu menunjukkan ikatan persaudaraan yang begitu kuat, berbeda dengan kelompok suporter lainnya di Indonesia.

“Arema itu unik. Di mana pun mereka berada, selalu terasa persaudaraannya. Saya ingin tahu, apa yang membuat ikatan itu bisa bertahan lintas ruang dan waktu?” ujar Sujiwo Tejo di hadapan forum penilaian.

Pertanyaan tersebut membuka ruang diskusi tentang identitas, nilai, dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat Malang.

Sementara itu, juri lainnya, Yusuf Susilo Hartono, menyoroti keberlangsungan bahasa walikan sebagai simbol khas budaya Kota Malang di tengah arus modernisasi.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan bahwa kekuatan Arema terletak pada nilai persaudaraan yang diwariskan secara turun-temurun melalui salam “Satu Jiwa”.

“Arema di mana pun berada selalu terikat dalam persaudaraan yang kuat dengan salam Satu Jiwa. Karena itu, dalam salam pembuka presentasi saya sampaikan salam satu jiwa, Arema,” jawab Wahyu Hidayat, yang disambut anggukan para juri.

Presentasi ini merupakan bagian dari rangkaian penilaian Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada kepala daerah atas dedikasi dan kontribusinya dalam memajukan kebudayaan di daerah masing-masing.

Kegiatan ini digelar di Kantor PWI Pusat, Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Dalam paparannya, Wahyu Hidayat menjelaskan berbagai potensi unggulan Kota Malang sebagai fondasi pemajuan kebudayaan, mulai dari seni tradisi, sejarah, kuliner, hingga geliat ekosistem kreatif generasi muda.

Ia juga menegaskan pencapaian Kota Malang yang telah ditetapkan sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO bidang Media Arts pada akhir 2025 lalu.

“Kota Malang memiliki kekuatan budaya yang lengkap, mulai dari warisan sejarah, seni pertunjukan, kuliner tradisional, hingga komunitas kreatif yang aktif dan inovatif. Ini menjadi modal besar untuk pembangunan dan pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan,” ujar Wahyu Hidayat di hadapan tim penilai yang terdiri dari Dr. Nungki Kusumastuti, Agus Dermawan T, Sujiwo Tejo, dan Yusuf Susilo Hartono.

Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan adalah Program 1.000 Event, sebuah inisiatif Pemerintah Kota Malang untuk menghidupkan ruang-ruang budaya sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat.

Program ini meliputi festival seni, pertunjukan budaya, pameran kreatif, hingga agenda berbasis kearifan lokal yang digelar sepanjang tahun.

“Saya menolak lupa. Kebudayaan dan kearifan lokal Kota Malang harus terus dihidupkan agar anak-anak muda juga mengenal jati diri budayanya,” tegas Wahyu.

Selain itu, Pemkot Malang juga berkomitmen memberikan ruang ekspresi seluas-luasnya bagi pelaku seni dan budaya, mendukung UMKM berbasis budaya, serta membangun kolaborasi lintas sektor agar kebudayaan mampu menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata.

Rencananya, Anugerah Kebudayaan PWI Pusat akan diserahkan secara resmi pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Serang, Provinsi Banten.

Melalui momentum ini, Kota Malang kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang konsisten menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan dan identitas daerah—dengan semangat Salam Satu Jiwa yang terus hidup, tumbuh, dan mengakar di tengah masyarakat.(Har/Eno).