Rektor UIN Malang: Jangan Rusak Masa Depan, Gelar Sarjana Bukan Alasan Berhenti Belajar

1982936_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., mengingatkan 814 lulusan agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai akhir perjalanan.

Ia meminta para wisudawan menjaga diri, menghormati orang tua, dan terus mengembangkan kemampuan setelah meninggalkan kampus.

 

Pesan itu disampaikan Ilfi saat Wisuda Program Sarjana dan Pascasarjana ke-94 Periode IV Tahun 2026 di Gedung Sport Center (Gedung Soeharto), Kampus 1 UIN Malang, Minggu (6/9/2026).

Ilfi menyoroti satu hal yang menurut dia paling penting setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan: menjaga masa depan.

“Cintailah dirimu sendiri dengan tidak merusak masa depanmu dengan hal-hal yang tidak baik,” kata Ilfi di hadapan wisudawan.

Ia mengingatkan, tindakan tidak terpuji tidak hanya menjadi persoalan sesaat. Perilaku tersebut dapat berdampak panjang terhadap kehidupan lulusan.

“Melakukan hal yang tidak terpuji berarti kalian merusak masa depan sendiri,” ujarnya.

Menurut Ilfi, kampus telah berusaha memberikan bekal akademik kepada mahasiswa selama empat tahun. Namun, bekal tersebut tidak akan cukup jika lulusan berhenti belajar setelah memperoleh ijazah.

“Para wisudawan dan wisudawati perlu mengembangkan diri, mempersiapkan masa depan kalian,” katanya.

Kampus Tak Hanya Mengejar Gelar

Ilfi mengatakan UIN Malang tidak hanya mengejar capaian akademik. Kampus juga berupaya membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa asing, karakter, mental, dan akhlak.

Ia menyebut seluruh program studi terus diarahkan mencapai akreditasi unggul dan internasional agar lulusan memiliki daya saing lebih luas.

“Kami berusaha memberikan pendidikan yang berkualitas dengan akreditasi unggul dari semua prodi dan akreditasi internasional supaya UIN Malang diakui secara internasional dan lulusannya diterima di dunia kerja manapun,” katanya.

UIN Malang juga memberikan pembekalan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris selama satu tahun. Ilfi menyebut kemampuan tersebut sebagai modal dasar bagi lulusan untuk memasuki dunia kerja di dalam maupun luar negeri.

Selain kompetensi akademik, mahasiswa diwajibkan mengikuti pendidikan ma’had selama satu tahun. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat mental, karakter, dan akhlak mahasiswa.

“Kami juga berusaha menguatkan mental, karakter, dan memberikan bimbingan agar mempunyai akhlak yang mulia,” ujarnya.

Pesan Kedua: Jangan Lupakan Orang Tua

Ilfi kemudian menggeser pesannya dari masa depan lulusan kepada orang-orang yang berada di balik keberhasilan mereka: orang tua.

Ia meminta para wisudawan mencintai orang tua sebagaimana orang tua mencintai mereka tanpa pamrih.

“Cintailah orang tuamu. Bapak, Ibu, Ayah, Bunda yang sudah membesarkan kalian, maka cintailah sepenuh hati,” kata Ilfi.

Menurut dia, ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas perjuangan orang tua.

“Karena atas jasanya kalian bisa sampai wisuda pada hari ini,” ujarnya.

Ilfi mengingatkan bahwa sebagian orang tua tidak dapat hadir menyaksikan anaknya menerima gelar. Ada yang tinggal jauh, tidak memiliki kesempatan datang, atau telah meninggal dunia.

Namun, ia meminta para lulusan tetap mengingat doa dan jasa orang tua.

“Insyaallah sekalipun sudah tiada, orang tua dari wisudawan-wisudawati tetap doanya sampai,” katanya.

Kisah Kiki dan Janji kepada Ibu

Pesan tersebut kemudian mendapat gambaran nyata melalui kisah Rizky alias Kiki, wisudawan Fakultas Psikologi asal Pekanbaru.

Kiki merupakan content creator yang selama ini membawa nama UIN Malang melalui aktivitasnya. Dari penghasilannya, ia berusaha membahagiakan ibunya dengan mengajak umrah.

Namun, sang ibu meninggal dunia ketika berada di Tanah Suci.
Sebelum meninggal, sang ibu sempat menitipkan sejumlah pesan kepada Kiki.

Salah satunya meminta Kiki membawa ayahnya umrah apabila memiliki rezeki.
Pesan tersebut ia tunaikan. Kiki membawa ayah dan adik-adiknya umrah sekaligus berziarah ke makam ibunya di Jeddah, Arab Saudi.

Ada satu pesan lain yang menjadi janji Kiki kepada ibunya: menyelesaikan kuliah S1 pada tahun ini.

Janji itu akhirnya terpenuhi.

“Di mana pun Ibu, semoga Ibu melihat Kiki sudah menyelesaikan janji Kiki ke Ibu untuk menyelesaikan kuliah di tahun ini,” kata Kiki.

Kisah itu menjadi bagian paling emosional dalam pesan Ilfi. Gelar sarjana, dalam kasus Kiki, bukan sekadar pencapaian pribadi.

 

Gelar tersebut menjadi bentuk penunaian janji kepada seorang ibu yang tidak lagi dapat menyaksikannya secara langsung.

814 Lulusan, Mayoritas Cumlaude

Dalam wisuda tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang, Assoc. Prof. Dr. H. Basri, M.A., Ph.D., melaporkan 814 lulusan yang diwisuda.

Sebanyak 777 lulusan berasal dari program sarjana, satu program profesi, 34 program magister, dan dua program doktor.

Fakultas Sains dan Teknologi menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 286 orang, disusul Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan sebanyak 270 orang serta Fakultas Humaniora sebanyak 153 orang.

Jumlah wisudawati mencapai 573 orang atau 70,4 persen, sedangkan wisudawan laki-laki 241 orang atau 29,6 persen.

Dari capaian akademik, 83 persen lulusan sarjana meraih predikat cumlaude dengan rata-rata IPK 3,67. Pada jenjang magister, 94 persen meraih cumlaude dengan rata-rata IPK 3,88. Dua lulusan doktor seluruhnya meraih predikat cumlaude dengan rata-rata IPK 3,80.

Bagi Ilfi, angka-angka tersebut bukan titik akhir. Setelah toga dilepas dan ijazah diterima, tantangan sesungguhnya justru dimulai.

Karena itu, ia meminta para lulusan tidak berhenti pada kebanggaan atas gelar akademik.“Kembangkan diri dan persiapkan masa depan kalian,” pesan Ilfi.( Eno)