Dr. Agung: Lulusan STMM MMTC Jangan Hanya Jadi Pencari Kerja di Era AI

1987794_11zon

Yogyakarta | Serulingmedia.com – Ketua Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC Yogyakarta, Dr. R. Muhammad Agung Harimurti Purnomojati, M.Kom, meminta mahasiswa tingkat akhir dan calon wisudawan mengubah orientasi setelah lulus.

 

Menurut dia, gelar perguruan tinggi semestinya tidak berhenti pada upaya mencari pekerjaan, tetapi menjadi modal untuk menciptakan usaha dan lapangan kerja.

Agung menyampaikan pesan itu saat membuka MMTC Career Compas di Theatre GTD Lantai 3 STMM MMTC Yogyakarta, Senin, (6 /9/ 2026).

 

Kegiatan bertema “Menembus Peluang Karier di Era E-Commerce & Industri Kreatif” tersebut menghadirkan Agra Ghasa dari PT Net Commerce Asia dan Hertauli Harianja, Founder SKID.

“Sekolah itu untuk mendapatkan kehidupan, tidak hanya untuk mendapatkan penghidupan,” kata Agung.

Ia mengatakan pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang. Perguruan tinggi tidak semata-mata menghasilkan ijazah dan pekerjaan dengan penghasilan tertentu, tetapi membentuk kemampuan seseorang menghadapi perubahan zaman.

Agung menilai lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial lebih besar karena kesempatan mengenyam pendidikan tinggi belum dinikmati seluruh masyarakat.

Karena itu, gelar sarjana maupun sarjana terapan, kata dia, harus menghasilkan manfaat yang lebih luas.

“Gelar yang tinggi itu harapannya bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk membantu perusahaan yang teman-teman masuki nanti, tetapi juga akan lebih baik kalau teman-teman bisa membantu pembukaan lapangan kerja,” ujarnya.

AI Mengubah Peta Persaingan

Agung juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menganggap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semata-mata sebagai teknologi pendukung. AI, menurut dia, telah ikut mengubah peta persaingan pekerjaan, termasuk di industri media, e-commerce, dan industri kreatif.

Di lingkungan pendidikan, AI dapat digunakan mahasiswa untuk mencari literatur, berdiskusi, mengembangkan gagasan, hingga meningkatkan kemampuan. Namun, ketika masuk ke dunia profesional, teknologi yang sama berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan manusia.

“Apakah itu teman kita atau pesaing kita, silakan teman-teman nilai,” katanya.

Menurut Agung, perubahan tersebut menuntut lulusan memiliki kecerdasan, kejelian, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.

 

Kemampuan bertahan menghadapi perubahan menjadi modal awal sebelum seseorang berbicara tentang kemenangan dalam persaingan.

“Bisa survive dulu, soalnya itu yang penting: survive. Memenangkan itu ada di tahap yang berikutnya,” ujarnya.

Career Center Pantau Nasib Alumni


Wakil Ketua STMM MMTC Yogyakarta, Siti Sarifah, S.PT., M.Si., mengatakan kampus menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional melalui Unit Career Center.

Seminar karier menjadi agenda rutin menjelang wisuda. Selain pembekalan, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi wawancara bagi mahasiswa tingkat akhir dan calon wisudawan.

“Menjadi tugas kami di Unit Career Center untuk mempersiapkan mahasiswa agar siap masuk ke dunia kerja, salah satunya lewat kegiatan hari ini,” kata Siti.

Career Center juga menyediakan informasi lowongan pekerjaan dan peluang pemagangan bagi mahasiswa dan alumni melalui kanal resmi Career Center serta media sosial Kemahasiswaan dan Karier STMM.

Kampus juga menjalankan Tracer Study untuk mengetahui perjalanan alumni setelah menyelesaikan pendidikan. Penelusuran dilakukan dua kali, yakni saat wisuda dan enam bulan setelah wisuda.

Data tersebut digunakan untuk memetakan status alumni, mulai dari bekerja, menjalankan usaha, hingga melanjutkan pendidikan.

Hasil tracer study menjadi bahan evaluasi kampus dalam memperbaiki kurikulum dan menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.

“Tracer study ini sangat penting bagi kami, terutama untuk pemenuhan akreditasi, baik institusi maupun program studi,” ujar Siti.

Ia mengajak alumni berpartisipasi mengisi tracer study melalui platform KarirLink.

Melalui MMTC Career Compas, STMM MMTC memperkuat hubungan antara kampus, mahasiswa, alumni, dan dunia industri.

 

Di tengah penetrasi AI ke dunia kerja, kampus tidak hanya menyiapkan lulusan sebagai pencari kerja, tetapi juga mendorong mereka menjadi profesional, entrepreneur, dan pencipta lapangan kerja. (Eno)