Mahasiswa UIN Malang Menginspirasi Jamaah Lombok Tengah, Mohammad Ghazy Gaungkan Spirit Salat dalam Peringatan Isra Mi’raj

Screenshot_2026-01-27-09-00-51-865_com.miui.gallery-edit

Malang | Serulingmedia.com – Mohammad Ghazy, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, tampil menginspirasi sebagai penceramah dalam Peringatan Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid Al-Azhar, Dusun Kelana, Desa Sepakek, Kabupaten Lombok Tengah, Minggu lalu.

Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri Ketua DKM (penghulu), Kepala Dinas Sosial, tokoh-tokoh agama dan masyarakat Dusun Kelana, serta warga setempat, termasuk para ibu-ibu dan jamaah masjid.

Kehadiran mahasiswa Humaniora sebagai khatib sekaligus penceramah memberikan warna tersendiri dan menjadi bukti nyata peran generasi muda dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Dalam ceramahnya, Mohammad Ghazy mengangkat tema urgensi salat sebagai pesan rohani utama dari peristiwa Isra Mi’raj.

Ia menekankan bahwa salat tidak semestinya dipahami sebatas kewajiban formal, melainkan sebagai fondasi pembentukan kepribadian dan keharmonisan hidup, baik secara spiritual maupun sosial.

“Masih banyak ditemukan praktik salat yang sebatas menggugurkan kewajiban, sementara esensi salat sebagai ibadah yang tanhā ‘anil fahshā’i wal munkar belum benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan,” ungkap Ghazy di hadapan jamaah.

Ia juga menyoroti keutamaan bulan Rajab sebagai momentum refleksi, koreksi, dan evaluasi diri. Menurutnya, Rajab menjadi pintu pembuka untuk memperbaiki kualitas ibadah sekaligus perilaku sosial umat Islam agar lebih selaras dengan nilai-nilai ketakwaan.

Bagi Ghazy, kesempatan menjadi penceramah dalam forum keagamaan tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Ia mengaku merasa senang sekaligus bangga, namun menyadari besarnya amanah yang melekat pada peran seorang khatib dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat.

“Menjadi khatib bukanlah peran yang bisa dilakukan secara sembarangan. Ada amanah besar yang harus dijaga, karena setiap kata yang disampaikan akan dimintai pertanggungjawaban,” tuturnya.

Usai kegiatan, Ghazy mengungkapkan rasa syukur dan haru atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia menilai momen tersebut bukan sekadar ruang berdakwah, melainkan juga pengingat spiritual bagi dirinya sebagai mahasiswa.

“Alhamdulillah, berdiri di hadapan jamaah bukan semata-mata tentang menyampaikan materi, tetapi tentang menundukkan hati. Saya merasa diingatkan kembali bahwa ilmu dan lisan ini adalah titipan Allah yang kelak harus dipertanggungjawabkan,” ujar Ghazy usai kegiatan, Selasa (27/1/2026).

Ia menambahkan, interaksi langsung dengan masyarakat memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya dakwah yang membumi, penuh ketulusan, dan relevan dengan realitas kehidupan jamaah.

“Saya belajar bahwa dakwah yang paling kuat adalah keteladanan dan keikhlasan. Semoga apa yang disampaikan kemarin menjadi wasilah kebaikan, menguatkan salat kita, dan menghadirkan keberkahan bagi seluruh jamaah,” ungkapnya.

Ghazy berharap, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal spiritual dalam perjalanan akademik dan pengabdiannya ke depan.

“Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing langkah kita, menjaga niat kita, dan menjadikan ilmu yang dipelajari sebagai cahaya, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat,” pungkasnya.

Kiprah Mohammad Ghazy di Lombok Tengah menunjukkan bahwa mahasiswa Humaniora tidak hanya berperan di ruang akademik, tetapi juga mampu mengambil peran strategis dalam pembinaan keagamaan dan sosial.

Kontribusi ini sekaligus menegaskan komitmen mahasiswa UIN Malang sebagai agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai keislaman yang reflektif, moderat, dan transformatif di tengah masyarakat.( Eno).