Madrasah Puasa: Transformasi Ekonomi Syariah Menuju Etika dan Keberlanjutan
Makassar | Serulingmedia.com – Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Menurut Prof. Dr. H. Salim Basalamah, SE., M.Si., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia (UMI), puasa adalah sebuah “madrasah karakter” yang mampu membentuk perilaku ekonomi umat Islam menjadi lebih etis, berkeadilan, dan berkelanjutan.
“Puasa adalah sekolah karakter yang intensif. Saat kita menahan lapar dan haus, kita belajar menahan keinginan yang lain, termasuk dalam bertransaksi ekonomi,” ujar Salim, Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan, “Kalau hal yang halal saja bisa ditinggalkan demi taat pada Allah, tentu praktik ekonomi yang curang atau eksploitatif juga bisa kita hindari.”
Dalam pandangan Prof. Salim, puasa mengajarkan manajemen diri yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Misalnya, dalam berbelanja selama Ramadan, umat dilatih untuk mengendalikan konsumsi, memilih produk halal, dan mengurangi pemborosan makanan.
“Saya sering mengingatkan mahasiswa, jika kita mampu menahan diri saat lapar, kita juga mampu menahan diri dari keserakahan dan praktik bisnis yang merugikan orang lain,” katanya.
Selain itu, madrasah puasa mendukung praktik ekonomi berkelanjutan. Salim mencontohkan, nilai kesederhanaan dan pengendalian konsumsi yang dilatih selama puasa sejalan dengan prinsip investasi etis dan penggunaan instrumen keuangan hijau, seperti sukuk hijau (green sukuk).
“Ini bukan hanya soal keuntungan materi, tapi juga menjaga bumi dan sumber daya untuk generasi mendatang,” jelasnya.
Puasa juga memperkuat instrumen sosial-ekonomi melalui ZISWAF—zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Salim menekankan, dana yang dikelola lembaga amil bisa digunakan untuk membantu masyarakat kurang mampu dan mendukung pertumbuhan ekonomi UMKM secara inklusif.
“Saya selalu menekankan, zakat dan sedekah adalah bentuk nyata redistribusi kekayaan. Mereka yang diberi bantuan bisa bertahan secara ekonomi, bahkan berkembang,” katanya.
Momentum Ramadan juga dimanfaatkan UMKM untuk mengembangkan bisnis berbasis syariah. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal, serta dukungan digitalisasi, usaha kecil bisa menjangkau pasar lebih luas.
“Bukan sekadar menjual produk, tapi menjual keberkahan,” imbuhnya.
Salim menutup dengan pesan moral: “Transformasi ekonomi syariah melalui madrasah puasa bukan hanya teori. Ini adalah praktik nyata yang membentuk masyarakat yang etis, produktif, dan sejahtera. Dengan nilai takwa sebagai dasar, kita bisa membangun ekonomi yang diridai Allah SWT” (Yah/Eno)






