Komisi C DPRD Batu Akan Menghidupkan Kembali Ikon Wisata Kota Batu: Pentingnya Revitalisasi Bianglala Alun-Alun
Batu | Serulingmedia.com – Alun-Alun Kota Batu telah lama menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.

Keberadaan bianglala di tengah alun-alun tersebut menjadi daya tarik utama, memikat pengunjung dengan pengalaman unik menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa bianglala tersebut tidak beroperasi, menimbulkan berbagai keluhan dari warga dan pedagang setempat.
Bianglala di Alun-Alun Kota Batu bukan sekadar wahana rekreasi; ia merupakan ikon yang memperkuat identitas kota. Ketika bianglala ini tidak berfungsi, dampaknya langsung terasa.
Pengunjung yang biasanya ramai mendatangi alun-alun kini berkurang secara signifikan. Warga yang biasa menikmati suasana alun-alun dan para pedagang yang mengandalkan keramaian untuk menjual dagangan mereka, semuanya merasakan dampak negatifnya.
Kondisi ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk Ketua Komisi C DPRD Batu, Khamim Tohari. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya masih dalam tahap mempertimbangkan usulan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu untuk pengadaan bianglala baru melalui PAK-APBD 2025.
“Untuk usulan DLH Kota Batu tentang pengadaan bianglala yang sudah masuk, kami masih akan kaji dan pertimbangkan. Karena dari banggar akan melihat apakah bianglala menguntungkan bagi PAD Kota Batu,” ungkapnya pada Rabu (17/7/2024).
Keputusan ini diambil dengan hati-hati mengingat pentingnya bianglala sebagai ikon kota dan dampaknya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu.
Khamim Tohari menyatakan komitmennya untuk menghidupkan kembali kondisi bianglala di alun-alun. Menurutnya, berbagai opsi sedang dipertimbangkan untuk merevitalisasi ikon wisata ini.
” kami berupaya untuk menghidupkan kembali kondisi bianglala di Alun-Alun,” ujar Khamim.
Langkah ini diambil untuk mengembalikan daya tarik alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat dan wisatawan.

Revitalisasi bianglala tidak hanya akan memperbaiki tampilan alun-alun, tetapi juga menghidupkan kembali perekonomian lokal. Dengan beroperasinya kembali bianglala, diharapkan jumlah pengunjung ke alun-alun akan meningkat, sehingga pedagang dapat kembali memperoleh penghasilan yang stabil.
Selain itu, warga Kota Batu juga akan kembali menikmati ikon kebanggaan mereka, yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
” namun, upaya revitalisasi ini tentu memerlukan perencanaan yang matang. Pendanaan menjadi salah satu tantangan utama yang harus diatasi ” lanjut Khamim.
Pemerintah Kota Batu dan DPRD sedang mempertimbangkan berbagai sumber dana, termasuk kemungkinan kerjasama dengan pihak ketiga melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Ketua Komisi C DPRD Batu, Khamim Tohari, menegaskan bahwa jika Pemkot tidak memiliki anggaran, komisi C akan mencari opsi lain seperti dengan mencari pihak ketiga melalui program CSR. Meskipun opsi ini menjanjikan, prosesnya harus sesuai dengan regulasi yang ada agar tidak menghambat pelaksanaan proyek.
” Jika Pemkot tidak ada anggaran, komisi C akan mencari opsi lain seperti dengan mencari pihak ketiga melalui program CSR,” tambahnya.
Penghidupan kembali bianglala di Alun-Alun Kota Batu adalah langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan destinasi wisata ini.
Dengan komitmen dari pemerintah kota Batu dan dukungan masyarakat, diharapkan alun-alun akan kembali ramai dan menjadi pusat aktivitas yang menghidupkan suasana kota. Lebih dari sekadar wahana rekreasi, bianglala ini adalah simbol kebanggaan warga Kota Batu yang layak untuk dijaga dan diperhatikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Muji Dwi Leksono menyatakan bahwa pihaknya memang sedang mengajukan usulan untuk pengadaan bianglala baru dalam PAK-APBD 2025.
Usulan ini mencakup dua opsi anggaran, yaitu pengadaan bianglala setinggi 49 meter dengan 28 keranjang yang memerlukan anggaran sekitar Rp 9,7 miliar, dan bianglala setinggi 52 meter dengan 32 keranjang serta dua kaki dengan harga Rp 13,5 miliar.
Namun, Muji menegaskan DLH tetap mengupayakan pengelolaan operasional secara mandiri tanpa melibatkan CSR.
“Jika melibatkan CSR harus merubah Perda tentang pajak dan retribusi daerah, jadinya semakin lama prosesnya,” tuturnya.
Dalam menghadapi situasi ini, penting bagi Pemerintah Kota Batu dan DPRD untuk mengevaluasi dengan cermat setiap opsi yang ada.
Pengadaan bianglala baru di Alun-Alun bukan hanya soal mempercantik kota, tetapi juga menghidupkan kembali perekonomian lokal melalui peningkatan jumlah pengunjung.
Kolaborasi dengan pihak ketiga melalui CSR memang bisa menjadi solusi alternatif, namun harus dipertimbangkan dampaknya terhadap regulasi dan waktu pelaksanaan.
Dengan pertimbangan yang matang, diharapkan revitalisasi bianglala Alun-Alun Kota Batu bisa segera terwujud, membawa manfaat yang signifikan bagi masyarakat, pedagang, dan sektor pariwisata Kota Batu secara keseluruhan.( Eno )






