Know More, Fear Less: UIN Malang Gaungkan Perlawanan terhadap Kekerasan Seksual lewat Psikologi dan Medis

IMG-20250526-WA0018

Malang I Serulingmedia.com – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kampus yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.

Lewat kegiatan sosialisasi bertajuk “Know More, Fear Less”, PSGA mengangkat tema “Meningkatkan Kesadaran dan Pencegahan Kekerasan Seksual melalui Pendekatan Psikologi dan Kedokteran”, yang digelar di Masjid Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Malang, Minggu (25/5/2025).

Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan, tetapi juga menjadi ruang edukasi mendalam yang menyinergikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketua PSGA UIN Malang, Dr. Hj. Istiadah, MA, menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan bertumpu pada keilmuan psikologi dan medis untuk membongkar stigma dan membangun empati.

“Melalui kolaborasi antara ilmu psikologi dan kedokteran, kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan kekerasan seksual bukan hanya urusan moral, tetapi juga menyangkut kesehatan mental dan neurologis korban,” ujar Dr. Istiadah.

Senada dengan itu, KH. Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI, Mudir Pusat Ma’had al-Jami’ah, menekankan bahwa seluruh elemen kampus harus terlibat aktif menciptakan lingkungan yang aman dan suportif.

“Musyrif dan musyrifah harus menjadi duta pencegahan kekerasan seksual. Ini tugas mulia yang harus dijalankan demi menjamin tidak ada ruang bagi kekerasan di kampus ini,” tegasnya.

Dua narasumber ahli dihadirkan untuk memperkuat materi sosialisasi. Dr. dr. Retry Ratnawaty, M.Sc., pakar neurosains, mengupas bagaimana kekerasan seksual berdampak pada sistem saraf dan trauma otak. Sementara itu, dr. Elok Halimatus Sa’diyah, M.Psi., psikolog klinis, memaparkan strategi pemulihan psikologis korban dan pentingnya keberanian untuk melapor.

Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para peserta, yang terdiri dari musyrif, musyrifah, murabbi, dan murabbiah Ma’had. Diskusi interaktif dan sesi tanya jawab menjadi ajang refleksi sekaligus langkah awal membentuk budaya kampus yang lebih inklusif dan peduli.

Acara ditutup dengan seruan solidaritas bersama, mengajak seluruh sivitas akademika untuk bergerak aktif dalam melawan segala bentuk kekerasan seksual serta membangun atmosfer kampus yang sehat secara mental, spiritual, dan sosial.(Eno).