Keluarga Mataraman Gelar Selamatan Kenduri Suro, Doakan Keselamatan Seluruh Umat

Screenshot_2025-06-27-06-39-32-349_com.miui.gallery-edit

Kediri | Serulingmedia.Com– Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti Pendopo Pamoksan pada Kamis (26/6/2025 ) saat Keluarga Besar Mataraman menggelar acara Selamatan Kenduri Suro.

Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi spiritual dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Mataraman dalam menyambut datangnya bulan Suro (Muharram).

Acara dipimpin langsung oleh Juru Kunci Gabin, dengan dihadiri oleh puluhan warga dari berbagai lapisan masyarakat. Doa keselamatan dipanjatkan bersama untuk seluruh umat manusia, tanpa membeda-bedakan agama, suku, atau golongan.

Momen ini sekaligus menjadi ajang mempererat tali silaturahmi dan menjaga harmoni antarwarga.

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi juga bentuk ikhtiar batin kita untuk memohon keselamatan lahir batin. Harapan kami, masyarakat tetap rukun, guyub, dan tentrem,” ujar Juru Kunci Gabin saat membuka prosesi doa.

Makna Simbolik dalam Sajian Kenduri

Sebagaimana tradisi kenduri Suro pada umumnya, berbagai sajian khas disiapkan, masing-masing mengandung filosofi mendalam. Di antaranya:

Jenang Suro dan Nasi Suro, sebagai lambang kesucian niat dan awal baru.

Nasi Golong, simbol persatuan dan ketulusan hati.

Tumpeng Kuat serta variasi tumpeng abang, kuning, dan ireng, menggambarkan kekuatan, keberanian, kemuliaan, dan keteguhan menghadapi cobaan hidup.

Tumpeng Kabul, sebagai wujud doa agar segala harapan dapat dikabulkan.

Polo Pendem (umbi-umbian), sebagai pengingat untuk hidup rendah hati.

Sajian jajan pasar, buah-buahan, hingga kolak Kencono dan gedang ijo sak kembaran menambah kekayaan simbolik dan makna spiritual dari acara ini.

Tidak ketinggalan, dawet rujak legi disuguhkan sebagai perlambang kehidupan yang penuh rasa—manis, asam, pedas—sebagai bagian dari proses menjadi manusia seutuhnya.

Warisan Budaya yang Terus Dihidupkan

Acara yang terbuka untuk umum ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Banyak warga yang mengaku terharu dan bangga bisa turut serta dalam prosesi adat yang sarat nilai spiritual dan sosial ini.

“Tradisi ini mengajarkan kami untuk selalu bersyukur, menghormati leluhur, dan menyatu dalam kebersamaan. Semoga bisa terus dilestarikan oleh generasi muda,” ujar salah satu warga yang hadir.

Dengan diselenggarakannya Selamatan Kenduri Suro ini, Keluarga Mataraman berharap nilai-nilai luhur warisan nenek moyang tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Tradisi bukan sekadar ritual, melainkan jembatan menuju kedalaman makna hidup dan kebersamaan antarumat.( Eno).