Hilal Tak Terlihat di Malang dan Gresik, Idulfitri 1447 H Menanti Sidang Isbat

1177345_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Penentuan awal Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah, setelah hilal tidak terlihat dalam rukyatul hilal yang dilakukan di wilayah Malang dan Gresik, Kamis (19/3/2026) bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.

 

Tim dari Unit Falak Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersamakomunitas Qiblatuna melaksanakan pengamatan hilal di Gedung Pemerintah Kabupaten Malang.

 

Sebelum rukyat dilakukan di lantai 9, para peserta terlebih dahulu mendapatkan pengarahan terkait posisi hilal dan kondisi astronomis yang menjadi acuan observasi.

 

Namun, berdasarkan hasil pengamatan, hilal tidak berhasil terlihat di wilayah Malang dan sekitarnya. Hasil ini menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penetapan awal bulan Syawal oleh pemerintah.

Kegiatan rukyatul hilal tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Kementerian Agama Kabupaten Malang, BMKG Kabupaten Malang, serta sejumlah lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Laporan serupa juga datang dari Gresik. Tim rukyat dari komunitas Qiblatuna yang berada di wilayah tersebut menyampaikan bahwa hilal juga tidak tampak.

 

Pengamatan di Gresik terkendala cuaca buruk, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut.

Dosen Ilmu Falak, Miftahudin Azmi, menjelaskan bahwa penetapan Hari Raya Idulfitri merupakan kewenangan pemerintah yang akan diputuskan melalui sidang isbat.

 

Ia menegaskan bahwa individu maupun organisasi hanya berperan menyampaikan hasil pengamatan (ikhbar).

“Perbedaan adalah hal yang mungkin terjadi. Yang terpenting adalah menjaga persatuan dan saling menghormati,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah UIN Malang, Umi Sumbulah, menegaskan bahwa keterlibatan fakultas dalam rukyatul hilal merupakan bagian dari pengabdian akademik kepada masyarakat.

“Kegiatan ini mencerminkan peran strategis Fakultas Syariah dalam mengintegrasikan keilmuan, khususnya ilmu falak, dengan kebutuhan umat. Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam penentuan waktu ibadah yang akurat dan berbasis ilmiah,” tuturnya.

Ia juga berharap kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa dan masyarakat luas.

 

“Melalui keterlibatan langsung, mahasiswa dapat memahami penerapan ilmu falak secara praktis sekaligus memperkuat tradisi keilmuan Islam berbasis observasi dan penelitian,” pungkasnya. (Eno)