Gus Ali Gebrak Kota Batu: Suara Melonjak Tiga Kali Lipat, KPU Gelar Sosialisasi Pemilu 2025!

Screenshot_2025-09-26-16-00-20-672_com.android.chrome-edit

Batu | Serulingmedia.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menggelar Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2025 di Hotel Zam-Zam, Kota Batu, Jumat (26/9/2025).

Acara ini dihadiri anggota Komisi II DPR RI, H. Ali Ahmad SH atau akrab disapa Gus Ali.

Dalam sambutannya, Gus Ali menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kota Batu yang terus memberikan dukungan.

ia menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kepercayaan warga Kota Batu yang terus meningkat dalam mendukungnya sebagai wakil rakyat.

Dari sekitar 3.000 suara pada Pemilu 2019, angka dukungan melonjak menjadi lebih dari 10.000 suara pada Pemilu 2024.

Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan amanah yang harus dijaga dan diperjuangkan.

“Ini luar biasa. Saya hanya bisa berdoa, karena belum bisa membalas apa-apa,” ungkap Gus Ali, politisi asal Malang raya yang dikenal sebagai Arema sejati.

Demokrasi tidak hanya lahir dari proses pencoblosan di bilik suara, melainkan juga dari kesadaran masyarakat dalam memahami makna partisipasi politik.

Gus Ali juga menyinggung dinamika demokrasi Indonesia yang begitu cepat berubah, khususnya pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi terkait pelaksanaan Pemilu.

Ia menekankan bahwa wacana penyelenggaraan Pemilu lebih dari satu kali dalam lima tahun masih bergantung pada revisi undang-undang Pemilu dan Partai Politik.

Polemik inilah yang menunjukkan bahwa demokrasi selalu berada dalam ruang diskursus, yang perlu dipahami oleh publik agar tidak terjebak dalam informasi simpang siur.

” hal itu masih menunggu pembahasan rancangan Undang-Undang Partai Politik dan Pemilu ” Pungkasnya.

Senada dengan itu, Ketua KPU Kota Batu, Heru Joko Purwanto, menekankan urgensi pendidikan pemilih berkelanjutan.

Menurutnya, kegiatan sosialisasi bukan sekadar rutinitas formal, tetapi juga wadah untuk membentengi masyarakat dari hoaks dan disinformasi yang seringkali mempengaruhi persepsi publik menjelang pesta demokrasi.

Dengan literasi politik yang baik, masyarakat diharapkan mampu bersikap kritis, objektif, dan cerdas dalam menentukan pilihan.

“Informasi yang benar harus dipahami masyarakat agar tidak terjebak pada kabar bohong,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi politik warga, sekaligus memastikan masyarakat siap menghadapi berbagai dinamika menuju Pemilu mendatang.

Acara ini menghadirkan 100 peserta dari unsur Fatayat dan muslimah, menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menyebarkan informasi politik yang sehat di lingkungannya.

Kehadiran mereka bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam membangun kualitas demokrasi di tingkat akar rumput.

Dari kegiatan ini, tergambar jelas bahwa demokrasi membutuhkan proses berkelanjutan, bukan instan.

Pendidikan pemilih tidak boleh berhenti setelah kotak suara ditutup, tetapi harus terus digelorakan agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan dinamika politik.

Dengan demikian, demokrasi Indonesia akan tumbuh semakin matang, sehat, dan berakar kuat di tengah masyarakat.( Eno).