GAZA ke-13 UIN Malang Berpuncak Megah: Bahasa Arab Bergema dari Nusantara hingga Malaysia
Malang | Serulingmedia.com — Suasana Aula Gedung C UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pecah oleh tepuk tangan dan sorak kagum ratusan pelajar pada Kamis (9/10/2025).
Inilah puncak kemeriahan Gebyar Apresiasi Khazanah Araby (GAZA) ke-13 — ajang tahunan yang menjadi pesta besar bagi para pecinta bahasa Arab dari seluruh Indonesia dan, untuk pertama kalinya, dari Malaysia.
Setelah tiga hari penuh kompetisi sengit, GAZA ke-13 akhirnya mencapai babak akhir yang ditandai dengan lomba debat bahasa Arab (Munadzarah), cerdas cermat (Imathah), dan mendongeng dalam bahasa Arab (Taqdimul Qishah).
Ketiga lomba ini menjadi puncak unjuk kemampuan para pelajar yang telah menaklukkan berbagai tantangan sejak 7 Oktober lalu.
Adu Kecerdasan dan Kefasihan di Panggung Final
Para finalis tampil percaya diri di hadapan dewan juri dan ratusan penonton.
Debat bahasa Arab menjadi salah satu sesi paling menegangkan, di mana peserta tidak hanya diuji kemampuan berbicara, tetapi juga kecepatan berpikir dan kedalaman argumen.
Sementara itu, dalam cabang Taqdimul Qishah, sejumlah peserta memukau penonton lewat kisah-kisah islami yang disampaikan dengan ekspresi dramatis dan bahasa Arab yang fasih.

“Anak-anak ini luar biasa. Mereka tidak hanya menguasai bahasa, tetapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai luhur melalui cerita dan debat,” ujar Ahmad Muballigh, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, dalam sambutannya.
Penutupan Sarat Makna dan Apresiasi
Acara penutupan berlangsung khidmat namun meriah. Panitia membacakan nama-nama pemenang dari delapan cabang lomba, mulai dari Khitobah, Qira’ah al-Syi’r, Kaligrafi, Qira’atil Kutub, Ghina Araby, hingga tiga lomba pamungkas hari ini.
Masing-masing pemenang menerima piagam, trofi, dan penghargaan khusus dari panitia serta dukungan dari pihak kampus.
Dalam kesempatan itu, Muhammad Laudza’ul Arobi, Ketua Panitia GAZA ke-13, menyampaikan rasa bangganya terhadap semangat para peserta.
“GAZA bukan hanya ajang perlombaan, tetapi wadah persaudaraan lintas daerah dan bahkan lintas negara. Kami ingin bahasa Arab terus hidup di hati generasi muda,” ungkapnya.
Dari Malang, Gema Bahasa Arab Menggema ke Dunia
GAZA ke-13 menjadi penanda bahwa minat terhadap bahasa Arab di kalangan pelajar Indonesia masih sangat kuat.
Dengan partisipasi pelajar Malaysia, ajang ini juga menunjukkan bahwa bahasa Arab menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.
“Melalui GAZA, kami berharap lahir generasi yang tidak hanya fasih berbahasa Arab, tetapi juga mampu membawa nilai-nilai Islam dan peradaban ke dunia global,” tutur Ahmad Muballigh menutup sambutannya.
Sorotan lampu panggung, sorak sorai peserta, dan lantunan Ghina Araby yang menggema di penghujung acara menjadi simbol keberhasilan GAZA ke-13: bahasa Arab bukan sekadar bahasa, melainkan semangat, budaya, dan identitas yang terus hidup di tengah zaman.( Eno)






