Gadget Makin Melekat pada Anak, Mahasiswa Psikologi UIN Malang dan UHAMKA Edukasi Orang Tua di RSJI Klender
Jakarta | Serulingmedia.com – Gadget kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak.
Di balik kemudahan teknologi, muncul tantangan bagi orang tua untuk memastikan penggunaan gadget tidak menggeser kebutuhan anak akan interaksi, stimulasi, dan pendampingan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan psikoedukasi kolaboratif yang digelar mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bersama mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) Jakarta di Rumah Sakit Jiwa Indonesia (RSJI) Klender, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Kegiatan berlangsung pukul 09.00 hingga 10.00 WIB di ruang tunggu RSJI Klender. Mengusung tema “Peran Orang Tua dalam Mendukung Perkembangan Anak Sejak Dini”, psikoedukasi menyasar orang tua dan pasien yang tengah menunggu layanan.
Kolaborasi mahasiswa dari dua perguruan tinggi tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam memberikan edukasi psikologis kepada masyarakat.
Kegiatan tidak hanya menjadi bagian dari pengalaman praktik lapangan mahasiswa, tetapi juga mendorong sinergi antarmahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu psikologi secara langsung.
Nafisa Putri Fadhila bersama mahasiswa PKL lainnya terlibat dalam penyampaian materi. Para mahasiswa mengajak peserta memahami bahwa proses tumbuh kembang anak membutuhkan keterlibatan aktif orang tua, baik melalui komunikasi, perhatian, pendampingan, maupun pemberian stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Pertanyaan Soal Gadget Jadi Sorotan
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu orang tua menyampaikan pertanyaan mengenai bagaimana menghadapi anak yang sudah terbiasa menggunakan gadget.
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai pentingnya pendampingan orang tua dan penyediaan aktivitas alternatif bagi anak.
Mahasiswa mengarahkan peserta untuk tidak hanya berfokus pada pembatasan penggunaan gadget, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat anak tertarik melakukan kegiatan lain.
Bermain bersama, membaca, berkomunikasi, hingga aktivitas kreatif dapat menjadi pilihan stimulasi yang dilakukan dalam keseharian.
“Kehadiran orang tua sangat penting dalam proses perkembangan anak. Pendampingan bukan hanya soal mengawasi, tetapi bagaimana orang tua terlibat dalam aktivitas dan membangun komunikasi dengan anak,” demikian pesan yang disampaikan dalam sesi edukasi.
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman penting untuk mengimplementasikan teori psikologi yang diperoleh selama perkuliahan.
Mereka dituntut mampu membaca kebutuhan peserta, mengemas materi dengan bahasa sederhana, serta membangun komunikasi dua arah agar pengetahuan psikologi dapat diterima dan diterapkan masyarakat.
Kolaborasi Mahasiswa Perkuat Edukasi Psikologis
Kolaborasi antara mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan mahasiswa UHAMKA Jakarta memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Sinergi tersebut mempertemukan mahasiswa dari dua perguruan tinggi untuk bersama-sama menghadirkan edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui interaksi langsung dengan peserta, mahasiswa juga belajar membangun kerja sama, berbagi perspektif, serta menyampaikan materi psikologi secara komunikatif.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa praktik pembelajaran psikologi dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lingkungan pelayanan masyarakat.
Dosen: Mahasiswa Harus Mampu Menerjemahkan Ilmu
Dosen pembimbing PKL, Dr. Muh Anwar Fu’ady, S. Psi., MA, menegaskan bahwa pengalaman lapangan memiliki peran penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa.
“PKL memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi psikologi secara langsung di lapangan. Dengan mengadakan psikoedukasi, mahasiswa belajar menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi informasi yang aplikatif dan mudah dipahami masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, kemampuan menerapkan ilmu secara langsung menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa psikologi. Interaksi dengan masyarakat juga memberikan pengalaman dalam memahami persoalan dan kebutuhan psikologis yang beragam.
Kegiatan psikoedukasi kolaboratif di RSJI Klender menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama mahasiswa UHAMKA Jakarta dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Lebih dari sekadar kegiatan PKL, psikoedukasi tersebut menjadi ruang pembelajaran dua arah.
Mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan, membangun kolaborasi, sekaligus memberikan informasi yang dapat menjadi bekal bagi masyarakat dalam mendampingi perkembangan anak.
Di tengah semakin dekatnya anak dengan teknologi, pesan utama kegiatan tersebut kembali mengingatkan bahwa gadget bukan pengganti peran orang tua.
Kehadiran, komunikasi, dan pendampingan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak.(Eno).






