Di Tengah Derasnya Tantangan Ekonomi, BI Mengajak Media Mengawal UMKM Naik Kelas
Malang | Serulingmedia.com — Ruang aula Kampus C Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang siang itu tampak berbeda. Puluhan wartawan dari berbagai media berkumpul, bukan untuk meliput, melainkan untuk belajar, berdiskusi, dan menajamkan perspektif tentang peran mereka dalam kebangkitan UMKM Indonesia.
Di panggung sederhana, Dedi Prasetyo, perwakilan Bank Indonesia Malang, berdiri dengan setumpuk data yang siap membuka mata banyak orang. Suaranya tenang, tetapi penuh penekanan:
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Namun tantangannya sekarang jauh lebih kompleks.”
Kalimat itu menjadi titik awal perjalanan diskusi yang hangat dalam Talk Show bertema “Peran Media dalam Mendongkrak UMKM Naik Kelas”, bagian dari Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Malang Raya, Jumat (28/11/2025).
Angka-Angka yang Menyimpan Cerita
Dedi mengajak peserta melihat UMKM bukan sekadar angka, melainkan denyut kehidupan jutaan keluarga Indonesia.
Tahun 2019, UMKM:
menguasai 99,9% unit usaha,
menyumbang 57,14% PDB,
menyerap 96,92% tenaga kerja, atau 119,56 juta orang.
“Di balik angka ini ada pedagang kecil, petani, pengrajin, mereka semua menopang ekonomi kita,” katanya.
Namun, di balik kontribusi besar itu, muncul persoalan yang justru menahan langkah UMKM untuk naik kelas.
Lelah Berlari, Tapi Terkendala Akses
Dalam paparannya, Dedi menyentuh masalah yang terasa dekat dengan pelaku UMKM: akses pembiayaan yang kian menyempit. Rasio kredit UMKM justru turun dari 21,17% (2022) menjadi 20,3% (2023).
“Banyak UMKM ingin berlari lebih cepat, tapi track-nya tidak mulus,” tuturnya.

Begitu pula dengan akses ekspor. Banyak UMKM sebenarnya punya potensi produk yang digemari pasar global, namun terbentur sertifikasi, standar kualitas, dan kontinuitas produksi.
Literasi digital pun menjadi isu tersendiri. Walau internet telah menjangkau sebagian besar masyarakat, tingkat pemanfaatan e-commerce oleh UMKM masih tertahan oleh minimnya modal, perangkat, SDM digital, hingga keterbatasan bahasa asing.
BI dan Jalan Baru untuk UMKM
Bank Indonesia, melalui berbagai program, mencoba membuka jalan yang lebih terang bagi pelaku usaha kecil. Dedi memperkenalkan tiga strategi besar: kebijakan, implementasi, dan sinergi.
Tiga pilar utama—korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan akses pembiayaan—menjadi fondasi pembentukan UMKM yang lebih kuat.
Program digitalisasi juga digencarkan.
Melalui e-Farming, e-Commerce Onboarding, dan SI APIK, BI menyiapkan pelaku usaha agar siap bertransformasi menuju ekosistem digital yang semakin dominan.
QRIS: Gerbang Baru Perdagangan Mikro
Salah satu cerita sukses yang dibawa Dedi adalah perkembangan QRIS di Malang Raya.
Pada Oktober 2025 saja, transaksi QRIS menembus 17,25 juta, naik 92,2% dibanding tahun sebelumnya.
Jumlah merchant pun mencapai 3,3 juta, dan yang terbanyak adalah usaha mikro.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, ini kebutuhan. Dan kita melihat UMKM mulai menerima itu,” ujarnya.
Media, Penjaga Cerita Perubahan
Sebagai penutup, Dedi mengajak para jurnalis melihat diri mereka bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai penjaga cerita—cerita perjuangan UMKM yang sedang melangkah menuju masa depan yang lebih besar.
“Media punya kekuatan untuk mengangkat, mengingatkan, dan mempengaruhi arah perubahan. UMKM butuh itu.”
Talk show sore itu bukan sekadar sesi tanya jawab. Ia menjadi ruang refleksi, ruang pertemuan antara data dan empati, antara tantangan dan harapan.
Di tengah perjalanan UMKM yang tidak mudah, suara media diharapkan menjadi energi baru yang mendorong mereka naik kelas dan menembus pasar global.( Eno).






