Pelda Surya Darma: Sang Pengendali Angin dari Singosari
Malang I Serulingmedia.com — Di balik gemuruh mesin wind tunnel Divisi 2 Infanteri Kostrad Singosari, berdirilah sosok yang menjadikan udara sebagai ruang bermain dan disiplin sebagai napas keseharian: Pelda Surya Darma, instruktur terjun bebas militer yang telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk dunia skydiving bela negara.
Nama lengkapnya Surya Dharma Saiman. Lahir dan besar di Makassar, ia bergabung dengan TNI melalui kesatuan Brigif Linud 18 Trisula Jabung. Dari sanalah perjalanannya menuju langit dimulai. “Karena berada di satuan lintas udara, kami diwajibkan punya kualifikasi terjun bebas,” kenangnya. “Olahraga ini jarang diminati, tapi justru itu yang membuat saya tertantang untuk menekuninya.” ungkapnya ketika Serulingmedia.com usai berlatih, kamis ( 9/4/2026 ).

Menguasai Langit Sejak 2007
Perjalanan profesional Surya dalam dunia terjun bebas dimulai pada 2007, ketika ia mengikuti sekolah terjun bebas militer di Pusdiko Kopassus. Sejak itu hingga 2026, ia telah menorehkan lebih dari 60 kali penerjunan—sebuah angka yang bagi banyak prajurit merupakan pencapaian tersendiri.
Namun yang paling monumental baginya adalah tahun 2019, ketika fasilitas wind tunnel Divif 2 Kostrad di Singosari resmi dibangun. Sejak saat itu, ia ditempatkan sebagai instruktur utama. “Dulu latihan benar-benar harus ke udara. Tidak ada simulasi. Bergantung pesawat, operasionalnya besar,” ujarnya. “Sekarang dengan wind tunnel, latihan bisa berulang, aman, dan lebih efisien.”
Menang Berulang, dari Nasional hingga Internasional
Tak hanya melatih, kemampuan Surya mengendalikan tubuh di udara juga membawanya ke panggung kompetisi. Deretan prestasinya mencerminkan dedikasi yang tak main-main:
- Juara 1 Nasional Indoor Skydiving, ajang perdana yang digelar Kopassus
- Juara 1 Indoor Skydiving tingkat nasional, Cikeas Brimob, diselenggarakan oleh Kapolri
- Juara 2 Internasional Indoor Skydiving, Cikeas Brimob
- Medali Emas PON Aceh, mewakili Jawa Barat
Ia menyebut prestasi tersebut sebagai bonus. “Yang utama tetap pengabdian,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Mengajar Manuver Udara: “Mengatasi Kesulitan di Langit”

Di wind tunnel Singosari, Surya melatih para prajurit agar mampu bermanuver bebas di udara: ke kiri, kanan, stabilisasi tubuh, hingga mengatasi potensi insiden saat penerjunan.
Prinsip dasarnya sederhana, namun eksekusinya menuntut presisi tinggi: keseimbangan tubuh dan kontrol napas. “Tekanan udara tergantung berat badan,” jelasnya. “Berat 65 kg pakai sekitar 70% tenaga angin. Kalau 100 kg, bisa sampai 80%.”
Meski medan latihan penuh tenaga angin, ia memastikan keselamatan menjadi prioritas absolut. “Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada musibah. Instrukturnya sudah dibekali cara mendeteksi potensi cedera sejak awal.”
Dibuka untuk Umum, Namun Minim Ekspos
Menariknya, fasilitas wind tunnel Divif 2 Kostrad ini sebenarnya terbuka untuk masyarakat umum. Kebijakan ini sebelumnya telah disetujui oleh Pangdivif saat kepemimpinan Mayjen TNI Susilo. “Siapa pun boleh mencoba, tinggal hubungi kontak yang tertera di banner,” katanya.
Namun minat masyarakat Malang dinilai masih rendah. “Biasanya dari keluarga TNI. Padahal alatnya sama seperti yang dipakai di iFly Bali atau Cibubur. Bahkan di mall pun dipakai sebagai wahana wisata.”
Baginya, rendahnya minat bukan soal fasilitas, tapi kurangnya ekspos. “Kalau masyarakat tahu sensasinya, pasti banyak yang datang.”
Terbang Lebih Tinggi
Walau sudah menorehkan prestasi gemilang, Surya masih memiliki mimpi sederhana namun jelas: melihat lebih banyak prajurit—dan masyarakat awam—berani terjun, mengenal langit, dan memahami indahnya melayang bebas.
Bagi Pelda Surya Darma, udara bukan sekadar ruang kosong. Ia adalah medan pengabdian, arena olahraga, sekaligus tempat ia melahirkan generasi penerjun bebas baru. Di dalam lorong angin besar itu, ia berdiri tegak sebagai penjaga keselamatan, pelatih kepercayaan diri, dan simbol ketangguhan prajurit udara Indonesia.
Langit baginya bukan batas—melainkan rumah. ( eno)






