Debat Pertama Calon Walikota Batu: Ujian Visi-Misi, Ajang Edukasi Politik dan Persaudaraan
Batu I Serulingmedia.com – Debat pertama pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Batu yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batu berlangsung pada Senin (21/10). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye bersama yang bertujuan memperkenalkan visi dan misi para calon kepada masyarakat.
Ketua KPU Batu, Heru Joko Purwanto, menyampaikan bahwa debat ini dirancang agar masyarakat pemilih dapat menilai program yang diperjuangkan oleh masing-masing pasangan calon.

“Kami hanya memfasilitasi dengan bantuan panelis dari Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyajikan materi sesuai tema. Pada debat pertama ini, tema yang kami sajikan adalah pariwisata, lingkungan hidup, pertanian, dan agraria. Masyarakat sebagai pemilih dapat melihat dan menilai bagaimana kemampuan para calon dalam menyampaikan programnya. Kami berharap pelaksanaan pesta demokrasi di Kota Batu dapat berjalan dengan lancar, damai, dan kondusif, serta mampu meningkatkan partisipasi pemilih dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Heru.

Debat ini dinilai sukses dan berjalan lancar, meskipun memasuki sesi kelima, yaitu sesi tanya-jawab antar pasangan calon, sempat memanas. Pada sesi ini, masing-masing pasangan saling mempertahankan argumen dan menyerang kelemahan lawan. Namun, setelah debat berakhir, suasana keakraban kembali terlihat saat para kandidat saling berjabat tangan dan berbincang dengan penuh kehangatan, membuktikan bahwa debat ini bukanlah ajang permusuhan melainkan sarana untuk menguji kesiapan dan kemampuan para calon.

Beberapa warga memberikan tanggapan terkait debat tersebut. Salah satunya adalah Nitidjaya dari Paguyuban Sosial Warga Tionghoa. Ia mengapresiasi kelancaran pelaksanaan debat, meskipun menurutnya waktu debat terasa cukup panjang. Namun, Nitidjaya mengkritisi bahwa para pasangan calon kurang tajam dalam membahas persoalan yang dihadapi petani, terutama terkait kelangkaan pupuk.
Menurutnya, tidak ada pasangan calon yang memberikan solusi konkret terkait harga pupuk yang tidak disubsidi dan kelangkaan barang yang sangat memengaruhi para petani apel, jeruk, dan hortikultura di Kota Batu.
“Tidak ada pasangan calon yang memberikan solusi konkret terkait harga pupuk yang tidak disubsidi dan kelangkaan barang ini. Padahal, pupuk sangat diperlukan oleh petani apel, jeruk, dan tanaman hortikultura lainnya di Batu,” ujarnya.
Nitidjaya berharap di sesi debat berikutnya agar para pasangan calon lebih memperhatikan isu-isu penting seperti ketersediaan dan harga pupuk yang sangat dibutuhkan oleh para petani. Tanpa adanya solusi yang jelas, kebangkitan sektor pertanian di Kota Batu akan sulit terwujud.

Selain itu, Slamet Hendro Kusumo, seorang budayawan, juga menyoroti kurangnya perhatian para pasangan calon terhadap persoalan lingkungan. Menurutnya, perubahan lingkungan dalam dunia kontemporer tidak hanya berkaitan dengan program reboisasi, melainkan juga dengan gaya hidup manusia yang berpengaruh terhadap perkembangan lingkungan. Slamet menilai bahwa pertanyaan yang lebih teknis dan mendalam terkait gaya hidup dan psikologi masyarakat dalam menjaga lingkungan perlu lebih diperhatikan oleh para pasangan calon.
“ kalau manusia itu tidak usil , maka tidak perlu reboisasi. Karena hewan mulai dari yang bisa terbang, kupu-kupu dan lainnya bisa memberikan kontribusi pada lingkungan, Namun pertanyaan yang lebih tehnis seharusnya lebih menajam pada persoalan yang sifatnya pada hal yang lebih tehnis dan sykologinya masyarakat untuk lebih penting dipertanyakan “ pungkasnya
Pelaksanaan debat ini diharapkan menjadi sarana edukasi politik bagi masyarakat dan dapat meningkatkan kualitas demokrasi di Kota Batu. Dengan kesadaran dan partisipasi yang meningkat, diharapkan masyarakat dapat memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kota Batu. ( Eno )






