Cilongbao” UIN Malang Guncang Dunia Pangan Nasional, Reformulasi Cilok Jadi Camilan Sehat Juara!
Malang | Serulingmedia.com – Siapa sangka jajanan kaki lima seperti cilok bisa naik kelas jadi inovasi pangan bergizi nasional? Tim Farmasi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang membuktikannya lewat karya fenomenal bernama “Cilongbao”, yang sukses menyabet Juara 2 dalam ajang Gelar Teknologi Pangan (GTP) 2025 di UPN Veteran Jawa Timur, Minggu lalu.
Tim yang digawangi oleh Lufita Diani Larasati, M. Thoriq Farhan Al Haqqi, dan Reza Ahmad Al Hajj dari Program Studi Farmasi ini berhasil memukau dewan juri lewat inovasi reformulasi cilok menjadi camilan tinggi protein dan bergizi lengkap.
Dari Cilok ke Cilongbao
Berawal dari keprihatinan terhadap tren camilan instan yang rendah nilai gizi, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak, tim ini mencari cara agar jajanan tradisional bisa menjadi alternatif sehat tanpa meninggalkan cita rasa khasnya.
Mereka kemudian menghadirkan “Cilongbao” — gabungan dari kata Cilok dan Xiaolongbao, kuliner khas Tiongkok yang populer di kalangan anak muda.
Nama itu dipilih bukan hanya karena terdengar kekinian, tetapi juga mencerminkan semangat modernisasi kuliner lokal.
Dalam proses reformulasinya, tim tidak hanya mengandalkan tepung tapioka seperti pada cilok biasa, melainkan mengombinasikannya dengan tepung kedelai dan tulang ayam.
Hasilnya, lahirlah cilok bertekstur lembut dan kaya protein, yang bukan hanya lezat tapi juga menyehatkan.
Menang Tipis, Tapi Membanggakan
Karya inovatif ini membawa UIN Malang melesat ke posisi kedua, bahkan mengungguli Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang berada di peringkat ketiga.
Mereka hanya kalah 0,3 poin dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang menempati posisi pertama.
Dosen pembimbing, Dewi Sinta Megawati, mengaku bangga atas pencapaian luar biasa mahasiswa bimbingannya.
“Saya sangat bangga karena meskipun lawannya dari jurusan yang lebih linear, yaitu teknologi pangan, tim ini tetap bisa memberikan perlawanan luar biasa. Nilai konsepnya tinggi, hanya uji gizinya yang belum lengkap karena keterbatasan alat di prodi kami,” ujarnya, Kamis ( 6/11/2025).
Inovasi Lokal, Dampak Nasional
Keberhasilan “Cilongbao” bukan hanya soal menang lomba, tetapi juga soal membangkitkan kebanggaan terhadap pangan tradisional Indonesia. Dengan sentuhan ilmiah, jajanan sederhana mampu menjadi produk pangan bergizi yang berpotensi dikembangkan secara massal.
“Cilongbao” kini menjadi contoh nyata bagaimana ilmu farmasi, gizi, dan kreativitas bisa bersinergi untuk menciptakan produk inovatif yang berdaya saing nasional.
Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan ini mempertegas posisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga adaptif terhadap tantangan zaman melalui riset dan inovasi di bidang sains dan teknologi.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti, “Cilongbao” bisa menjadi produk khas Indonesia yang mendunia — membawa nama UIN Malang dan jajanan tradisional Nusantara ke panggung global.( Eno).






