Ali Zubaidi: Pariwisata Batu Harus Kembali ke Akar Budaya dan Ekonomi Rakyat

1074560_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Muhammad Ali Zubaidi menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata Kota Batu harus kembali berpijak pada akar budaya dan ekonomi rakyat.

Menurutnya, ketergantungan pada wisata buatan atau theme park berisiko menjauhkan pariwisata dari identitas lokal serta manfaat langsung bagi masyarakat kecil.

 

Ali Zubaidi, warga asli Kota Batu yang tinggal di Jalan Panderman No. 49, menyampaikan pandangan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pariwisata daerah.

 

Ia juga dikenal sebagai pedagang di Pasar Induk Among Tani Batu, sehingga merasakan langsung keterkaitan antara kebijakan pariwisata dengan denyut ekonomi rakyat.

“Pariwisata Batu jangan hanya menjual wahana. Budaya, tradisi, desa, dan aktivitas ekonomi rakyat harus menjadi bagian utama. Kalau itu diangkat, dampaknya akan langsung dirasakan pedagang, petani, dan pelaku UMKM,” ujarnya.

Menurut Ali, penguatan pariwisata berbasis budaya dan tradisi merupakan langkah strategis. Seni Bantengan sebagai kesenian khas Batu dinilai layak dijadikan atraksi rutin di ruang-ruang publik.

 

Begitu pula Tari Sanduk yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, perlu diposisikan sebagai ikon penyambutan tamu di hotel dan destinasi wisata.

Ia juga menilai tradisi Grebeg Kupat di kawasan Songgoriti memiliki potensi besar sebagai wisata religi dan budaya yang memadukan nilai spiritual, sejarah, dan partisipasi warga.

Selain itu, Ali Zubaidi mendorong pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal, khususnya di wilayah agraris.

 

Wisata pertanian, peternakan, dan tanaman hias dinilai mampu menghadirkan pengalaman autentik sekaligus memperkuat posisi petani sebagai subjek utama pariwisata.

Di sektor kuliner, ia menekankan pentingnya keberpihakan pada produk lokal.

Keberadaan Pasar Apung di Museum Angkut diharapkan lebih difokuskan sebagai etalase kuliner khas Batu, bukan sekadar pelengkap wisata modern. Produk oleh-oleh berbahan susu, apel, dan hasil bumi lokal perlu dikemas dengan narasi budaya agar memiliki nilai tambah.

Ali menambahkan, pengembangan pariwisata alam berbasis nilai spiritual dan penyembuhan juga perlu mendapat perhatian.

 

Kawasan mata air panas dan situs sejarah dinilai mampu menjadi destinasi healing yang selaras dengan karakter alam dan budaya Batu.

“Kalau pariwisata kembali ke akar budaya dan ekonomi rakyat, Kota Batu tidak hanya ramai dikunjungi, tapi juga adil dan berkelanjutan. Pariwisata harus menghidupi warganya, bukan sebaliknya,” pungkas Ali Zubaidi.( Eno).