Spirit Eyang Djoego Bangkitkan Blitar ! Haul ke -155 Spektakuler Angkat Ekonomi dan Budaya Lokal

IMG-20250503-WA0066

Blitar | Serulingmedia.com – Peringatan Haul Eyang Djoego di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Sabtu (3/5/2025), berlangsung meriah dan penuh khidmat.

Ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati kawasan padepokan untuk mengikuti prosesi kirab pusaka dan gunungan hasil bumi sebagai puncak acara haul.

Anggota DPRD Kabupaten Blitar, Budi Susila Jaya, menyampaikan dukungan penuhnya terhadap pelaksanaan haul yang telah menjadi agenda tahunan masyarakat dan terus mengalami perkembangan signifikan.

“Langkah yang kami tempuh ini merupakan bagian dari upaya melestarikan dan uri-uri budaya. Haul Eyang Djoego kini menyedot perhatian hingga 155 ribuan peziarah. Ini tentu berdampak positif terhadap penguatan UMKM warga sekitar,” ungkap Budi, yang tampak mengenakan blangkon merah khas Fraksi PDIP di tribun kehormatan.

Ia juga menekankan pentingnya pemerintah daerah dan DPRD untuk menetapkan Perda tentang kawasan perlindungan cagar budaya di sekitar Padepokan Eyang Djoego. “Kami sangat mendukung agar kawasan ini ditetapkan sebagai sentral wisata budaya spiritual,” lanjutnya.

Kepala Desa Jugo, Anhar Kholik, menuturkan bahwa haul Eyang Djoego ke-155 ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh penyebar agama Islam di wilayah Blitar dan Malang serta sebagai penggerak ekonomi lokal. “Haul ini adalah bentuk kecintaan kami terhadap tokoh besar yang jasanya luar biasa. Sekaligus upaya mengangkat perekonomian warga,” ujarnya.

Eyang Djoego, atau R.M Soerjokoesoemo, adalah bangsawan dari Keraton Yogyakarta yang dikenal sebagai penasihat spiritual Pangeran Diponegoro. Setelah kekalahan sang Pangeran pada tahun 1830, Eyang Djoego memilih mengembara dan akhirnya menetap di Desa Jugo. Beliau dikenal mampu menyembuhkan wabah kolera yang kala itu mewabah di Jawa Timur, dan atas jasanya dianugerahi tanah oleh pemerintah, tempat beliau mendirikan padepokan.

 

Prosesi kirab pusaka dan gunungan hasil bumi menjadi bagian paling ditunggu masyarakat. Gunungan diarak dan diperebutkan warga saat memasuki area padepokan. Pusaka sendiri diiringi pasukan berkostum adat oleh para pemuda-pemudi menuju dalam padepokan.

Kirab diawali dengan tari Gambyong. Arif Wiscaksono, sang juru kunci, memimpin prosesi dan sebelum memasuki gerbang padepokan, ia memberi hormat kepada pamannya, Suparno, yang dianggap sesepuh. Keduanya berpelukan haru hingga menitikkan air mata.

Haul juga dimeriahkan dengan pawai budaya dari lima dusun di Desa Jugo, yakni Dusun Sanggrahan, Jugo, Plampangan, Jajagan, dan Sanan, menjadikan peringatan ini bukan sekadar ritual spiritual, namun juga pesta rakyat yang memperkuat identitas dan persatuan warga. (Eno)