GUSDURian Batu Gelar Bagi Takjil di Rumah Sakit Selama Ramadhan dan Pra-Paskah

Screenshot_2025-03-08-12-35-40-008_com.android.chrome-edit

Batu | Serulingmedia.com – Dalam rangka mengisi bulan Ramadhan 1446 H yang penuh rahmat, sekaligus bertepatan dengan masa ibadah puasa pra-Paskah yang dijalani umat Katolik dan Kristen, GUSDURian Batu menggelar kegiatan berbagi takjil bagi pasien, keluarga pasien, dan karyawan rumah sakit di Kota Batu. Kegiatan ini dilaksanakan di empat rumah sakit, yaitu RS Karsa Husada, RS Baptis, RS Hasta Brata, dan RS dr. Etty.

Adapun jadwal pembagian takjil adalah sebagai berikut:

5 Maret 2025 di RS Karsa Husada

12 Maret 2025 di RS Baptis

19 Maret 2025 di RS Hasta Brata

26 Maret 2025 di RS dr. Etty

Ketua GUSDURian Batu, Haris El Mahdi, menyatakan bahwa kegiatan ini mengusung tema “Rabu Abu di Bulan Ramadhan, Kemanusiaan untuk Semua.” Menurutnya, pemilihan tema ini didasarkan pada fakta bahwa kegiatan berbagi takjil pertama dilakukan pada hari Rabu, 5 Maret 2025, yang bertepatan dengan Rabu Abu, sebagai penanda awal ibadah puasa pra-Paskah bagi umat Katolik dan Kristen.

“Kami memilih tema ini karena ingin menyampaikan pesan toleransi yang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Batu. Masyarakat Muslim menjalani puasa Ramadhan, sementara umat Katolik dan Kristen menjalani ibadah puasa pra-Paskah secara damai dan harmonis. Puasa adalah ibadah universal yang menjadi media refleksi diri dan pertaubatan bagi semua agama,” ungkap Haris dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/3/2025).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemilihan rumah sakit sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada ajaran mendalam dalam masing-masing agama. Dalam Injil Matius 25:36 disebutkan: “Ketika aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika aku sakit, kamu melawat aku; ketika aku di dalam penjara, kamu mengunjungi aku.” Sementara dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “Siapa yang menjenguk orang sakit, maka ia dalam rahmat Allah.”

Berdasarkan pijakan spiritual tersebut, GUSDURian Batu menjadikan rumah sakit sebagai tempat untuk berbagi takjil, menyebarkan kebaikan, serta mengisi Ramadhan dan masa pra-Paskah dengan penuh rahmat dan berkat.

Kegiatan “Rabu Abu di Bulan Ramadhan, Kemanusiaan untuk Semua” juga ingin menegaskan bahwa meskipun agama berbeda dan keyakinan tidak sama, manusia tetap satu dalam kemanusiaan, terutama dalam memberikan penghiburan dan kepedulian terhadap sesama yang sedang sakit.

“Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan,” pungkas Haris.( Eno).