Gajah Purwo Nusantara dan Ajaran Sunan Drajat dalam Memberi Makan bagi Penziarah

IMG-20250222-WA0060

Lamongan | Serulingmedia.com – Gajah Purwo Nusantara (GPN) adalah sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang sosial dan kemanusiaan, khususnya dalam menyediakan makanan dan minuman gratis bagi masyarakat.

Salah satu bentuk nyata dari pengabdian mereka adalah memberikan konsumsi bagi para penziarah yang datang ke makam Sunan Drajat di Lamongan dalam peringatan Haul Sunan Drajat ke 515 tahun 2025.

Dalam aksi sosial ini, GPN dibawah bimbingan Romo Kyai Mbah Achmad Kusen, sejatinya menerapkan ajaran Sunan Drajat yang menekankan pentingnya kesejahteraan sosial melalui pemberian makanan kepada mereka yang membutuhkan.

Ajaran Sunan Drajat dalam Kesejahteraan Sosial

Sunan Drajat, merupakan salah satu wali dalam Walisongo, dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ajarannya yang terkenal adalah “Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busana marang wong kang wuda, menehono pangiyupan marang wong kang kodanan”, yang berarti berikan tongkat kepada orang buta, berikan makanan kepada orang yang lapar, berikan pakaian kepada orang yang telanjang, dan berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.

Ajaran ini mencerminkan kepedulian sosial yang tinggi dan menekankan pentingnya berbagi dengan sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.

Sunan Drajat mengajarkan bahwa agama tidak hanya sebatas ibadah ritual, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat.

GPN dan Implementasi Ajaran Sunan Drajat

Sebagai komunitas yang bergerak dalam sunyi dan berkah, GPN yang berkantor pusat di desa Sidomulyo kecamatan Batu Jawa Timur ini mengamalkan ajaran Sunan Drajat dengan menyediakan makanan gratis bagi para penziarah yang datang ke makam beliau.

Banyak penziarah berasal dari berbagai daerah, bahkan ada yang menempuh perjalanan jauh dengan kondisi ekonomi terbatas. Dalam hal ini, kehadiran GPN menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan makanan dan minuman selama berziarah.

Melalui dapur umum yang mereka dirikan, GPN dengan melibatkan anggota dari Banyuwangi, Gresik, Kediri, Sidoarjo, Malang dan Batu memastikan bahwa setiap penziarah dapat merasakan keberkahan dalam berbagi.

Mereka tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga menciptakan suasana kebersamaan dan gotong royong sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Drajat. Dengan demikian, GPN tidak sekadar memberi makan, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai kedermawanan dan kepedulian sosial.

Dampak Sosial dan Spiritualitas

Kehadiran GPN di makam Sunan Drajat memberikan dampak positif yang besar, baik secara sosial maupun spiritual. Secara sosial, mereka membantu mengurangi beban ekonomi penziarah yang kurang mampu. Sedangkan secara spiritual, aksi ini menjadi bentuk nyata dari amal jariyah, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam bahwa memberi makan orang lain adalah salah satu bentuk ibadah yang bernilai pahala besar.

Selain itu, GPN juga menginspirasi banyak pihak untuk ikut serta dalam gerakan berbagi. Semangat “Salam Loman Sugih” yang mereka usung mencerminkan bahwa kekayaan sejati bukanlah seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa banyak yang bisa dibagikan kepada sesama.

Apa yang dilakukan oleh GPN di makam Sunan Drajat adalah contoh konkret dari pengamalan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mereka tidak hanya sekadar memberi makan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai yang diajarkan oleh Sunan Drajat, yaitu kepedulian terhadap sesama dan keikhlasan dalam berbagi.

Di tengah kehidupan modern yang serba individualistis, gerakan seperti ini menjadi pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat membawa dampak besar.

Semoga langkah-langkah GPN terus berlanjut dan menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejaknya dalam menebar manfaat bagi sesama. ( Eno).