Menumbuhkan Kecintaan Budaya Mocopat Sejak Dini: Langkah Strategis Kota Batu
Batu – Serulingmedia.com – Budaya adalah jiwa dari sebuah bangsa. Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh digital, budaya lokal sering kali tergerus oleh perubahan zaman.
Hal ini menjadi perhatian serius Penjabat (Pj) Walikota Batu, Aries Agung Paewai yang menilai bahwa budaya mocopat, salah satu warisan budaya khas Jawa, mulai kehilangan gaungnya di tengah masyarakat, termasuk di Kota Batu.

Mocopat, seni sastra dan nyanyian tradisional Jawa, mengandung nilai-nilai luhur seperti adab, sopan santun, dan etika yang tinggi. Menurut Pj Walikota Batu, membangun kecintaan terhadap budaya mocopat harus dimulai sejak dini, terutama di tingkat SD dan MI. Anak-anak yang mengenal budaya sejak kecil diyakini akan membawa nilai-nilai tersebut hingga dewasa, mencintai dan menjaga budaya leluhur mereka.
“ yang namanya adab, sopan santun, menghargai nilai budaya itu pasti akan membentuk jiwa diri anak kita. Saya mengapresiasi pihak kejaksanaan Batu yang masih bersentuhan bagaimana menciptakan budaya itu lestari. Kami dibantu kejaksaan untuk nilai-nilai positif anak-anak kita “ ungkap Aries, usai mengikuti Mocopat Idol di Kejari Batu, sabtu ( 7/12/2024 ).
Dalam upaya melestarikan mocopat, apresiasi diberikan kepada Kejaksaan Negeri Kota Batu yang turut andil dalam melibatkan generasi muda dalam kegiatan berbasis budaya. Kolaborasi antara pemerintah dan instansi lain ini menunjukkan komitmen bersama untuk melestarikan budaya, sekaligus membangun karakter anak-anak yang berlandaskan adab dan sopan santun.
Namun, tantangan di era digital tak bisa diabaikan. Perubahan budaya dan gaya hidup yang cepat dapat memengaruhi pola pikir anak-anak. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang kuat, salah satunya melalui penguatan budaya hingga ke akar-akarnya.
Pj Walikota Batu menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk memahami budaya, etika, dan adab, di samping meningkatkan kecerdasan mereka. Jika nilai-nilai ini ditanamkan dengan kokoh, orang tua akan merasa tenang karena anak-anak berada pada jalur yang tepat.

Langkah konkret telah dilakukan di Kota Batu, di mana sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP telah dilengkapi dengan gamelan. Ini adalah bagian dari strategi untuk memperkuat akar budaya lokal di kalangan anak-anak. Kegiatan seni seperti bermain gamelan bukan hanya memperkenalkan budaya, tetapi juga melatih kesabaran, kerja sama, dan menghormati orang lain—nilai-nilai yang sangat relevan untuk membangun karakter anak.
“ Disekolah- sekolah di batu SD, SMP rata-rata sudah mempunya gamelan, karena kita ingin mereka kuat dibudayanya, karena disitulah adab bagi mereka “ tegasnya.
Selain itu, peran dinas pendidikan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, menjadi kunci dalam memastikan program penguatan budaya ini berjalan dengan baik. Tidak hanya di tingkat sekolah dasar dan menengah pertama, tetapi juga harus diperluas ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti SMA dan SMK.
Budaya mocopat adalah warisan yang tak ternilai. Untuk menjaga agar ia tetap hidup, diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak—pemerintah, sekolah, orang tua, hingga komunitas budaya. Dengan begitu, generasi muda di Kota Batu dapat tumbuh sebagai individu yang mencintai budayanya dan memiliki karakter kuat yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa.
Harapan dari Kota Batu
Kota Batu diharapkan dapat menjadi contoh daerah yang berhasil melestarikan budaya lokal di tengah era modernisasi. Jika anak-anak sejak dini dibiasakan mencintai budaya seperti mocopat, kelak mereka akan menjadi generasi yang mampu menjaga dan meneruskan warisan ini kepada dunia. Budaya bukan sekadar tradisi, tetapi juga identitas yang memperkaya jiwa bangsa.

Suyono, seorang pegiat budaya dan mocopat di Kota Batu mengungkapkan Mocopat, seni sastra dan nyanyian tradisional Jawa, adalah salah satu kekayaan budaya yang harus terus dilestarikan. Seni ini bukan hanya sebuah bentuk hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran nilai-nilai luhur seperti adab, sopan santun, dan penghargaan terhadap warisan leluhur.
Langkah Kejaksaan Negeri (Kejari) Batu yang menggelar kegiatan mocopat bagi siswa SD dan MI mendapatkan apresiasi besar dari berbagai pihak.
Suyono menilai, kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun kesadaran budaya sejak usia dini.
“Saya sangat mendukung, semoga ini tidak berhenti di sini. Setiap Kajari atau dinas lainnya di Batu bisa membantu perkembangan budaya, sehingga Kota Batu sebagai kota budaya dan wisata semakin maju,” ungkapnya.
Dukungan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam melestarikan budaya, terutama di kota yang memiliki identitas kuat sebagai destinasi budaya dan wisata.
Kegiatan mocopat bagi siswa tidak hanya memperkenalkan seni tradisional, tetapi juga membentuk karakter anak-anak. Dengan mempelajari mocopat, anak-anak belajar nilai-nilai luhur seperti kesabaran, kebersamaan, dan rasa hormat.
“ Di era modern ini, di mana perubahan budaya terjadi begitu cepat, menanamkan nilai-nilai tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama “ lanjutnya.

Kota Batu memiliki potensi besar untuk menjadi pusat budaya sekaligus wisata yang berdaya saing. Selain memiliki keindahan alam yang memukau, Kota Batu juga kaya akan tradisi lokal yang dapat menjadi daya tarik wisata. Mengintegrasikan budaya seperti mocopat dalam kegiatan pendidikan dan pariwisata adalah salah satu cara untuk memperkuat identitas kota sekaligus memperkenalkan warisan leluhur kepada generasi muda dan pengunjung.
Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, instansi pendidikan, maupun masyarakat, sangat penting untuk memastikan keberlanjutan kegiatan seperti ini.
Tidak hanya Kejari, tetapi juga dinas-dinas lain di Kota Batu, diharapkan dapat berkontribusi dalam mempromosikan dan melestarikan budaya lokal. Dengan upaya bersama, Kota Batu tidak hanya akan dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai kota budaya yang hidup dan dinamis.
Mocopat bukan hanya seni, tetapi juga jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan leluhur mereka. Dengan memperkuat budaya di akar-akarnya, generasi masa depan Kota Batu akan tumbuh dengan identitas yang kuat, mencintai budaya lokal, dan siap menjadikan budaya sebagai kekuatan untuk bersaing di dunia global. Langkah ini adalah wujud nyata dari upaya menjadikan budaya sebagai pijakan menuju masa depan yang lebih baik.( Eno ).






