Batu I Serulingmedia.com – Debat publik ketiga yang menjadi babak akhir dari rangkaian debat pasangan calon (paslon) Walikota dan Wakil Walikota Batu tahun 2024 berlangsung di Hotel Golden Tulip, Kamis malam (21/11/2024). Meski diawali dengan kekhawatiran akan potensi kericuhan, acara ini justru ditutup dengan suasana damai dan penuh keakraban, mencerminkan pelaksanaan demokrasi yang sehat di Kota Apel.

Kekhawatiran muncul pasca sejumlah insiden di daerah lain yang diwarnai kericuhan. Di Kota Batu sendiri, persiapan debat melibatkan pengamanan ketat oleh Polres Batu, dengan pengerahan 80 personel. Apel kesiapan dipimpin oleh Kapolsek Batu, AKP Anton, serta Kasubbag Binops Bag Ops Polres Batu, IPTU H. Bethel.
Sterilisasi lokasi debat dilakukan langsung oleh Kasat Samapta, AKP Giyanto, S.H. Pengetatan pengamanan karena sebelumnya debat ada aksi demonstrasi dari Aliansi Peduli Demokrasi yang berlangsung di kantor KPU Batu, Jalan Sultan Agung, pada sore hari . ( Baca Serulingmedia.com, Kamis,21/11/2024 ).
Namun, kekhawatiran tersebut terbantahkan. Ketiga pasangan calon, yakni Nurochman – Heli Suyanto, Firhando Gumelar – H. Rudi, serta Kris Dayanti – Kresna Dewanata Prokhask, berhasil menjaga suasana tetap kondusif. Bahkan, interaksi hangat antar pendukung melalui yel-yel justru menambah keakraban. Pada jeda debat, para kandidat terlihat berbincang santai sambil menikmati kopi, memperlihatkan hubungan harmonis meskipun berada dalam situasi kompetitif.

Ketua KPU Batu, Joko Heru Purwanto, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas selama debat. Ia mengingatkan para kandidat untuk menyampaikan visi dan misi secara elegan tanpa menyerang ranah pribadi lawan.
“Debat ini adalah sarana promosi dan edukasi, baik bagi pemilih yang hadir langsung maupun yang menyaksikan melalui siaran ATV, RRI Malang, dan kanal YouTube KPU Batu,” ujar Joko Heru.
Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata, memastikan bahwa pengamanan maksimal diterapkan untuk menjaga kenyamanan semua pihak yang terlibat.
“Pengamanan tidak hanya fokus di lokasi debat, tetapi juga mencakup pengawasan arus lalu lintas serta kesiapan menghadapi situasi darurat,” jelasnya.

Suasana damai ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Salah satu warga yang hadir dalam debat Hari Pitik, menuturkan dengan candaan khasnya, “Itulah bedanya Kota Batu dengan daerah lainnya,” sembari tersenyum melihat interaksi hangat antar pendukung.
Debat terakhir ini menjadi bukti bahwa Kota Batu mampu menciptakan demokrasi yang damai dan penuh nilai kebersamaan. Harapannya, semangat ini terus terjaga hingga hari pemungutan suara, menjadikan Pilkada Batu 2024 sebagai contoh pelaksanaan pemilu yang harmonis dan berintegritas. ( Eno ).