Menghangatkan Silaturahmi: Anjangsana Pensiunan RRI Malang Jelang Hari Radio 2024

Screenshot_20240908-183443_WhatsApp

 

Malang | Serulingmedia.com.– Menjelang peringatan Hari Radio yang jatuh pada 11 September 2024, Persatuan Pensiunan (PP) RRI Malang menunjukkan dedikasi dan kepeduliannya dengan mengadakan kegiatan anjangsana, Sabtu,(7 /9/ 2024).

Kegiatan ini melibatkan kunjungan ke rumah para pensiunan RRI yang kondisinya kurang baik. Berangkat dari Kantor RRI Malang di Jalan Candi Panggung 58, dengan menggunakan tiga kendaraan roda empat, para pengurus dan penasihat PP RRI Malang menyusuri jalan raya dan kampung untuk menjenguk rekan-rekan yang sakit.

Kegiatan ini adalah simbol nyata dari silaturahmi dan kebersamaan yang terus dirajut, menggambarkan semboyan “seduluran sak lawase” atau persaudaraan selamanya.

Para anggota PP RRI yang menjadi tujuan anjangsana di antaranya adalah Pak Saptono, Bu Benny Karep, Puput Mujianto, dan Bu Tas’an, yang kondisinya terkena stroke.

Ada juga Pak Subiyono yang harus makan dengan bantuan slang, serta Pak Harnama, Pak Ekon Effendi, Bu Wirasat, dan Pak Sofyan yang memerlukan bantuan saat berjalan.

 Beberapa pensiunan lainnya seperti Bu Prapti, Pak Maschun Buchari, dan Bu Lilik yang baru saja sembuh, turut dikunjungi.

Reni, sekretaris PP RRI Malang, menyampaikan bahwa anjangsana ini baru 12 orang yang ditujuh dan akan ada kegiatan lanjutan untuk menjenguk pensiunan lainnya.

” sebenarnya masih banyak, untuk sementara baru 12 orang, akan kami agendakan kembali dalam kegiatan lanjutan ” ungkap Reni.

Anjangsana adalah salah satu tradisi yang mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian antar anggota masyarakat, terutama dalam komunitas yang sudah lama terjalin.

 Dalam konteks Persatuan Pensiunan RRI Malang, anjangsana ini bukan hanya sebuah kunjungan biasa, tetapi juga bentuk nyata dari rasa kebersamaan yang kuat. Kegiatan ini dilakukan bukan sekadar untuk melihat kondisi kesehatan para anggotanya yang sedang sakit, tetapi juga membawa bingkisan hasil donasi dari para anggota lain sebagai simbol gotong royong dan kepedulian sosial.

Gotong royong telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia. Ini adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang mengajarkan bahwa kebersamaan dan tolong-menolong adalah dasar kehidupan bermasyarakat.

Dalam anjangsana yang dilakukan oleh PP RRI Malang, semangat gotong royong ini diaktualisasikan dengan cara mengumpulkan donasi dari para anggota untuk kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, terutama pensiunan yang sedang mengalami kondisi kesehatan yang kurang baik.

 Kunjungan ke rumah para pensiunan yang sakit tidak hanya membawa kebahagiaan bagi yang dikunjungi, tetapi juga memberikan rasa kebersamaan bagi seluruh komunitas.

Para pensiunan yang dikunjungi merasa bahwa mereka tidak dilupakan, masih ada yang memperhatikan kondisi mereka meskipun mereka tidak lagi aktif dalam kehidupan kerja.

Selain itu, bingkisan yang diberikan dalam anjangsana bukanlah hal utama. Nilai dari kegiatan ini terletak pada kehadiran fisik dan perhatian yang diberikan.

Kehadiran orang-orang yang peduli, yang mau meluangkan waktu untuk menjenguk dan berbicara, merupakan obat emosional yang sangat berharga bagi para pensiunan.

Melalui kegiatan seperti ini, para pensiunan merasa mereka masih menjadi bagian dari sebuah komunitas yang peduli dan mendukung. Hal ini tentu berdampak positif bagi kesejahteraan mental dan emosional mereka.

Pada akhirnya, kegiatan anjangsana yang dilakukan oleh PP RRI Malang adalah contoh nyata dari bagaimana gotong royong dan kepedulian sosial dapat mempererat hubungan antaranggota komunitas.

 Kegiatan ini mengingatkan semua bahwa dalam hidup, kebersamaan dan kepedulian adalah hal yang paling berharga.

Teguh Yuli Astuti, mantan Kepala Stasiun RRI Denpasar, yang didampingi oleh Lahar Rudiyarso, mantan Kepala Stasiun RRI Surabaya, menegaskan sebagai pensiunan, tidak ada yang lebih berharga selain menjaga silaturahmi, gotong royong, dan amal ibadah.

” kami saling membantu, apa sich yang dibanggakan bagi pensiunan, kecuali hanya meningkatkan silahturohmi dan gotongroyong serta amal ibadah seperti saat ini anjangsana dan berbagi ” Teguh Yuli Astuti dan Lahar Rudiyarso disela- sela anjangsana.

Suasana haru menyelimuti setiap kunjungan. Ketika rombongan tiba di rumah para pensiunan yang sakit, air mata tak dapat dibendung saat mereka saling bersalaman dan berangkulan.

Ada kebahagiaan dan rasa sedih yang bercampur menjadi satu, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Para pensiunan yang sakit merasa senang karena mereka masih diingat, dijenguk, dan diperhatikan oleh rekan-rekan mereka, terlebih menjelang peringatan Hari Radio yang sangat bermakna bagi mereka.

Peringatan Hari Radio dan penyulutan obor Triprasetya RRI yang diselenggarakan setiap 11 September memang memiliki makna yang sangat sakral bagi para angkasawan RRI.

Bagi mereka, ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momen untuk mengenang masa-masa penuh makna dalam pengabdian mereka.

 Oleh karena itu, banyak pensiunan yang tak kuasa menahan air mata ketika mengingat upacara penyulutan obor tersebut, terutama mereka yang tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan.

Kehadiran pengurus PP RRI Malang dalam anjangsana ini seperti menjadi obat penawar rindu bagi para pensiunan yang sakit.

Mereka berbagi cerita, mengenang masa lalu, dan merasakan kehangatan persaudaraan yang masih terjaga.

Kehadiran tersebut seolah menjadi obat yang paling berharga bagi mereka yang sedang sakit, karena menunjukkan bahwa mereka tidak dilupakan dan masih menjadi bagian dari keluarga besar RRI.

Anjangsana tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk memberi dukungan dan bantuan, tetapi juga sebagai momen refleksi bagi kita yang masih diberi kesehatan.

 Kegiatan ini mengingatkan setiap orang, cepat atau lambat, akan mengalami masa dan kondisi yang serupa — kondisi dimana tubuh mulai melemah dan kesehatan tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya.

Momen-momen anjangsana ini seolah menjadi pengingat bahwa setiap orang harus memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan hal-hal yang baik dan positif.

Ketika melihat saudara atau teman yang sedang terbaring sakit, tidak bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasa, dihadapkan pada kenyataan bahwa hal tersebut bisa terjadi pada siapa saja.

Menjaga kesehatan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga mental dan emosional. Pola hidup sehat, pikiran yang positif, serta hubungan sosial yang baik adalah kunci untuk tetap sehat dan bahagia.

Semangat anjangsana ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong yang sepatutnya dijaga, terutama di kalangan pensiunan yang pernah mengabdikan diri untuk RRI. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persaudaraan dan silaturahmi adalah aset berharga yang tak lekang oleh waktu, bahkan di masa pensiun.( Eno ).