PBC Diluncurkan di Batu, Kemenko PM: UMKM Harus Naik Kelas dan Berdaya Saing

1930532_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar meluncurkan Perintis Berdaya Connect (PBC) Batu di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kota Batu, Rabu (26/8/2026).

 

Program tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan menyediakan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat daya saing, mengembangkan produk, hingga memperluas akses pasar.

 

Peluncuran PBC Batu dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat dengan PLUT KUMKM Kota Batu, Batu Kreatif Hub, Komite Ekonomi Kreatif, Coo Sae (Cooperatif Smart Agriculture Ecosystem), serta Rumah BUMN Malang.

Melalui kolaborasi tersebut, PBC didorong menjadi one-stop service atau layanan terpadu untuk menjawab berbagai kebutuhan pelaku UMKM, mulai dari pendampingan, akses bahan baku, teknologi, pembiayaan, pemasaran hingga pengembangan jejaring usaha.

Muhaimin Iskandar menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya berperan sebagai regulator, tetapi harus mampu menjadi agregator dan fasilitator agar seluruh potensi ekonomi masyarakat dapat terhubung dalam satu ekosistem.

“Targetnya semakin menciptakan pelaku usaha UMKM yang naik kelas, tumbuh mandiri dan kokoh, inovatif, sekaligus berdaya saing,” kata Muhaimin.

Menurut dia, penguatan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh. Selain peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pendampingan, pemerintah perlu membuka akses terhadap bahan baku berkualitas, permodalan, teknologi dan pemasaran.

“Peran itu bisa regulator, pendamping, agregator, atau menyiapkan seluruh proses pembinaan secara langsung. Yang penting bagaimana membangun ekosistem agar UMKM tumbuh dan naik kelas,” ujarnya.

Muhaimin juga mengapresiasi keberadaan PLUT KUMKM Kota Batu yang dinilainya telah memiliki ekosistem dan aktivitas pembinaan yang berjalan secara berkelanjutan.

“PLUT ini kelebihannya terus operasional. Biasanya tidak hanya event. Pendampingannya terus-menerus, reguler dan kontinyu. Ini patut menjadi model yang harus diteruskan,” katanya.

Batu Jadi Lokasi Replikasi PBC

Deputi Koordinator Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison, mengatakan Kota Batu dipilih sebagai lokasi replikasi PBC setelah program tersebut lebih dahulu dikembangkan di Kota Bandung.


Menurut Leontinus, PBC Batu tidak dibangun dari nol. Pemerintah memanfaatkan ekosistem yang sudah tumbuh di PLUT KUMKM Kota Batu.

“Ini one-stop solution dan yang luar biasa kami tidak membangun dari nol. Kami memanfaatkan ruang kreatif yang sudah ada,” jelasnya.

Ia menyebut hingga saat ini terdapat 369 pelaku usaha yang telah menerima manfaat PBC Batu. Dari jumlah tersebut, 80 pelaku usaha mengikuti inkubasi bisnis, sementara jumlah mitra yang terlibat mencapai 24 pihak.

Leontinus mengatakan kebutuhan pelaku UMKM sangat beragam. Ada yang membutuhkan mentor praktisi, akses bahan baku, teknologi, pemasaran, pembiayaan maupun penguatan legalitas usaha.

“Ini satu rangkaian kebutuhan, dari belajar, berusaha, sampai nanti kita dorong supaya mereka naik kelas,” ujarnya.

Salah satu contoh adalah pelaku ekonomi kreatif Lucky Garden yang memproduksi hiasan berbahan lumut kering. Produknya bahkan telah digunakan di Bandara Labuan Bajo.

Namun, persoalan legalitas usaha sempat menjadi kendala. Melalui pendampingan PBC, proses pengurusan NIB dan berbagai legalitas usaha didorong agar produk tersebut dapat memperluas akses bisnis secara formal.

Nurochman Dorong Regenerasi Petani

Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman mengatakan kehadiran PBC menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat Kota Batu yang tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata, tetapi juga pertanian.

Menurut Nurochman, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat Kota Batu. Karena itu, pemerintah daerah tengah mendorong regenerasi petani agar sektor tersebut memiliki penerus dari kalangan milenial dan Gen Z.

“Mayoritas masyarakat Kota Batu masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Oleh sebab itu, UMKM menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses diversifikasi produk pertanian menjadi produk olahan,” kata Nurochman.

Ia menyebut pendekatan Smart and Integrated Farming menjadi salah satu opsi untuk menarik generasi muda kembali ke sektor pertanian.

Nurochman juga mengingatkan agar pertumbuhan pariwisata tidak menyebabkan sektor pertanian terpinggirkan.

“Jangan sampai terjadi trade-off pada produk pertanian di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata di Kota Batu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, PLUT KUMKM Kota Batu selama ini telah menjadi ruang kolaborasi sejumlah perangkat daerah, mulai dari pertanian, sosial hingga perdagangan dan perindustrian.

Berbagai kegiatan telah dilakukan, antara lain workshop, pendampingan, edukasi, pengemasan produk, hingga pembinaan pelaku UMKM.

Nurochman menyebut konsistensi tersebut sebelumnya mendapat apresiasi melalui PLUT Award 2024, ketika PLUT KUMKM Kota Batu meraih penghargaan sebagai konsultan terbaik sekaligus PLUT dengan kinerja terbaik secara nasional.

Melalui program 365 Up, sebanyak 40 UMKM terkurasi juga mendapatkan pendampingan intensif selama 365 hari, mencakup legalitas, manajemen, pemasaran, digitalisasi hingga pengembangan usaha.

Nurochman berharap PBC tidak berhenti pada seremoni peluncuran, tetapi menjadi penguat ekosistem yang telah berjalan.

“Bagi kami, PBC bukan sekadar program baru, melainkan cara baru untuk menghubungkan berbagai kekuatan yang selama ini telah tumbuh di Kota Batu,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut mampu memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperkuat rantai pasok dan mendorong UMKM Kota Batu terus naik kelas.

Dengan hadirnya PBC, Kota Batu diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota wisata dan pertanian, tetapi juga mampu menjadi salah satu percontohan pengembangan ekosistem UMKM dan ekonomi kreatif yang mandiri, inovatif serta berdaya saing. ( Eno).