Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H.: “Marriage is Scary” Bukan Akhir Mimpi, Melainkan Awal Persiapan Menuju Keluarga Berkualitas
Malang | Serulingmedia.com – Di tengah derasnya arus media sosial, ungkapan “Marriage is Scary” semakin akrab di kalangan Generasi Z.
Namun, di balik kalimat yang terdengar penuh kekhawatiran itu, tersimpan semangat baru yang patut diapresiasi.
Bagi banyak anak muda, pernikahan bukan lagi sekadar target usia, melainkan sebuah perjalanan besar yang harus dipersiapkan dengan matang.
Pandangan itu disampaikan Dosen Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Kementerian Agama RI, Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H.
Menurutnya, fenomena tersebut bukan menunjukkan bahwa Generasi Z takut menikah atau menolak membangun keluarga. Sebaliknya, mereka ingin memastikan bahwa ketika mengucapkan akad, mereka benar-benar siap mengemban tanggung jawab kehidupan.
“Generasi Z tidak sedang menghindari pernikahan. Mereka hanya ingin memastikan bahwa rumah tangga yang dibangun berdiri di atas fondasi yang kuat, baik secara ekonomi, psikologis, maupun spiritual,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan kehidupan saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Ketidakpastian ekonomi, persaingan dunia kerja, tingginya biaya hidup, hingga derasnya informasi di media sosial membuat anak muda semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk menikah.
Ironisnya, media sosial lebih sering menyajikan kisah perceraian, perselingkuhan, hingga konflik rumah tangga dibandingkan cerita tentang keluarga yang saling menguatkan.
Gambaran yang terus berulang itu tanpa disadari membentuk persepsi bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan.
Padahal, menurut Miftahul Huda, tidak semua kehidupan rumah tangga berakhir dengan konflik. Banyak keluarga yang tumbuh harmonis karena dibangun di atas komunikasi, tanggung jawab, saling menghormati, dan komitmen yang kuat.
Berbekal pengalamannya sebagai Fasilitator Bimbingan Perkawinan Kementerian Agama RI, Miftahul Huda menilai bahwa kesiapan menikah tidak hanya diukur dari kemampuan finansial, tetapi juga dari kematangan karakter, kemampuan mengelola emosi, komunikasi yang sehat, serta kesiapan spiritual untuk menjalani kehidupan berkeluarga.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan dalam memandang kehidupan rumah tangga.
Literasi digital menjadi bekal penting agar mampu memilah informasi secara bijaksana dan tidak terjebak pada narasi negatif yang belum tentu mencerminkan realitas.
“Keluarga yang bahagia tidak lahir karena semua persoalan telah selesai sebelum menikah, tetapi karena suami dan istri memiliki komitmen untuk bertumbuh dan menyelesaikan setiap tantangan bersama,” katanya.
Menurutnya, keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan ekosistem yang mendukung generasi muda.
Edukasi pranikah, kesempatan kerja, stabilitas ekonomi, serta penguatan nilai-nilai moral menjadi bagian penting dalam membangun keluarga Indonesia yang tangguh.
Miftahul Huda optimistis, apabila berbagai pihak mampu menghadirkan lingkungan yang mendukung kesiapan generasi muda, maka narasi “Marriage is Scary” perlahan akan berubah menjadi semangat baru.
“Pernikahan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Pernikahan adalah fase kehidupan yang layak dipersiapkan dengan ilmu, kesabaran, dan tanggung jawab. Ketika persiapan menjadi budaya, maka keluarga yang kuat akan lahir, dan dari keluarga yang kuat itulah masa depan bangsa dibangun,” pungkasnya. ( Eno)






