Haji dan Keteladanan dalam Kesederhanaan Seorang Pemimpin
Makkah | Serulingmedia.com – Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji menjelang kepulangan ke Tanah Air, Wali Kota Batu Nurochman menunjukkan sikap yang menuai apresiasi dari sesama jamaah.
Tanpa memandang jabatan yang disandangnya, ia terlihat membaur dan membantu mengangkat barang bawaan jamaah lain saat proses perpindahan dari Maktab Mina menuju hotel di Makkah.
Momen tersebut terjadi usai pelaksanaan lempar jumrah terakhir. Saat itu, rombongan jamaah bersiap kembali ke hotel untuk melaksanakan Tawaf Wada atau tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Tanah Suci dan kembali ke Indonesia.

Di tengah banyaknya barang bawaan yang harus dipindahkan ke dalam bus, Nurochman tampak sigap membantu jamaah lain. Dengan mengenakan sarung dan kaos sederhana, ia mengangkat koper, memindahkan tas ke bagasi bus, hingga ikut mendorong gerobak yang dipenuhi barang bawaan jamaah.
Menurut Kayat Hariyanto yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, sikap yang ditunjukkan Nurochman menjadi contoh nyata nilai gotong royong dan kesederhanaan yang selama ini menjadi karakter bangsa Indonesia.
“Di Tanah Suci tidak ada wali kota, tidak ada pejabat, yang ada hanya jamaah Allah. Saya melihat sendiri bagaimana Cak Nur membaur bersama jamaah lainnya, membantu mengangkat koper dan barang-barang tanpa meminta perlakuan khusus. Ini contoh nyata kesederhanaan seorang pemimpin,” ujar Kayat Hariyanto, Sabtu( 30/5/2026).
Ia menjelaskan, saat itu Nurochman bahkan sudah lebih dahulu tiba di hotel setelah menyelesaikan lempar jumrah terakhir dan berjalan kaki kembali dari Mina.
Namun alih-alih beristirahat, ia justru memilih membantu proses pengangkutan barang-barang jamaah yang jumlahnya cukup banyak.
“Karena barang jamaah sangat banyak, sementara bus harus segera diberangkatkan, Cak Nur langsung ikut membantu. Beliau mengangkat koper, memindahkan barang ke bus, bahkan ikut mendorong troli yang penuh muatan. Padahal beliau seorang wali kota. Tetapi saat itu beliau benar-benar berbaur seperti jamaah lainnya,” kata Kayat.

Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai ibadah haji tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan ritual, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan kesediaan membantu sesama.
Sikap yang ditunjukkan Nurochman juga mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara yang berkumpul di Tanah Suci, nilai kebersamaan dan saling membantu tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari para jamaah.
Bagi banyak jamaah yang menyaksikan, tindakan sederhana tersebut memberikan pelajaran bahwa jabatan bukanlah alasan untuk menjaga jarak dengan masyarakat. Justru dalam momen-momen seperti itulah keteladanan seorang pemimpin terlihat secara nyata.
Di tengah kesibukan menjalankan ibadah dan persiapan kepulangan ke Tanah Air, Nurochman menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya hadir saat memberikan arahan atau mengambil keputusan, tetapi juga ketika dibutuhkan untuk membantu sesama.
Sebuah keteladanan sederhana yang lahir dari semangat melayani dan kerendahan hati di Tanah Suci. ( Eno).






