Ngarak Banteng 1 Suro Kembali Digelar, Songgoriti Tegaskan Batu Bukan Sekadar Kota Wisata

WhatsApp Image 2026-05-30 at 19.00.21 edit

Batu | Serulingmedia.com – Tradisi budaya Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo XVIII kembali akan digelar masyarakat Songgoriti, Kota Batu, pada Senin Kliwon, 22 Juni 2026. Agenda budaya tahunan tersebut menjadi penegasan bahwa Kota Batu tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam dan wisata buatan, tetapi juga memiliki kekayaan budaya lokal yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Prosesi kirab akan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai dengan rute sepanjang kawasan wisata Songgoriti hingga depan area Candi Songgoriti. Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat setempat yang rutin dilaksanakan setiap datangnya bulan Suro sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus pelestarian warisan budaya Jawa.

Tahun ini, Ngarak Banteng Empu Supo XVIII mengusung tema “Manggalaning Gwaya Purna Udaya”, yang mengandung makna kebangkitan menuju kemajuan, kemakmuran, dan keharmonisan masyarakat melalui pelestarian nilai-nilai budaya.

Humas Paguyuban Sanggar Empu Supo, Ahmad Choirul, mengatakan bahwa penyelenggaraan Ngarak Banteng bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bentuk nyata komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya yang telah hidup dan berkembang di Songgoriti selama puluhan tahun.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus sarana memperkenalkan identitas budaya Songgoriti kepada masyarakat luas dan para wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.

“Ngarak Banteng merupakan simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud rasa syukur masyarakat. Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa Kota Batu tidak hanya memiliki kekuatan wisata alam, tetapi juga kekayaan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan bersama,” ujar Ahmad Choirul.

Ia menambahkan, tema yang diangkat tahun ini diharapkan mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk terus merawat budaya lokal sebagai fondasi pembangunan daerah.

“Manggalaning Gwaya Purna Udaya mengandung harapan besar agar budaya menjadi jalan menuju kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Kami ingin budaya tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadi kekuatan yang hidup dan relevan bagi generasi masa depan,” katanya.

Songgoriti selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata unggulan di Kota Batu dengan berbagai fasilitas penginapan dan destinasi wisata. Namun di balik perkembangan sektor pariwisata tersebut, masyarakat masih mempertahankan berbagai tradisi budaya yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.

Setiap bulan Suro, sejumlah kegiatan adat dan kesenian rutin digelar, mulai dari kirab budaya, doa bersama, pertunjukan seni tradisional hingga ritual adat yang sarat nilai filosofis. Tradisi-tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan budaya di tengah perkembangan zaman.

Keberadaan Ngarak Banteng Empu Supo dinilai memiliki nilai historis, sosial, dan spiritual yang kuat. Tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang dapat melengkapi kekuatan Kota Batu sebagai daerah tujuan wisata.

Ahmad Choirul berharap kegiatan tersebut dapat menjadi magnet wisata budaya sekaligus memperkuat posisi Songgoriti sebagai salah satu pusat pelestarian tradisi di Kota Batu.

“Kami mengundang seluruh masyarakat, pegiat seni budaya, wisatawan, dan pecinta tradisi Nusantara untuk hadir bersama menyaksikan kirab budaya ini. Semakin banyak yang terlibat, semakin kuat pula upaya kita menjaga warisan budaya leluhur,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menikmati kemeriahan kirab budaya, tetapi juga semakin memahami pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal sebagai bagian dari identitas Kota Batu. ( Eno)