Sentuhan Kemanusiaan Jusuf Kalla dalam Merawat Indonesia
Makassar | Serulingmedia.com – Di tengah dinamika politik yang kerap keras dan penuh perbedaan, sosok Jusuf Kalla (JK) justru dikenang melalui sisi lain: kemanusiaan.
Bagi Prof. Dr. La Ode Husen, S.H., M.Hum., Direktur Pascasarjana UMI Makassar, jejak panjang JK bukan sekadar catatan politik, melainkan cerita tentang kepedulian yang konsisten hadir untuk bangsa.
“Pak JK adalah contoh pemimpin yang tidak hanya berpikir strategis, tetapi juga bertindak dengan hati. Beliau memahami bahwa di balik setiap konflik, ada kemanusiaan yang harus diselamatkan,” ujar Prof. La Ode Husen.
Ada banyak cara untuk melihat seorang pemimpin. Namun pada JK, pendekatan humanis terasa begitu kuat—terutama ketika bangsa ini berada di titik-titik krisis.
Saat konflik melanda berbagai daerah, ia tidak hanya hadir sebagai pejabat negara, tetapi sebagai penenang, pendengar, sekaligus penengah. Upaya damai melalui Perjanjian Malino dan Perjanjian Helsinki menjadi bukti bahwa dialog dan empati mampu meredakan luka yang telah lama menganga.
Menurut Prof. La Ode, keberhasilan tersebut tidak lepas dari karakter JK yang mengedepankan pendekatan personal dan komunikasi yang setara.
“Beliau tidak datang dengan kekuasaan semata, tetapi dengan pendekatan yang merangkul semua pihak. Itu yang membuat kepercayaan bisa terbangun,” tambahnya.
Di balik gaya bicaranya yang lugas, tersimpan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat. Prinsip “lebih cepat lebih baik” bukan sekadar slogan, melainkan refleksi dari keinginan untuk segera menghadirkan solusi.
Bagi banyak orang, kebijakan bukan hanya angka dan regulasi, tetapi tentang bagaimana kehidupan sehari-hari bisa menjadi lebih baik.
“Kecepatan beliau dalam mengambil keputusan itu bukan tanpa pertimbangan, tapi karena beliau tahu masyarakat tidak bisa menunggu terlalu lama,” kata Prof. La Ode.
Kemanusiaan JK juga tampak jelas dalam pengabdiannya di Palang Merah Indonesia. Dalam berbagai bencana, ia kerap hadir lebih awal, memastikan bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Di situ, kepemimpinan tidak lagi berjarak—ia menjadi dekat, hangat, dan terasa nyata.
“Dalam situasi bencana, kita melihat sisi paling tulus dari beliau. Tidak banyak pemimpin yang mau turun langsung dan memastikan semuanya berjalan,” ungkap Prof. La Ode.
Tak berhenti di situ, melalui Dewan Masjid Indonesia, JK mendorong masjid agar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat. Ia percaya bahwa kekuatan sosial dan ekonomi masyarakat dapat tumbuh dari ruang-ruang spiritual yang dikelola dengan baik.
“Masjid bagi beliau adalah pusat peradaban. Dari sana, umat bisa bangkit, baik secara spiritual maupun ekonomi,” jelas Prof. La Ode.
Tentu, perjalanan panjang seorang tokoh tak pernah lepas dari kritik. Perbedaan pandangan menjadi bagian dari demokrasi yang terus hidup. Namun, dalam sudut pandang humania, nilai seorang pemimpin tidak hanya diukur dari keputusan politiknya, tetapi juga dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkannya.
“Menjadi tokoh bangsa bukan berarti tanpa kekurangan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang telah diberikan. Dan Pak JK telah membuktikan itu,” pungkas Prof. La Ode Husen.
Di situlah JK berdiri—sebagai figur yang tidak hanya memimpin, tetapi juga merangkul. Sosok yang mengingatkan bahwa di balik setiap kebijakan, selalu ada manusia yang harus dijaga, didengar, dan diperjuangkan.. ( Yah/Eno).






