Pakar Psikologi UNAIR Ingatkan Bahaya Dampak Broken Home, Anak Rentan Alami Krisis Emosional

Screenshot_2026-03-25-15-29-46-410_com.whatsapp-edit

Surabaya | Serulingmedia.com – Fenomena broken home di Indonesia terus meningkat seiring naiknya angka perceraian, dan para pakar menegaskan bahwa anak menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

 

Pakar Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana MSc MPsi, menyoroti pentingnya peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak di tengah konflik keluarga.

 

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 4,79 persen keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup.

 

Kondisi ini turut memperbesar potensi disfungsi keluarga yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak.

Atika menjelaskan bahwa broken home terjadi ketika keluarga tidak lagi berfungsi secara optimal, terutama akibat konflik berkepanjangan di antara orang dewasa.

 

“Dalam perspektif psikologi, broken home muncul akibat konflik tinggi yang menyebabkan keluarga tidak lagi berfungsi, tidak lagi harmonis, dan tentunya berdampak signifikan pada semua anggota keluarga, khususnya pada anak,” ujarnya.

Menurutnya, dampak tersebut kerap terlihat dari perubahan perilaku sehari-hari anak. Banyak di antara mereka menjadi menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan kepercayaan diri, hingga mengalami penurunan prestasi akademik.

 

Perubahan emosi seperti kemarahan, kecemasan, dan ketakutan juga menjadi gejala yang sering muncul.

Anak yang berada dalam kondisi tersebut, kata Atika, memerlukan pendampingan profesional jika perilaku mereka semakin memburuk atau jika keluarga tidak mampu memberikan dukungan emosional yang sehat, terutama saat terdapat unsur kekerasan.

 

“Dalam kondisi seperti itu, anak sebaiknya ditempatkan di lingkungan yang lebih aman dan mendapatkan pendampingan kesehatan mental dari tenaga profesional,” imbuhnya.

Atika menambahkan bahwa peran orang tua tetap krusial meski keluarga berada dalam kondisi konflik. Lingkungan yang kondusif, komunikasi yang baik, serta kehadiran orang tua adalah faktor penting yang mampu menahan dampak negatif terhadap psikologis anak.

Meski demikian, Atika menegaskan bahwa tidak semua anak dari keluarga broken home mengalami gangguan mental. Komunikasi terbuka dan pendampingan yang konsisten dapat membantu anak menyalurkan emosi dan mencegah rasa keterasingan.

Ia juga mengingatkan agar orang dewasa memahami tingkat kematangan anak. Anak kecil membutuhkan pendampingan lebih intensif, sementara anak yang lebih dewasa membutuhkan ruang dialog yang lebih terbuka.

 

Di akhir, Atika menegaskan bahwa anak tidak boleh dibebankan sebagai penyebab konflik di rumah.

 

“Konflik terjadi antara orang dewasa. Karena itu, anak sebaiknya tetap fokus pada tujuan dan cita-citanya. Apa yang terjadi dalam keluarga saat ini tidak menentukan masa depan mereka,” pesannya. (Dini/Eno)