Hilda Sukmawati Ubah Limbah Ternak Jadi Energi dan Pupuk, Desa Sumbersari Berdaya

1110741_11zon

Surabaya | Serulingmedia.com – Semangat perubahan yang dibawa generasi muda kembali terlihat melalui kiprah Hilda Sukmawati Wahyuning Tyas, alumnus program studi Antropologi Universitas Airlangga.

 

Melalui inovasi yang digagasnya, Hilda berhasil mengubah limbah kotoran ternak di Desa Sumbersari, Lamongan, menjadi sumber energi dan pupuk yang bermanfaat bagi masyarakat.

 

Hilda menginisiasi program Literasi (Lingkungan Peternakan Sapi Terintegrasi) yang mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian dalam satu sistem berkelanjutan.

 

Program ini memanfaatkan hasil samping pertanian sebagai pakan ternak fermentasi yang bergizi dan tahan lama, sekaligus mengolah limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik dan biogas.

“Saya terjun ke dalam bidang ini karena saya tergerak untuk dapat memberikan solusi terhadap masalah yang ada di desa. Desa saya memiliki hasil samping panen berlimpah untuk pakan ternak, namun dengan masa simpan yang pendek. Di sisi lain, limbah kotoran ternak yang menggunung juga mencemari lingkungan,” ujar Hilda, Kamis ( 5/3/2026).

Program Solutif Berbasis Masyarakat
Melalui program Literasi Edufarm, Hilda mengembangkan pengolahan silase, yaitu pakan ternak fermentasi dari limbah hasil panen yang memiliki masa simpan lebih panjang dan nilai gizi tinggi.

 

Sementara itu, limbah ternak seperti feses dimanfaatkan menjadi pupuk organik, sedangkan urin ternak diolah sebagai bahan dasar biogas.

Tidak hanya berfokus pada teknologi pengolahan limbah, Hilda juga mendorong pemberdayaan masyarakat desa. Ia melibatkan ibu-ibu untuk bekerja di kandang koloni dalam produksi pupuk organik serta mengelola kebun percobaan yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk usaha katering.

“Kami berupaya memberdayakan ibu-ibu untuk bekerja di kandang koloni dalam produksi pupuk organik dan pengelolaan kebun percobaan untuk bahan catering. Selain itu, para pemuda kami latih agar dapat menjadi trainer dalam program pelatihan masyarakat umum, sekaligus menjadikan desa sebagai lokasi ‘Integrated Farming’ dan tempat pembelajaran outing class bagi sekolah,” ungkapnya.

Hadapi Tantangan dengan Inovasi
Dalam proses menjalankan program tersebut, Hilda mengaku sempat menghadapi tantangan, terutama dalam mengenalkan sistem baru kepada masyarakat. Namun, ia terus melakukan pendekatan melalui pelatihan serta menghadirkan inovasi berupa program asuransi ternak bagi warga.

“Kami menawarkan warga untuk mengirimkan kotoran ternaknya kepada kami. Sebagai gantinya, kami akan membayarkan iuran asuransi ternak warga. Asuransi tersebut dapat dicairkan sewaktu-waktu apabila ternak mengalami potong paksa atau kematian, sehingga warga tidak perlu khawatir terhadap keberlanjutan pemeliharaan ternaknya,” jelasnya.

Raih Berbagai Penghargaan

Berkat dedikasi dan inovasinya, Hilda meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Ia menjadi Juara 1 Pemuda Pelopor Lamongan, Juara 3 Pemuda Pelopor Jawa Timur bidang Pemanfaatan Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Pariwisata, serta Juara 3 Local Hero Award 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

 

Ia juga terpilih sebagai salah satu pemuda utama Jawa Timur dan menjadi perwakilan Pemuda Pelopor Desa di bidang lingkungan dari Jawa Timur.

Hilda mengungkapkan bahwa dampak terbesar dari program yang ia jalankan adalah perubahan status desanya.

“Bagi saya, dapat memberikan dampak bagi banyak orang adalah anugerah luar biasa. Desa saya kini berubah status dari desa tertinggal menjadi desa maju. Saya meyakini manusia yang baik adalah manusia yang berguna bagi sesama. Jangan menyerah dan terus memberikan solusi serta inovasi,” pungkasnya. (Dini/Eno)