Riset Guru Besar UNAIR Ungkap Khasiat Tanaman Lokal, Jamu Berpeluang Naik Kelas Jadi Obat Modern

1102877_11zon

Surabaya | serulingmedia.com – Di tengah laju modernisasi farmasi global, Indonesia menyimpan “harta karun” kesehatan yang tumbuh di pekarangan sendiri.

 

Berbagai tanaman lokal yang selama ini identik dengan jamu tradisional, kini terbukti memiliki potensi ilmiah besar sebagai antioksidan, antibakteri, bahkan antikanker.

 

Guru Besar Bidang Ilmu Toksikologi serta Aktivitas Enzim Antioksidan Endogen Hewan Coba Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sugiharto, S.Si., M.Si., mengungkapkan bahwa hasil risetnya memotret potensi luar biasa tanaman lokal seperti temu giring, temu kunci, jahe merah, temulawak, hingga sambung nyawa.

“Data penelitian kami membuktikan bahwa sejumlah ekstrak tanaman lokal mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan kurkuminoid. Senyawa tersebut berpotensi sebagai antioksidan, menurunkan kadar MDA, menstimulasi peningkatan enzim antioksidan SOD dan CAT, meningkatkan ekspresi gen SOD-1 dan CAT, serta mengurangi kerusakan sel hepar pada mencit yang mengalami stres oksidatif akibat paparan logam berat Pb dan Cd,” jelasnya.

Saintifikasi Jamu Jadi Keniscayaan

Temuan ini menjadi semakin strategis seiring pesatnya pertumbuhan pasar global obat herbal organik yang diproyeksikan mencapai USD 24,5 miliar pada 2030. Di sisi lain, sejak 2023 jamu juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.

Meski demikian, Prof. Sugiharto menegaskan bahwa pengakuan budaya harus dibarengi pembuktian ilmiah yang kuat.

“Saat ini, jamu masih berada pada level terbawah dalam klasifikasi Obat Bahan Alam (OBA) versi BPOM. Karena itu, saintifikasi jamu menjadi proses yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Menurutnya, saintifikasi jamu mencakup tahapan uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis. Proses ini diyakini mampu membuka peluang jamu naik kelas menjadi obat herbal terstandar bahkan fitofarmaka, sekaligus mendukung kemandirian obat nasional.

Tantangan Riset dan Lingkungan

Di balik potensi besar tersebut, Prof. Sugiharto tidak menampik adanya tantangan sistemik. Mulai dari ancaman deforestasi dan bencana alam yang mengganggu keberlanjutan tanaman obat di habitat aslinya, hingga kebutuhan standardisasi ekstrak dan biaya riset yang tinggi di tingkat laboratorium.

“Jika ingin menjadikan OBA sebagai produk yang diakui secara medis, maka standardisasi bahan baku dan dukungan pembiayaan riset menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama,” ujarnya.

Sinergi dari Hulu ke Hilir

Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Sugiharto menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.

“Diperlukan kerja sama dari hulu ke hilir antara akademisi, petani, industri farmasi, dan pemerintah. Tanpa sinergi yang kuat, potensi besar tanaman lokal sulit diwujudkan secara optimal,” pesannya.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa alam Indonesia sejatinya adalah laboratorium raksasa yang belum sepenuhnya dieksplorasi.

“Tanaman lokal yang selama ini kita anggap liar di halaman rumah, kelak bisa menjadi kunci penyembuhan penyakit kronis dan tulang punggung kemandirian obat nasional,” pungkasnya. (Dini/Eno)