Sujono Djonet Dorong OPD Pariwisata Batu Lahirkan Terobosan Inovatif, Kolaborasi Desa Jadi Kunci

1070221_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet, mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) pengampu sektor pariwisata untuk melahirkan program-program terobosan yang inovatif guna menjaring kembali arus wisatawan ke Kota Batu.

 

Menurutnya, kolaborasi dengan desa dan kelurahan yang memiliki potensi destinasi menjadi kunci pengembangan pariwisata berkelanjutan.

 

Sujono menilai, meski pariwisata Batu menghadapi tantangan pascapandemi akibat penurunan daya beli masyarakat, posisinya sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Jawa Timur masih sangat kuat.

 

“Batu sudah memproklamirkan diri sebagai kota wisata. Maka napas pemerintahan juga harus napas wisata, tercermin dalam setiap program prioritas,” tegasnya, Selasa ( 23/2/2026 ).

 

Ia mengingatkan bahwa sektor unggulan Batu bertumpu pada dua pilar utama, yakni pertanian dan pariwisata. Jika kedua sektor ini dikelola dengan inovasi yang tepat, manfaatnya akan kembali ke masyarakat dan berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

 

Sebaliknya, tanpa pembaruan dan keberanian mengambil terobosan, potensi besar tersebut berisiko stagnan.

 

Terkait isu penurunan jumlah wisatawan, Sujono mengaku masih optimistis. Ia menilai penurunan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan karena pendataan kunjungan yang belum akurat.

 

Selama ini, indikator kerap mengacu pada tingkat hunian hotel, sementara tren wisata menunjukkan banyak wisatawan memilih vila, homestay, dan penginapan alternatif.

 

“Tidak semua wisatawan menginap di hotel. Banyak yang ke vila atau penginapan lain, dan itu belum seluruhnya terbaca dalam data,” ujarnya.

 

Karena itu, Sujono mendorong Dinas Pariwisata Kota Batu, Bapenda Kota Batu, serta dinas perizinan untuk melakukan pendataan terpadu dan menyeluruh.

 

Pendataan harus mencakup vila yang tumbuh pesat, homestay, hingga penginapan berbasis aplikasi atau jaringan nasional seperti OYO dan sejenisnya, agar potensi kunjungan dan PAD tergambar secara riil.

 

Lebih jauh, Sujono menegaskan bahwa OPD pengampu sektor wisata tidak cukup bekerja administratif, melainkan harus turun langsung ke lapangan sekaligus merancang terobosan yang inovatif.

 

Ia menekankan pentingnya kerja sama dengan desa dan kelurahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi.

 

“Kolaborasi desa–kelurahan akan memperkaya atraksi, memperluas sebaran wisata, dan mendorong pariwisata berkelanjutan,” katanya.

 

Menanggapi keluhan minimnya destinasi wisata malam yang membuat sebagian wisatawan beralih ke Kota Malang, Sujono menilai Batu masih memiliki pilihan.

 

Kawasan seputar alun-alun, Batu Night Spectacular, serta sentra kuliner dinilai tetap potensial jika dikemas lebih kreatif dan terintegrasi.

 

Ia mengakui wisata belanja lebih berkembang di Malang, termasuk kawasan Kayutangan, namun Batu unggul pada udara sejuk, panorama alam, dan wisata berbasis kebersamaan.

 

“Dengan inovasi, kolaborasi desa–kelurahan, serta data yang akurat, saya optimistis pariwisata Batu akan tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. ( Eno).