Gebyak Budoyo, Gema Bahagia dari Tanah yang Kini Punya Nama
Batu | Serulingmedia.com —.Pada malam yang berpendar lembut di halaman parkir KONI Batu, udara dingin Kota Batu seolah ikut menghangat ketika suara merdu Niken Salindri mengalir pelan, menyusup ke sela-sela hati warga Kelurahan Sisir, Sabtu malam ( 22/11/2025 ).

Namun malam itu, kebahagiaan bukan hanya milik para penikmat seni; ia menjelma menjadi harapan yang tiba-tiba nyata, menggenggam erat di tangan warga—selembar sertifikat tanah yang lama dinanti, rumah bagi secuil masa depan.
Di antara gemerlap lampu dan riuh tepuk tangan, seorang ibu berdiri sambil mendekap sertifikat PTSL-nya seperti seorang anak yang baru kembali dari perjalanan jauh. Matanya berkaca-kaca, suaranya lirih namun sarat makna.
“Maturnuwun Pak Lurah, BPN, dan Pak Wawali… akhirnya kami bisa memegang sertifikat tanah yang sangat lama kami dambakan.”
Ungkapan itu meluncur pelan, namun rasanya menembus langit malam.
Ada kelegaan, ada kemenangan kecil, ada harapan yang tumbuh kembali setelah mungkin bertahun-tahun hanya menjadi angan.
Di panggung pemberian sertifikat itu, Kepala BPN Kota Batu, Rudi Susanto, tersenyum lebar. Wajahnya memancarkan semangat seorang pelayan masyarakat yang merasa turut berbahagia menyaksikan senyum warganya.

“Ini hanya penyerahan simbolis. Minggu depan akan kami serahkan seluruhnya. Semoga mereka mendapatkan kepastian hukum atas tanahnya,” ujarnya dengan nada yang mantap—seolah memberi jaminan bahwa kebahagiaan malam itu hanyalah awal dari kepastian yang sesungguhnya.
Lurah Sisir, Muhammad Vyata Aria Pranaka, tampak berdiri tegap namun tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.
Dalam pesta rakyat Gebyak Budoyo—yang sejatinya dirayakan untuk menyambut usia kelurahan—terselip momentum kecil yang mengubah kehidupan warganya.

“Semoga kebahagiaan ini menambah semangat untuk terus membangun kelurahan dan meningkatkan dukungan,” ucapnya tulus, seperti seorang ayah yang menyaksikan anak-anaknya menemukan pijakan baru.
Malam itu, Gebyak Budoyo bukan sekadar panggung seni. Ia menjadi saksi bagaimana sebuah kelurahan berpesta merayakan budaya, sejarah, dan masa depan dalam satu tarikan napas.
Di tengah alunan campursari yang membelai jiwa, belasan warga menggenggam harapan yang kini memiliki nama, nomor, dan kepastian hukum.
Di antara mereka ada senyuman yang tak dapat disembunyikan, ada lega yang tak dapat ditahan, ada kisah yang akhirnya menemukan ujungnya.
Karena pada akhirnya, tanah bukan hanya sebidang lahan. Ia adalah akar tempat seseorang menanam mimpi, tempat keluarga berteduh, tempat sejarah kecil sebuah rumah dimulai.
Dan malam itu, di Sisir, mimpi-mimpi itu kembali ditanam—dengan hati yang penuh syukur dan tangan yang kini menggenggam kepastian.
Gebyak Budoyo pun terus berdentang, namun gema kebahagiaan warga Sisir jauh lebih nyaring daripada musik yang mengalun.
Sebab di balik riuh pesta rakyat, ada cerita tentang martabat, kepastian, dan cinta pada tanah tempat mereka berpijak. Sebuah malam di mana seni, rakyat, dan harapan bersatu dalam satu panggung yang sama.( Eno).






