Walikota Batu Nurochman Ajak Refleksi Seperempat Abad Otonomi: “Mari Menata MBATU SAE dengan SEDOYO SAE”
Batu | Serulingmedia.com – Menjelang peringatan 24 tahun berdirinya Kota Batu sebagai daerah otonom, Walikota Batu Nurochman mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan refleksi dan menatap masa depan dengan visi yang lebih tajam dan langkah yang lebih kokoh.
Hal itu disampaikan dalam Sarasehan Pokja Kota Batu: Refleksi Menuju Seperempat Abad Kota Batu sebagai Daerah Otonom, yang digelar di Graha Pancasila, Balai Kota Batu, pada Selasa (14/10/2025).
Dalam sambutannya, Nurochman menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Presidium Pokja Kota Batu, yang selama ini menjadi mitra strategis dan motor penggerak dalam mendukung berbagai program kerja Pemerintah Kota Batu.

“Acara sarasehan kali ini merupakan langkah strategis untuk merenungkan kembali capaian program kerja daerah, arah pembangunan, tata kelola pemerintahan, dan perjalanan panjang Kota Batu yang hampir mencapai seperempat abad,” ujar Nurochman.
Sejak resmi menjadi daerah otonom pada tahun 2001, lanjutnya, Kota Batu telah berkembang dari kota agraris dan pariwisata menjadi kota yang mandiri, berdaya saing, dan berkarakter.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa otonomi daerah bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk menghadirkan kesejahteraan dan pelayanan publik yang berkeadilan.
“Selama hampir 25 tahun, kita telah berupaya membangun tata kelola pemerintahan yang partisipatif, transparan, akuntabel, dan berorientasi pelayanan publik,” ungkapnya.
Nurochman menyoroti berbagai inovasi dan terobosan daerah, mulai dari pengembangan desa wisata, pertanian organik, ekonomi kreatif, hingga transformasi digital dalam pelayanan publik.
Semua itu, katanya, merupakan bukti nyata bahwa otonomi telah menghidupkan potensi lokal menuju kemandirian.
Namun, Walikota mengingatkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks — mulai dari perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, hingga tuntutan digitalisasi pelayanan publik.
“Melalui sarasehan ini, saya mengajak seluruh komponen — pemerintah, legislatif, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat sipil — untuk bersama menyusun roadmap menuju MBATU SAE dengan SEDOYO SAE: Sae pendidikannya, sae program kerjanya, sae ekonominya, sae pelayanannya, dan sae SDM-nya,” tegasnya.
Pokja Batu Ingatkan Pentingnya Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Presidium Pokja Kota Batu, Andrek Prana, mengenang perjuangan panjang Pokja dalam memperjuangkan status otonomi Batu hingga ke Kementerian Dalam Negeri.

Ia mengungkapkan, salah satu konsep awal yang diterima pemerintah pusat kala itu adalah gagasan “Batu Kota Bernuansa Desa” — sebuah konsep yang menjaga keseimbangan pembangunan tanpa merusak lingkungan.
“Kalau tidak punya konsep pembangunan yang permanen, bisa jadi lingkungan akan rusak. Kami tidak menyalahkan siapa pun, tapi berharap siapa pun pemimpinnya menjaga Batu agar tidak sembarangan menerima investasi,” tegas Andrek.
Sementara itu, Ketua Panitia Sarasehan, Drs. Sumiantoro, melaporkan kegiatan tersebut diikuti oleh 300 peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, pelaku usaha, hingga perwakilan lembaga pemerintah.

Ia menegaskan bahwa Pokja tetap menjaga watak kritis meski telah sukses mengantarkan lahirnya Pemerintahan Kota Batu.
“Pokja adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang. Kami siap terus bermitra dengan pemerintah dan dewan, mendukung kepemimpinan Cak Nur dan Mas Heli agar mampu menuntaskan pembangunan dengan baik,” ujarnya.
Sarasehan ini menjadi momentum reflektif dan inspiratif, menegaskan bahwa perjalanan Kota Batu bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan perjalanan spiritual dan sosial menuju kota yang benar-benar SAE — sejahtera, adil, dan elok.( Eno).






