Duka dan Harapan di Tengah Musibah Ambruknya Musala Ponpes Al-Khoziny
Sidoarjo | Serulingmedia.com – Proses evakuasi musibah ambruknya Musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny masih terus dilakukan hingga Selasa sore (30/9/2025).
Sebanyak 98 santri berhasil dievakuasi, meski duka mendalam tak terelakkan dengan wafatnya tiga santri: Maulana Alfian Ibrahim asal Kali Anyar Kulon Surabaya, Mochammad Mashudulhaq asal Surabaya, dan Muhammad Soleh asal Bangka Belitung.
Mashudulhaq sempat menjalani perawatan intensif di RSUD RT Notopuro, namun tak tertolong. Begitu pula Muhammad Soleh yang sejak awal berada dalam kondisi kritis.
Kehilangan ini menjadi pukulan berat, namun juga pengingat akan rapuhnya kehidupan dan betapa pentingnya saling menguatkan.
Di balik air mata, ada cerita tentang keberanian. Puluhan santri lain yang mengalami luka ringan hingga berat kini masih berjuang di RSUD RT Notopuro maupun RSI Siti Hajar.
Nama-nama mereka, dari Salman, Felix, hingga Furqon, bukan sekadar daftar korban, melainkan simbol keteguhan hati yang tengah diuji.
Musibah ini bukan akhir, tetapi panggilan untuk bangkit. Para santri yang selamat membawa pesan kuat: bahwa dari reruntuhan pun, tekad menuntut ilmu tak boleh runtuh.
Pondok pesantren sebagai pusat pendidikan dan dakwah akan kembali berdiri, dengan semangat lebih kokoh dan penuh kewaspadaan.
Kepada keluarga korban yang ditinggalkan, doa terbaik terus dipanjatkan. Kepada santri yang masih dirawat, semoga segera pulih.
Dan kepada kita semua, mari jadikan musibah ini pelajaran penting tentang gotong royong, kewaspadaan, serta keyakinan bahwa setiap ujian selalu menyimpan hikmah.
“Duka ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Dari musibah, lahirlah semangat baru untuk tetap berdiri, belajar, dan berjuang bersama,” begitu ungkapan yang banyak terdengar di tengah para relawan dan keluarga santri.( Agus/Eno).






