UIN Maliki Malang Wujudkan Empati Nyata untuk Santri Al Khoziny: Dari Trauma Healing hingga Golden Ticket

IMG_20251006_200944

Malang | Serulingmedia.com – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menunjukkan empati atas tragedi yang menimpa santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo.

Tak hanya memberikan pemulihan trauma (trauma healing) pasca insiden tersebut, kampus yang sudah berdiri lebih dari dua dekade lalu ini juga siap memberikan kuota golden ticket pada para santri.

Bahkan ke depan, UIN Maliki juga akan memberikan pendampingan konsultasi pendirian ponpes di sejumlah daerah.

Hal tersebut dikatakan Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP. didampingi para wakil rektor UIN Maliki, antara lain Drs. H. Basri, M.A., Ph.D., Dr. Zainal Habib, Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., dan Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., M.A., di hadapan wartawan di ruang kerja Rektor, Senin (6/10/2025).

“Bersama Menteri Agama, kami sudah datang ke sana. Dan selanjutnya, kami akan turun langsung untuk melakukan trauma healing bagi para santri,” ujarnya penuh empati.

Prof. Ilfi menambahkan, UIN Maliki Malang merasa tragedi ini merupakan duka yang mendalam. Bukan hanya bagi santri dan keluarganya, tetapi juga bagi pesantren dan dunia pendidikan Islam secara keseluruhan.

Karena itulah, kampus yang dikenal dengan semangat ulul albab ini berkomitmen untuk menjamin pendidikan bagi para korban yang selamat dan ingin melanjutkan ke jenjang perkuliahan.

“Kami siapkan privilege berupa golden ticket bagi adik-adik kita yang telah menempuh pendidikan Aliyah santri Al-Khoziny” lanjutnya.

Lebih jauh, Prof. Ilfi menjelaskan bahwa tragedi ini menjadi pengingat pentingnya tanggung jawab bersama dalam memastikan lingkungan pendidikan pesantren yang aman dan layak.

Ia menegaskan, UIN Maliki Malang tidak akan berhenti pada program trauma healing dan golden ticket semata, melainkan juga turut berperan aktif dalam memastikan bangunan pondok pesantren di berbagai daerah memiliki standar keamanan yang memadai.

Bekerja sama dengan kampus lain, Prof. Ilfi mengungkapkan bahwa dosen dan mahasiswa UIN Maliki Malang, khususnya dari Fakultas Sains dan Teknologi, siap memberikan pendampingan serta konsultasi teknis dalam pembangunan atau renovasi pesantren.

“Mereka bisa terjun langsung ke lapangan dan membantu perencanaan hingga proses pembangunan ponpes yang lebih baik,” tandasnya.

Langkah-langkah tersebut mencerminkan wajah humanis dan kolaboratif UIN Maliki Malang dalam merespons bencana kemanusiaan.

Dengan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat pesantren, kampus ini berupaya menjadikan tragedi Al Khoziny sebagai momentum kebangkitan solidaritas dan pembenahan dunia pendidikan Islam ke arah yang lebih aman dan berkeadaban.

Melalui program trauma healing, golden ticket, dan pendampingan pembangunan pesantren, UIN Maliki Malang menegaskan komitmennya untuk menjadi pelopor kepedulian, pendidikan, dan pengabdian yang berlandaskan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin — menghadirkan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan dalam setiap langkah pengabdiannya.(Eno).