UIN Malang Masuk Forum Strategis Indonesia-China, Bahas Kolaborasi Kampus dan Industri

2125865_11zon

Denpasar | Serulingmedia.com – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut mengambil bagian dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 yang mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri Indonesia-China di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Minggu (4/10/2026).

 

Kehadiran UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diwakili Wakil Rektor I Bidang Akademik, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D. Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk membahas penguatan kerja sama perguruan tinggi dengan institusi pendidikan maupun sektor industri.

 

Basri mengatakan, dirinya hadir sebagai undangan dalam pertemuan yang secara khusus membicarakan peluang kolaborasi antara perguruan tinggi China dan Indonesia.

“Saya ini mengikuti pertemuan pimpinan perguruan tinggi di China, khususnya di Tsinghua University, dan dalam upaya bekerja sama dengan institusi, baik perguruan tinggi maupun institusi non-perguruan tinggi, seperti perusahaan dan industri,” ujar Basri.

Menurut Basri, kerja sama pendidikan tinggi yang dibicarakan dalam forum tersebut diarahkan agar tidak berhenti pada hubungan antarkampus, tetapi mampu menghasilkan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri.

“Pembicaraannya murni terkait bagaimana perguruan tinggi menjalin kerja sama yang terus bisa memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan industri. Jadi perguruan tinggi dengan perguruan tinggi, dan perguruan tinggi dengan pihak industri atau swasta,” katanya.

UIN Malang Tangkap Peluang Kolaborasi

Basri menilai forum Indonesia-China tersebut memiliki arti penting bagi perguruan tinggi Indonesia, termasuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, untuk memperluas jejaring kerja sama internasional.

Menurutnya, perkembangan perguruan tinggi China saat ini semakin agresif dalam membangun jejaring global. Universitas Tsinghua, salah satu perguruan tinggi terkemuka China, disebut tengah memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Tsinghua sekarang betul-betul berupaya keras untuk membangun kerja sama yang mungkin pada ujung-ujungnya bagaimana Tsinghua menjadi satu perguruan tinggi yang dilirik dan dibidik di Asia Tenggara,” ujarnya.

Basri melihat kondisi tersebut sebagai peluang bagi perguruan tinggi Indonesia untuk membangun kemitraan yang lebih konkret, khususnya dalam bidang penelitian, inovasi, pendidikan, dan hubungan dengan dunia industri.

Ia mengatakan, China memiliki banyak perguruan tinggi yang telah menghasilkan penelitian dan inovasi dengan dampak nyata terhadap masyarakat maupun industri.

Karena itu, menurut Basri, kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dan China perlu diarahkan pada kolaborasi yang menghasilkan manfaat bersama, bukan sekadar pertukaran akademik.

Luhut Dorong Tsinghua Perkuat Riset AI

Dalam forum yang sama, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong Universitas Tsinghua memperkuat kolaborasi penelitian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di KEK Kura Kura Bali.

“Saya ingin melihat Universitas Tsinghua bergabung dalam riset AI di pulau ini dalam waktu dekat, bahkan sangat segera. Kalau memungkinkan, saya ingin ini terjadi tahun ini,” kata Luhut.

Luhut mengatakan Indonesia telah memiliki pusat penelitian AI di Kura Kura Bali. Ia berharap Tsinghua dapat memperkuat fasilitas tersebut melalui dukungan peneliti,

 

keahlian teknologi dan ekosistem inovasi.
Ia juga mendorong kerja sama Indonesia-China tidak hanya berorientasi pada investasi dan transfer teknologi.

“Kami tidak hanya menginginkan peralatan. Kami menginginkan ilmuwan, pengetahuan dan ekosistem inovasi,” ujarnya.

Luhut mengajak Tsinghua membangun laboratorium bersama, program penelitian, pendanaan riset dan publikasi ilmiah dengan perguruan tinggi serta peneliti Indonesia.

Bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik dan membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi maupun sektor industri internasional.

Basri menegaskan, perguruan tinggi ke depan dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mampu membangun ekosistem riset dan inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, industri, dan pembangunan ekonomi.

Forum tersebut dihadiri sejumlah pimpinan perguruan tinggi dan pejabat dari Indonesia maupun China.

 

Selain Luhut Binsar Pandjaitan, hadir pula sejumlah pejabat bidang pendidikan dan riset serta pimpinan perguruan tinggi dari Indonesia dan China. ( Eno).