PSGAD UIN Malang Ingatkan Orang Tua: Perilaku Anak Bukan untuk Diadili, tapi Dipahami

2126159_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Tangisan, kemarahan, keinginan untuk mandiri, hingga sikap remaja yang mulai menjauh dari orang tua kerap dianggap sebagai masalah perilaku. Padahal, di balik perilaku tersebut bisa tersimpan kebutuhan anak yang belum mampu mereka ungkapkan.

 

Hal itu menjadi salah satu pesan utama Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam kegiatan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jumat (2/10/2026).

Kepala PSGAD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan bertajuk “Memahami Anak, Mengelola Emosi dan Tumbuh Bersama Sejak Dini” yang digelar di Gedung Serbaguna Kelurahan Tunjungsekar.

Aprilia mengajak orang tua mengubah cara pandang terhadap perilaku anak. Menurut dia, orang tua tidak cukup hanya melihat apa yang dilakukan anak, tetapi perlu memahami pesan dan kebutuhan yang berada di balik perilaku tersebut.

“Anak sering kali belum mampu menyampaikan secara langsung apa yang sebenarnya ia butuhkan. Karena itu, orang dewasa perlu belajar membaca perilaku anak dengan lebih empatik, bukan terburu-buru memberikan label atau menghakimi,” kata Aprilia.

Ia mencontohkan berbagai situasi yang umum terjadi dalam keluarga. Anak yang menangis ketika ditinggalkan orang tua, ingin melakukan sesuatu sendiri, bertengkar dengan saudara, mengalami persoalan dengan teman di sekolah, hingga remaja yang mulai meminta ruang untuk menentukan pilihan hidupnya.

Menurut Aprilia, setiap perilaku tersebut perlu dibaca berdasarkan usia dan tahap perkembangan anak. Respons orang tua pun tidak bisa disamaratakan.

“Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu memiliki jawaban yang sempurna. Yang penting adalah terus belajar memahami anak, belajar mengelola emosi diri, dan membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita,” ujarnya.

Pengasuhan Bukan Sekadar Mengatur Anak
PSGAD UIN Malang menilai pengasuhan tidak semata-mata tentang bagaimana orang tua mengatur perilaku anak.

 

Pengasuhan juga menyangkut kemampuan orang tua mengelola emosi diri, menetapkan batasan yang sehat, mendengarkan anak, dan menciptakan hubungan yang membuat anak merasa aman.

Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran SOTH Kelurahan Tunjungsekar. Program ini ditujukan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Kegiatan sekaligus menjadi bentuk kolaborasi Kelurahan Tunjungsekar dengan PSGAD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menghadirkan edukasi pengasuhan yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak.

Lurah Tunjungsekar mengapresiasi keterlibatan PSGAD UIN Malang dalam kegiatan tersebut.

 

Penguatan kapasitas orang tua dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun keluarga dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Kolaborasi itu diharapkan tidak berhenti pada pembelajaran SOTH, tetapi berlanjut melalui berbagai bentuk edukasi dan pendampingan masyarakat.

Mahasiswa PSGAD Belajar dari Masyarakat
Kegiatan SOTH juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa volunteer PSGAD UIN Malang, Yenni dan Shiva.

 

Mereka terlibat dalam pendampingan peserta sekaligus belajar bagaimana pengetahuan akademik diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

“Kami belajar bahwa memahami anak tidak cukup hanya dengan mengetahui teori. Kami juga belajar bagaimana menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat dan bagaimana mendengarkan pengalaman orang tua,” ujar salah satu volunteer.

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut juga menjadi refleksi mengenai tahapan kehidupan manusia.

 

Pemahaman tentang anak tidak hanya relevan bagi mereka yang telah menjadi orang tua, tetapi juga menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan keluarga di masa mendatang.

“Kami juga mendapatkan hikmah bahwa setiap tahap kehidupan memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Apa yang kami pelajari hari ini bukan hanya untuk memahami anak, tetapi juga menjadi bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi tahap kehidupan berikutnya, termasuk ketika kelak menjadi orang tua dan membangun keluarga,” katanya.

Pembelajaran berlangsung melalui diskusi, refleksi, dan tanya jawab. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman pengasuhan yang mereka jalani sehari-hari.

Bagi PSGAD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, keterlibatan dalam SOTH menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Edukasi tentang pengasuhan, perkembangan anak, dan pengelolaan emosi diharapkan dapat membantu orang tua membangun relasi yang lebih hangat dan aman dengan anak.

Langkah tersebut sekaligus mempertegas komitmen PSGAD UIN Malang untuk menghadirkan perspektif akademik ke ruang-ruang masyarakat, sekaligus mendorong terbentuknya keluarga dan lingkungan yang semakin ramah anak.( Eno)