Prof. Ilfi Nur Diana: Pesantren Harus Jadi Motor Transisi Energi Berkeadilan

1170631_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa pesantren harus menjadi motor penggerak dalam mendorong transisi energi yang berkeadilan di Indonesia.

 

Peran ini dinilai penting mengingat pesantren memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter dan kesadaran sosial berbasis nilai keagamaan.

 

Pernyataan tersebut disampaikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu dalam diskusi Instagram Live bertajuk “Pesantren Pelopor Transisi Energi Berkeadilan” yang digelar oleh Institute for Essential Services Reform bersama GreenFaith Indonesia, Selasa (17/3/2026).

 

Dalam forum tersebut, Prof. Ilfi hadir bersama Sudarto M. Abukasim, dengan moderator M. Maghribul Falah. Diskusi ini mempertemukan perspektif keagamaan dengan gerakan transisi energi berkelanjutan.

 

Menurut Prof. Ilfi, sistem pendidikan pesantren yang berlangsung selama 24 jam menjadikannya ruang yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan.

 

Kebiasaan yang dibangun di lingkungan pesantren, kata dia, akan terbawa hingga para santri kembali ke masyarakat.

 

“Pesantren memiliki kekuatan besar untuk menjadi pelopor perubahan. Apa yang dibiasakan di pesantren akan hidup dan tumbuh di tengah masyarakat,” ungkapnya.

 

Ia menambahkan, transformasi menuju eco-pesantren tidak harus dimulai dari langkah besar. Upaya sederhana seperti pengelolaan sampah, efisiensi energi, serta pemanfaatan potensi lokal justru menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran ekologis dan kemandirian.

 

Lebih jauh, Prof. Ilfi menekankan bahwa transisi energi bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga merupakan panggilan moral dan spiritual. Dengan kekuatan nilai, keteladanan, serta basis komunitas yang kuat, pesantren diyakini mampu menjadi motor utama dalam mewujudkan transisi energi yang berkeadilan.

 

Melalui peran tersebut, pesantren diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. (Eno)