Dies ke-65 UIN Malang, Dekan FST Dr. Agus Mulyono Tekankan Sains Beretika dan Teknologi yang Bermanfaat

2225985_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Agus Mulyono, M.Kes., menegaskan pengembangan sains dan teknologi harus berlandaskan etika serta berorientasi pada kemanfaatan masyarakat.

Pesan ini disampaikan dalam refleksi Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Malang, yang menyoroti pentingnya integrasi sains, nilai-nilai Islam, dan inovasi teknologi di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Agus menilai, kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi, jumlah publikasi ilmiah, atau reputasi akademik.

Perguruan tinggi juga harus memastikan bahwa ilmu yang dikembangkan mampu menjawab persoalan nyata dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Dalam refleksinya bertajuk “Sains yang Mencerahkan, Nilai yang Mengarahkan, Inovasi/Teknologi yang Menghadirkan Kemanfaatan”, Agus mengingatkan bahwa usia 65 tahun UIN Malang merupakan momentum untuk mengevaluasi arah pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat kontribusi kampus bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat orang belajar dan memperoleh gelar. Ia harus menjadi ruang tempat pengetahuan tumbuh, kebijaksanaan dirawat, dan kemanfaatan bagi kehidupan diperjuangkan,” demikian penekanan Agus dalam refleksinya.

Menurutnya, perkembangan sains dan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan, bioteknologi, rekayasa material, energi terbarukan, dan teknologi digital menawarkan peluang besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan di bidang kesehatan, pangan, lingkungan, dan kehidupan sosial.

Namun, kemajuan tersebut juga menuntut tanggung jawab yang semakin besar. Kemampuan manusia menciptakan teknologi belum tentu sejalan dengan kemampuannya memahami dampak dan risiko yang ditimbulkan.

“Apakah kemampuan manusia menciptakan teknologi selalu diikuti oleh kemampuannya memahami akibat dari teknologi tersebut? Ternyata, memiliki pengetahuan dan memiliki kebijaksanaan bukanlah dua hal yang otomatis berjalan beriringan,” tulis Agus.

Integrasi Sains dan Islam Harus Menjadi Praktik

Agus menegaskan, integrasi sains dan Islam merupakan landasan penting bagi pengembangan FST UIN Malang.

Visi menjadi fakultas yang integratif dalam memadukan sains dan Islam, unggul, serta bereputasi internasional tidak boleh berhenti sebagai rumusan dalam dokumen kelembagaan.

Visi tersebut harus menjadi cara berpikir, cara bekerja, dan dasar dalam menentukan arah pengembangan fakultas.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki amanah untuk mengelola kehidupan, bukan sekadar mengambil manfaat dari alam.

Karena itu, sains perlu mencerahkan pemahaman manusia terhadap alam, nilai-nilai Islam mengarahkan penggunaan pengetahuan, sedangkan teknologi menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan.

Agus menekankan, ketiga unsur tersebut harus berjalan beriringan.
“Sains tanpa tanggung jawab dapat kehilangan arah, teknologi tanpa kebijaksanaan dapat menimbulkan persoalan baru, sedangkan nilai-nilai yang tidak diterjemahkan ke dalam tindakan nyata berisiko berhenti sebagai wacana,” tulisnya.

Prinsip itu, lanjutnya, perlu diwujudkan dalam kehidupan akademik sehari-hari. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan menguasai rumus, algoritma, teori, dan perangkat teknologi.

Mereka juga harus dilatih berpikir kritis, menguji asumsi, menghargai bukti ilmiah, serta memahami keterbatasan pengetahuan.
Di lingkungan penelitian, keberhasilan akademik juga tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah eksperimen dan publikasi yang dihasilkan.

Penelitian harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari persoalan kesehatan, lingkungan, pangan, energi, hingga teknologi informasi.

“Kita perlu bergerak dari budaya yang sekadar menghitung berapa banyak penelitian dihasilkan menuju budaya yang juga menanyakan seberapa besar manfaat penelitian tersebut dirasakan,” tegas Agus dalam refleksinya.

Mahasiswa Harus Siap Menghadapi Tantangan AI

Perkembangan kecerdasan buatan menjadi tantangan penting bagi pendidikan sains dan teknologi.

Menurut Agus, mahasiswa FST, terutama yang menekuni bidang teknologi informasi, harus dipersiapkan bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta, pengembang, dan penentu arah pemanfaatannya.

Mereka perlu memahami cara kerja teknologi sekaligus persoalan etika, privasi, keadilan, dan tanggung jawab yang menyertainya.

AI dapat membantu manusia menemukan pola, mengolah data, bahkan menghasilkan gagasan. Namun, keputusan mengenai apa yang layak dilakukan, siapa yang memperoleh manfaat, dan risiko apa yang harus dihindari tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

“Kecanggihan alat tidak otomatis membuat penggunanya bijaksana,” tulis Agus.

Karena itu, pendidikan saintis masa depan perlu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan spiritual tidak sekadar diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui kesadaran tentang makna, amanah, dan tanggung jawab dalam setiap pekerjaan.

Agus menekankan, keberhasilan lulusan tidak semata-mata diukur dari nilai akademik, jabatan, atau pengakuan profesional. Kejujuran dalam proses dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat juga menjadi ukuran penting.

Kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional harus menjadi satu kesatuan dalam pembentukan lulusan FST.

Riset Berdampak dan Reputasi Internasional
Untuk mewujudkan visi tersebut, Agus menekankan pentingnya langkah konkret dalam pengembangan fakultas.

Upaya itu meliputi penguatan mutu pembelajaran berbasis luaran, peningkatan kualitas penelitian berdampak, kolaborasi lintas disiplin, perluasan kemitraan dengan dunia industri, serta sertifikasi kompetensi mahasiswa.

Pengembangan program studi dan laboratorium juga harus mempertimbangkan kebutuhan masa depan, bukan sekadar mengikuti tren. Sementara itu, publikasi bereputasi dan kerja sama internasional perlu dibangun melalui kualitas karya, konsistensi penelitian, serta kontribusi akademik yang diakui.

Menurut Agus, reputasi internasional tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering nama institusi dikenal, tetapi juga oleh seberapa berarti kontribusinya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

“Reputasi internasional bukan hanya tentang seberapa sering nama institusi disebut, tetapi juga tentang seberapa berarti kontribusinya bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” tulisnya.

Di sisi lain, FST memiliki peluang menjadikan kampus sebagai ruang praktik integrasi ilmu dan nilai melalui gerakan pengurangan sampah, penghematan energi dan air, pengembangan riset berkelanjutan, serta pembiasaan perilaku ramah lingkungan.

Upaya tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup disampaikan melalui diskusi ilmiah atau ceramah keagamaan. Nilai-nilai harus diwujudkan dalam kebiasaan, sedangkan pengetahuan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Ilmu Harus Memperbaiki Kehidupan

Memperingati Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Malang, Agus berharap FST terus memperkuat perannya sebagai fakultas yang menghasilkan ilmu berkualitas, melahirkan inovasi yang bermanfaat, serta mendidik generasi yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Keunggulan akademik dan reputasi internasional tetap menjadi bagian penting dari pengembangan fakultas. Namun, keduanya harus disertai kepedulian terhadap manusia dan lingkungan.

Agus mengajak sivitas akademika untuk terus mempertanyakan dampak nyata dari ilmu dan teknologi yang dikembangkan. Sebab, kemajuan institusi tidak hanya tercermin dari fasilitas laboratorium, banyaknya publikasi, atau tingginya peringkat akademik.

“Apakah ilmu yang kita kembangkan membuat kehidupan menjadi lebih baik? Apakah teknologi yang kita hasilkan membantu manusia, bukan justru memperbesar persoalan?” demikian pertanyaan reflektif yang diajukannya.

Ia menegaskan, sains bukan sekadar tentang seberapa jauh manusia mampu memahami alam, tetapi juga seberapa bijak manusia menggunakan pengetahuannya.

Nilai-nilai Islam memberikan arah agar ilmu tetap berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan, sementara teknologi menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Di usia ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, FST diharapkan terus tumbuh menjadi tempat lahirnya ilmu yang mencerahkan, inovasi yang memakmurkan, dan generasi yang memiliki keluasan pengetahuan sekaligus kesadaran mendalam tentang tanggung jawab kepada Allah SWT, sesama manusia, dan alam semesta.( Eno).